“Kapten Hesti”
Oleh : Pakde Pudja.
Aku sudah mulai menyenangi pekerjaanku menjadi pilot. Aku
kapten “Margareta Wono Saputro”. Kalau tidak menerbangi hutan belantara dan
melintas puncak puncak pegunungan tengah, kerjaku paling rekreasi di Danau
Sentani, atau hanya istirahat di mess. Aku menerbangkan pesawat dari maskapai
“SMAC”. Aku terbang ke pelosok Papua, mendrop logistik, mengangkut penumpang. Aku jadi teringat sebuah buku yang kuambil di
laci meja papa, di kamar tidurnya. Aku biasa tidur di kamar papa bila pulang ke
BSD. Buku itu sebuah buku Agenda multi tahun, aku ambil yang merupakan tahun tahun
awal papa kenal mama sampai aku lahir. Aku baca terkadang tersenyum, kadang
sedih, kadang tertawa. Papaku sangat rapi catatan hariannya di Agenda. Diantara
catatannya aku rangkum seperti berikut.
Aku sering teringat dengan pertemuan ku pertama kalinya.
Saat itu aku transit di Ujung Pandang sekarang lebih dikenal Makassar, tepatnya
di Bandara Internasional Hasanuddin, kala mendengar lagunya Alfian, Senja di
Kaimana di sound sistem bandara.
Senja di Kaimana, kan kuingat selalu senja indah senja di
Kaimana.
Seiring surya meredupkan sinar di kau datang ke hati
berdebar.
Kau usapkan tangan halus mulus, ke luka yang parah penuh
debu.
Senja di Kaimana kan kuingat slalu, dalam sukma sampai akhir masa.
Ya kira kira begitulah liriknya. Hatiku berdebar lagi seperti saat itu, dikala dia duduk di sebelah ku. Bibirnya yang seksi, kulit eksotik perpaduan Manado – Papua, hidung mancung, rambut kribo. Dia kala itu mau berangkat ke Curug Tangerang Banten, akan mengikuti sekolah pilot, di sekolah pilot terbesar di Tanah Air, PLP, sekarang dikenal dengan STPI Curug. Namanya Hesti Ashari.
Kenangan itu sudah lima tahun berlalu, dikala aku juga mau kembali ke kampusku di Salemba Raya. Aku mahasiswa jaket kuning, sekarang kampus utamanya pindah ke Depok Jawa Barat. Ketika itu kuberanikan diriku untuk berkenalan. “Selamat Siang Nona, mau pergi kemanakah, aku Jumhara, boleh kita kenalan” sapaku. Dia menjawab dengan sopan, sesopan pakaiannya, dengan kemeja dan celana jean biru, dimasukkan lagi bajunya. “Aku Hesti, Hesti Ashari. Aku mau ke Curug, ikut sekolah pilot kakak” jawabnya. Dia memperkenalkan ibunya. Sonya Londong. Dia di antar ibunya pergi, sedangkan ayahnya dinas di bandara Kaimana. Jadi sejak pagi dia sudah berangkat dari Kaimana, ke Sorong terus ke Ujungpandang. Rupanya aku satu penerbangan dengannya dengan pesawat Garuda ke Jakarta.
Dia anak Papua blasteran , hebat, dia berhasil masuk sekolah pilot yang terkenal ketat persaingannya. Kami boarding dan terus berpisah di Bandara Sukarno Hatta. Hari sudah mulai sore. Mereka di jemput teman ayahnya, dan aku terus ke kosan ku di Salemba Tengah. Aku naik bus Damri ke Rawamangun dari bandara.
Hari cepat berlalu, akupun lulus dan bekerja di sebuah dealer mobil terluas pangsa pasarnya di Indonesia. Aku sering bepergian urusan bisnis ke banyak kota di Indonesia, yang mungkin sudah hampir seluruh provinsi ada sub dealer perusahaan kami.
Dalam perjalanan Bisnisku ke kota Medan aku dengar lagu yang
distel sopir di taxinya. Lagunya Oh Hesti.
“Oh Hesti, mengapa wajahmu mirip dia, dia yang meninggalkan daku, pergi entah kemana” ..... Dst
Lagu ini mengingatkan aku kepada seorang gadis yang sudah lama aku kenal diperjalanan dia Hesti Ashari. Kenapa aku teringat dia ya. Badan semampainya, mata dan gigi yang sangat putih, berkumis tipis. Aku tak bia melupakannya. Sehingga saat tidurpun aku teringat pada nya. Sehingga terbayang bayang terus, bayangannya selalu menggoda benakku. Aku coba fokus kerja, tapi namanya hati, perasaan tak bisa diajak damai. Walau banyak gadis medan, kenapa hati ku tertambat padanya.
Sejak itu aku sering memperhatikan pada setiap penerbangan, nama pilot nya. Siapa tahu ada, Hesti tambatan hatiku. Oh Hesti... Mengapa hati aku sering kacau. Nyaris beberapa bulan belakangan wajahnya sering datang pergi di pelupuk mataku.
Aku duduk di Lounge Garuda Bandara Ngurah Rai sore itu, aku sibuk dengan gadgetku melihat lihat WA, email ataupun medsos lainnya. Serombongan crew duduk di meja sebelahku. Dari obrolannya mereka crew yang habis berdinas dan mau kembali ke Jakarta. Sepintas kuperhatikan seorang pilot wanita. Dia kah Hesti, aku kucek kucek mataku. Ternyata benar dia Hesti. Aku dekati dan mohon ikutan bergabung, dengan ramah mereka mempersilahkan aku ikutan. Lalu aku salaman dengan Capten Hesti, “Selamat Sore Nona, apa ingat saya kah?” tanyaku dengan logat Papua. Hesti kelihatan sedikit kikuk sambil mengingat, “Iya, iya sekitar 6 tahun lebih kita bertemu kakak, kakak Jumhara kan, di Bandara Internasional Hasanudin kah?” jawabnya. “Iya kala itu nona hendak berangkat ke Curug, kita satu pesawat” lanjut ku.
Banyak aku ngobrol karena kebetulan pesawat kami cansel satu jam, karena hujan lebat di Bandara Ngurah Rai. Aku memujinya: “Dengan kostum pilot ini, nona tambah cantik hei”. “Akh kakak bisa saja. Kalau cantik tentu aku tidak jomblo kakak” jawabnya. Obrolan kami nyambung, terlebih krew yang lain yang umumnya pramugari pada pindah ke meja lain. Mungkin sudah etika mereka begitu.
Dia tinggal di Perumahan Alam Sutera, hanya dengan mamanya, karena papanya meninggal saat dia baru lulus pendidikan di Curug. Beliau di makamkan di Pemakaman Umum Tangerang. Kamipun saling tukaran kartu nama. Aku janji akan main ke rumahnya, bila dia tidak terbang. “Akh kenapa tunggu hari kakak, minggu ini aku ada kosong, silahkan datang” katanya. “Wah boleh juga, coba kakak lihat skedul dulu siapa tahu kakak ada dinas luar. Nanti kakak hubungi” kataku. Panggilan boarding untuk pesawat ku, aku pamitan ke mereka, dan berjanji akan menghubunginya.
Sejak itu kami sering ketemu. Keluarga Hesti sangat rajin ibadah, menjadikan aku malu. Aku diajak mereka ibadah bersama, demi Hesti aku jadi sering dan semangat beribadah bersama di kala hari minggu. Kami sering nonton bersama bila ada film baru, tak jauh dari rumahnya. Paling jauh sampai AEON BSD. Ibunya sangat modern, tidak pernah mau tahu urusan puterinya bila bersamaku. Namun didikan pilot memang sangat disiplin. Hesti menjadi ada di habitat yang modern tapi disiplin.
Seiring berjalannya waktu cinta kami tumbuh dengan subur. Bahkan aku pernah dikeroyok teman teman pilot yang juga naksir sama Hesti. Namun dengan tegas Hesti bilang dia boleh berteman dengan siapa saja, tapi pacar cuma satu, ya Jumhara. Siapa mau menggoda dia bilang siap akan aku ladeni. Bila perlu dia hadapi sendiri, katanya. Hesti memang seorang karateka sejak SD nya di Kaimana.
Sang pilot yang ‘bar’ nya lebih banyak dari Hesti akhirnya minta maaf dan mundur teratur. Banyak hambatan hubunganku dengan Hesti justru dari pihak keluargaku. Lama kelamaan luluh juga hati mereka dengan pendekatan ku, maupun pendekatan Hesti. Hesti memang sangat supel bergaul, walau dia tegas sebagai pilot. Dia sangat hormat ke keluargaku, terutama ayah ibuku.
Pernikahan kami dilakukan di Gereja dengan acara yang sangat khidmat. Seluruh keluarga besar ku datang, demikian juga dengan keluarga Hesti. Adik lelaki Hesti, Petrus Ashari rupanya meneruskan karier bapaknya. Dia bekerja di Bandara Utarom Kaimana, setelah mengikuti Pendidikan Teknik Radio di Balai Diklat Penerbangan Jayapura selama dua tahun. Dia tidak mau meninggalkan Kaimana, dia kasihan dengan rumah peninggalan orang tuanya tak ada yang ngurus. Itu yang mengikat kami, untuk secara berkala pulang ke Kaimana, sambil menikmati kota Senja yang semakin Asri saja.
Anak kami cuma dua, Lukas dan Margareta. Dia tumbuh sehat
dengan semakin bhineka tunggal ika di darahnya, Papua, Manado dan Jawa. Margareta
ingin seperti ibunya kalau besar nanti mau sekolah pilot, sedangkan Lukas mau
meneruskan bisnis keluarga. Sehingga dia akan belajar Ekonomi di Jakarta, yang
sangat banyak pilihan. Ayah dan ibunya mendukung semua kemauannya.
**#**
Waktu sangat cepat berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Margareta baru saja lulus sekolah pilot di New Zealand, dia mendapat beasiswa dari dana Otsus Pemda Papua. Kelulusannya di New Zealand, mama dan Oma datang tapi kakakku Lukas tidak bisa meninggalkan tugasnya. Sesampainya di Tanah air aku -Margareta-langsung ziarah ke makan opaku di Pemakaman Umum Tangerang, seminggu kemudian aku mau nyekar ke makam papa di Magelang.
Papaku sudah meninggal ikut dalam kecelakaan, di Teluk Kaimana. Kala itu almarhum ada bisnis dari kantornya di kota Sorong, dan Adik mama menikah di Kaimana. Ayahku dari Sorong naik pesawat ke Kaimana menghadiri pernikahan Om ku. Ayah ikut dalam kecelakaan pesawat Merpati di Perairan Kaimana, ini tahun ke tujuh kecelakaan itu. Di nisan pusaranya tegas tertulis, Jumhara Wono Saputro SE Ak. Nama itu kupakai di belakang namaku: Margareta Wono Saputro, dan kakakku Lukas Wono Saputro.
Aku sempat merenung dalam, di rumah kakekku di lintas Magelang Semarang, daerah Secang. Dari sana terlihat hamparan kebun teh, di kejauhan candi Borobudur menjulang dengan megahnya, dan beberapa puncak gunung, dengan indah nya. Aku ditemani dua janda cantik saat ziarah makam papa. Mereka itu oma dan mamaku. Mamaku sudah memutuskan tidak akan menikah lagi, dan sudah kembali menjadi pilot lagi, Kapten Hesti. Aku sering ledek mamaku, kapten yang tak pernah naik pangkat. Demikian juga aku... Ha ha ha haiii.
Abangku Lukas meneruskan usaha yang telah dirintis ayah menjelang pensiunnya di perusahaan otomotif terbesar. Beliau telah diberikan sebuah sub keagenan di kota Solo dan Sorong. Itu perusahaan keluarga kami. Sekarang abangku yang mengurusnya, sampai sampai dia lupa menikah. Mungkin saking ayik dan repot dalam kerjanya.
Hatiku cukup gelisah saat harus berpisah dengan mama dan omaku. Aku akan berkarier di sebuah maskapai penerbangan “SMAC” yang operasionalnya membelah pedalaman Papua. Kulakukan sebagai tanda terima kasih ku ke Tanah Papua dan Pemda Papua yang menyekolahkan aku. Aku mendrop logistik ke pedalaman Papua. Aku bisa berbakti di tanah kelahiran opa dan mamaku. Aku bisa sesekali mampir ke kotaku leluhurku kota Senja, Kaimana. Juga bisa sesekali ke rumah keluarga Oma di Minahasa sana.
Aku sangat bangga duduk di kockpit menyaksikan keindahan bumi cendrawasih, sorga kecil yang jatuh ke bumi. Hampir semua kota di Papua sudah kudarati, dari kota Provinsi sampai ke distrik, atau kecamatan. Dari jenis landasan beraspal, landasan berbatu, landasan tanah hingga landasan rumput, sudah kudarati.
Setelah empat tahun menjadi pilot lagi, sehabis berhenti kerja ketika mendampingi papa, mama memutuskan untuk pulang kampung. Dia mau tinggal di kampung ayah, sehingga dekat dengan makam ayah kami. Mama membuka sebuah cafe dengan menu masakan Manado, Papua dan Jawa, serta beraneka minuman dan jus. Diberi nama “Cafe Senja di Kaimana”.
Cafe mama cukup ramai sebagai tempat istirahat kendaraan yang melintas Yogyakarta – Semarang lewat Magelang. Mama ditemani oma, dan beberapa sepupuku dari ayah. Cafe nya cukup ramai. Tempat itu tempat pertistirahatan aku kalau lagi cuti terbang, kalau bukan di BSD.
Seperti pagi itu aku menikmati udara sejuk Secang, kabut
turun menambah sejuk pagi itu. Aku ingin rembugan dengan mamaku, karena dalam liburan
ku kali ini pacarku akan datang untuk langsung bilang niatnya akan melamarku ke
mama. Oma sudah aku boyong ke Secang dari Tangerang. Calonku seorang pilot juga
berkebangsaan Canada, yang menjadi pilot di maskapai Susi Air. Kami sama sama
terbang di Papua. Semoga mamaku berkenan semua rencanaku berjalan lancar.
Abangku mudah mudahan tak keberatan aku dahului dia. Dia sudah janji pulang kali
ini.
Catatan: cerita ini fiktif belaka, hasil lamunan penulis.
Nama perusahaan mohon maaf di pakai di tulisan ini. Tks (penulis)
Pakdepudja@Puri_Gading, 25/07/2023.