Senin, 28 Agustus 2023

Cerpen 3. "KAPTEN HESTI"


“Kapten Hesti”

 

Oleh : Pakde Pudja.

 

Aku sudah mulai menyenangi pekerjaanku menjadi pilot. Aku kapten “Margareta Wono Saputro”. Kalau tidak menerbangi hutan belantara dan melintas puncak puncak pegunungan tengah, kerjaku paling rekreasi di Danau Sentani, atau hanya istirahat di mess. Aku menerbangkan pesawat dari maskapai “SMAC”. Aku terbang ke pelosok Papua, mendrop logistik, mengangkut penumpang.  Aku jadi teringat sebuah buku yang kuambil di laci meja papa, di kamar tidurnya. Aku biasa tidur di kamar papa bila pulang ke BSD. Buku itu sebuah buku Agenda multi tahun, aku ambil yang merupakan tahun tahun awal papa kenal mama sampai aku lahir. Aku baca terkadang tersenyum, kadang sedih, kadang tertawa. Papaku sangat rapi catatan hariannya di Agenda. Diantara catatannya aku rangkum seperti berikut.

Aku sering teringat dengan pertemuan ku pertama kalinya. Saat itu aku transit di Ujung Pandang sekarang lebih dikenal Makassar, tepatnya di Bandara Internasional Hasanuddin, kala mendengar lagunya Alfian, Senja di Kaimana di sound sistem bandara.

Senja di Kaimana, kan kuingat selalu senja indah senja di Kaimana.

Seiring surya meredupkan sinar di kau datang ke hati berdebar.

Kau usapkan tangan halus mulus, ke luka yang parah penuh debu.

Senja di Kaimana kan kuingat slalu, dalam sukma sampai akhir masa.

Ya kira kira begitulah liriknya. Hatiku berdebar lagi seperti saat itu, dikala dia duduk di sebelah ku. Bibirnya yang seksi, kulit eksotik perpaduan Manado – Papua, hidung mancung, rambut kribo. Dia kala itu mau berangkat ke Curug Tangerang Banten, akan mengikuti sekolah pilot, di sekolah pilot terbesar di Tanah Air, PLP, sekarang dikenal dengan STPI Curug. Namanya Hesti Ashari.

Kenangan itu sudah lima tahun berlalu, dikala aku juga mau kembali ke kampusku di Salemba Raya. Aku mahasiswa jaket kuning, sekarang kampus utamanya pindah ke Depok Jawa Barat. Ketika itu kuberanikan diriku untuk berkenalan. “Selamat Siang Nona, mau pergi kemanakah, aku Jumhara, boleh kita kenalan” sapaku. Dia menjawab dengan sopan, sesopan pakaiannya, dengan kemeja dan celana jean biru, dimasukkan lagi bajunya. “Aku Hesti, Hesti Ashari. Aku mau ke Curug, ikut sekolah pilot kakak” jawabnya. Dia memperkenalkan ibunya. Sonya Londong. Dia di antar ibunya pergi, sedangkan ayahnya dinas di bandara Kaimana. Jadi sejak pagi dia sudah berangkat dari Kaimana, ke Sorong terus ke Ujungpandang. Rupanya aku satu penerbangan dengannya dengan pesawat Garuda ke Jakarta.

Dia anak Papua blasteran , hebat, dia berhasil masuk sekolah pilot yang terkenal ketat persaingannya. Kami boarding dan terus berpisah di Bandara Sukarno Hatta. Hari sudah mulai sore. Mereka di jemput teman ayahnya, dan aku terus ke kosan ku di Salemba Tengah. Aku naik bus Damri ke Rawamangun dari bandara.

Hari cepat berlalu, akupun lulus dan bekerja di sebuah dealer mobil terluas pangsa pasarnya di Indonesia. Aku sering bepergian urusan bisnis ke banyak kota di Indonesia, yang mungkin sudah hampir seluruh provinsi ada sub dealer perusahaan kami.

Dalam perjalanan Bisnisku ke kota Medan aku dengar lagu yang distel sopir di taxinya. Lagunya Oh Hesti.

 “Oh Hesti, mengapa wajahmu mirip dia, dia yang meninggalkan daku, pergi entah kemana” ..... Dst

Lagu ini mengingatkan aku kepada seorang gadis yang sudah lama aku kenal diperjalanan dia Hesti Ashari. Kenapa aku teringat dia ya. Badan semampainya, mata dan gigi yang sangat putih, berkumis tipis. Aku tak bia melupakannya. Sehingga saat tidurpun aku teringat pada nya. Sehingga terbayang bayang terus, bayangannya selalu menggoda benakku. Aku coba fokus kerja, tapi namanya hati, perasaan tak bisa diajak damai. Walau banyak gadis medan, kenapa hati ku tertambat padanya.

Sejak itu aku sering memperhatikan pada setiap penerbangan, nama pilot nya. Siapa tahu ada, Hesti tambatan hatiku. Oh Hesti... Mengapa hati aku sering kacau. Nyaris beberapa bulan belakangan wajahnya sering datang pergi di pelupuk mataku.

Aku duduk di Lounge Garuda Bandara Ngurah Rai sore itu, aku sibuk dengan gadgetku melihat lihat WA, email ataupun medsos lainnya. Serombongan crew duduk di meja sebelahku. Dari obrolannya mereka crew yang habis berdinas dan mau kembali ke Jakarta. Sepintas kuperhatikan seorang pilot wanita. Dia kah Hesti, aku kucek kucek mataku. Ternyata benar dia Hesti. Aku dekati dan mohon ikutan bergabung, dengan ramah mereka mempersilahkan aku ikutan. Lalu aku salaman dengan Capten Hesti, “Selamat Sore Nona, apa ingat saya kah?” tanyaku dengan logat Papua. Hesti kelihatan sedikit kikuk sambil mengingat, “Iya, iya sekitar 6 tahun lebih kita bertemu kakak, kakak Jumhara kan, di Bandara Internasional Hasanudin kah?” jawabnya. “Iya kala itu nona hendak berangkat ke Curug, kita satu pesawat” lanjut ku.

Banyak aku ngobrol karena kebetulan pesawat kami cansel satu jam, karena hujan lebat di Bandara Ngurah Rai. Aku memujinya: “Dengan kostum pilot ini, nona tambah cantik hei”. “Akh kakak bisa saja. Kalau cantik tentu aku tidak jomblo kakak” jawabnya. Obrolan kami nyambung, terlebih krew yang lain yang umumnya pramugari pada pindah ke meja lain. Mungkin sudah etika mereka begitu.

Dia tinggal di Perumahan Alam Sutera, hanya dengan mamanya, karena papanya meninggal saat dia baru lulus pendidikan di Curug. Beliau di makamkan di Pemakaman Umum Tangerang. Kamipun saling tukaran  kartu nama. Aku janji akan main ke rumahnya, bila dia tidak terbang. “Akh kenapa tunggu hari kakak, minggu ini aku ada kosong, silahkan datang” katanya. “Wah boleh juga, coba kakak lihat skedul dulu siapa tahu kakak ada dinas luar. Nanti kakak hubungi” kataku.  Panggilan boarding untuk pesawat ku, aku pamitan ke mereka, dan berjanji akan menghubunginya.

Sejak itu kami sering ketemu. Keluarga Hesti sangat rajin ibadah, menjadikan aku malu. Aku diajak mereka ibadah bersama, demi Hesti aku jadi sering dan semangat beribadah bersama di kala hari minggu. Kami sering nonton bersama bila ada film baru, tak jauh dari rumahnya. Paling jauh sampai AEON BSD. Ibunya sangat modern, tidak pernah mau tahu urusan puterinya bila bersamaku. Namun didikan pilot memang sangat disiplin.  Hesti menjadi ada di habitat yang modern tapi disiplin.

Seiring berjalannya waktu cinta kami tumbuh dengan subur. Bahkan aku pernah dikeroyok teman teman pilot yang juga naksir sama Hesti. Namun dengan tegas Hesti bilang dia boleh berteman dengan siapa saja, tapi pacar cuma satu, ya Jumhara. Siapa mau menggoda dia bilang siap akan aku ladeni. Bila perlu dia hadapi sendiri, katanya. Hesti memang seorang karateka sejak SD nya di Kaimana.

Sang pilot yang ‘bar’ nya lebih banyak dari Hesti akhirnya minta maaf dan mundur teratur. Banyak hambatan hubunganku dengan Hesti justru dari pihak keluargaku. Lama kelamaan luluh juga hati mereka dengan pendekatan ku, maupun pendekatan Hesti. Hesti memang sangat supel bergaul, walau dia tegas sebagai pilot. Dia sangat hormat ke keluargaku, terutama ayah ibuku.

Pernikahan kami dilakukan di Gereja dengan acara yang sangat khidmat. Seluruh keluarga besar ku datang, demikian juga dengan keluarga Hesti. Adik lelaki Hesti, Petrus Ashari rupanya meneruskan karier bapaknya. Dia bekerja di Bandara Utarom Kaimana, setelah mengikuti Pendidikan Teknik Radio di Balai Diklat Penerbangan Jayapura selama dua tahun. Dia tidak mau meninggalkan Kaimana, dia kasihan dengan rumah peninggalan orang tuanya tak ada yang ngurus. Itu yang mengikat kami, untuk secara berkala pulang ke Kaimana, sambil menikmati kota Senja yang semakin Asri saja.

Anak kami cuma dua, Lukas dan Margareta. Dia tumbuh sehat dengan semakin bhineka tunggal ika di darahnya, Papua, Manado dan Jawa. Margareta ingin seperti ibunya kalau besar nanti mau sekolah pilot, sedangkan Lukas mau meneruskan bisnis keluarga. Sehingga dia akan belajar Ekonomi di Jakarta, yang sangat banyak pilihan. Ayah dan ibunya mendukung semua kemauannya.

**#**

Waktu sangat cepat berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Margareta baru saja lulus sekolah pilot di New Zealand, dia mendapat beasiswa dari dana Otsus Pemda Papua. Kelulusannya di New Zealand, mama dan Oma  datang tapi kakakku Lukas tidak bisa meninggalkan tugasnya.  Sesampainya di Tanah air aku -Margareta-langsung ziarah ke makan opaku di Pemakaman Umum Tangerang, seminggu kemudian aku mau nyekar ke makam papa di Magelang.

Papaku sudah meninggal ikut dalam kecelakaan, di Teluk Kaimana. Kala itu almarhum ada bisnis dari kantornya di kota Sorong, dan Adik mama menikah di Kaimana. Ayahku dari Sorong naik pesawat ke Kaimana menghadiri pernikahan Om ku. Ayah ikut dalam kecelakaan pesawat Merpati di Perairan Kaimana, ini tahun ke tujuh kecelakaan itu. Di nisan pusaranya tegas tertulis, Jumhara Wono Saputro SE Ak. Nama itu kupakai di belakang namaku: Margareta Wono Saputro, dan kakakku Lukas Wono Saputro.

Aku sempat merenung dalam, di rumah kakekku di lintas Magelang Semarang, daerah Secang. Dari sana terlihat hamparan kebun teh, di kejauhan candi Borobudur menjulang dengan megahnya, dan beberapa puncak gunung, dengan indah nya. Aku ditemani dua janda cantik saat ziarah makam papa. Mereka itu oma dan mamaku. Mamaku sudah memutuskan tidak akan menikah lagi, dan sudah  kembali menjadi pilot lagi, Kapten Hesti. Aku sering ledek mamaku, kapten yang tak pernah naik pangkat. Demikian juga aku... Ha ha ha haiii.

Abangku Lukas meneruskan usaha yang telah dirintis ayah menjelang pensiunnya di perusahaan otomotif terbesar. Beliau telah diberikan sebuah sub keagenan di kota Solo dan Sorong. Itu perusahaan keluarga kami. Sekarang abangku yang mengurusnya, sampai sampai dia lupa menikah. Mungkin saking ayik dan repot dalam kerjanya.

Hatiku cukup gelisah saat harus berpisah dengan mama dan omaku. Aku akan berkarier di sebuah maskapai penerbangan “SMAC” yang operasionalnya membelah pedalaman Papua. Kulakukan sebagai tanda terima kasih ku ke Tanah Papua dan Pemda Papua yang menyekolahkan aku. Aku  mendrop logistik ke pedalaman Papua. Aku bisa berbakti di tanah kelahiran opa dan mamaku. Aku bisa sesekali mampir ke kotaku leluhurku kota Senja, Kaimana. Juga bisa sesekali ke rumah keluarga Oma di Minahasa sana.

Aku sangat bangga duduk di kockpit menyaksikan keindahan bumi cendrawasih, sorga kecil yang jatuh  ke bumi. Hampir semua kota di Papua sudah kudarati, dari kota Provinsi sampai ke distrik, atau kecamatan. Dari jenis landasan beraspal, landasan berbatu, landasan tanah hingga landasan rumput, sudah kudarati.

Setelah empat tahun menjadi pilot lagi, sehabis berhenti kerja ketika mendampingi papa, mama memutuskan untuk pulang kampung. Dia mau tinggal di kampung ayah, sehingga dekat dengan makam ayah kami. Mama membuka sebuah cafe dengan menu masakan Manado, Papua dan Jawa, serta beraneka minuman dan jus. Diberi nama “Cafe Senja di Kaimana”.

Cafe mama cukup ramai sebagai tempat istirahat kendaraan yang melintas Yogyakarta – Semarang lewat Magelang. Mama ditemani oma, dan beberapa sepupuku dari ayah. Cafe nya cukup ramai. Tempat itu tempat pertistirahatan aku kalau lagi cuti terbang, kalau bukan di BSD.

Seperti pagi itu aku menikmati udara sejuk Secang, kabut turun menambah sejuk pagi itu. Aku ingin rembugan dengan mamaku, karena dalam liburan ku kali ini pacarku akan datang untuk langsung bilang niatnya akan melamarku ke mama. Oma sudah aku boyong ke Secang dari Tangerang. Calonku seorang pilot juga berkebangsaan Canada, yang menjadi pilot di maskapai Susi Air. Kami sama sama terbang di Papua. Semoga mamaku berkenan semua rencanaku berjalan lancar. Abangku mudah mudahan tak keberatan aku dahului dia. Dia sudah janji pulang kali ini.

 

Catatan: cerita ini fiktif belaka, hasil lamunan penulis. Nama perusahaan mohon maaf di pakai di tulisan ini. Tks (penulis)

Pakdepudja@Puri_Gading, 25/07/2023.

 

Sabtu, 26 Agustus 2023

Cerpen 2. PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN"

 

Cerpen

 

“PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN”

 

Oleh: Pakde Pudja.


 

Awan tipis menghiasi langit membuat keindahan siang itu di sebuah perkampungan di Solok lebih terik. Anak anak Monang dan anak anak Gunawan masih main layang layang. Setelah seharian sebelumnya mereka ke Danau Singkarak berekreasi sambil mencari ikan biliah. Monang geleng  geleng kepala melihat dua anak lelakinya berlari menarik benang layang layang bersama dua anak gadis Gunawan. Monang ingat dengan kampungnya di Siantar sana. Dia ingat dulu juga seperti anaknya.

Rambut mereka satu dua sudah putih, Gunawan selalu berpeci menambah religius dia yang memang alim. Monang dan keluarganya disambut hangat keluarga Latifah, yang sudah kenal mereka sejak masih di Jl Sentiong. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri saja.

Latifah dan Gunawan saat ini hanya menjadi konsultan. Latifah sesekali masih ke kantor memeriksa pembukuan keuangan bila ada masalah saja, namun Gunawan rutin berkeliling ke beberapa pabrik dan service center di Padang selalu memastikan mesin berjalan baik.  Mereka lebih banyak di Solok mengawasi dua putri mereka. Sedangkan Monang masih punya karier yang bagus di Biro Hukum Kemenlu, dan Siwi, menjadi dosen di Fakultas Sastera Universitas Sriwijaya. Dia lebih banyak membimbing mahasiswa nya. Sehingga dia bisa bolak balik Kertapati – Pagar Alam, sambil mengawasi pabrik kopinya yang memasok kopi luwak ke beberapa cafe di Palembang dan Jakarta.

Kedua keluarga itu terlihat masih sangat solid saling membantu baik ide maupun permodalan sehingga mereka bisa maju bersama. Mereka rasakan masalah sulit saat kuliah. Rumah numpang di rumah Gunawan, listrik dan air dibayar patungan. Saat perekonomian Gunawan anjlok Latifah sudah mulai kerja sehingga dia lebih banyak membantu. Siwi yang paling lancar dananya karena orang tuanya petani kopi yang lumayan berhasil kala itu. Monang membiayai diri sendiri sambil ‘nyalo’ kerennya brooker tiket bioskop dan tiket bola buat tambahan. Itupun sering di bantu Siwi. Itu kisah saat mereka kuliah.

Saat itu mereka sedang menikmati kopi sore dengan pisang goreng di beranda Rumah Gadang keluarga Latifah, sebuah taxi masuk halaman rumahnya. Anindia turun dari taxi, langsung salaman dengan bundanya, ayah dan ke dua tamunya. Dia mengabarkan bahwa dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Wah jadi penerus kita dong kata Monang sambil memeluk erat Anindia. Sore itupun menjadi lebih ramai, nenek kakek Anindia ikutan nimbrung karena senang mendengar berita itu. Monang pun bercerita tentang persahabatan mereka sejak pertama kali mengikuti Ospek di Universitas Indonesia, hingga saat ini.

**#**

Aku Latifah, baru saja bubaran rapat konsolidasi keuangan perusahaan di Kantorku di kawasan industri Cikarang. Hari masih tanggung, belum begitu sore. Aku teringat dengan Gunawan temanku yang banyak membantu aku yang rumahnya masih kutempatu. Sudah dua tahun hampir aku tak bertemu dengannya karena kesibukanku menyusun skripsi dan meniti awal karierku sebagai seorang akuntan di perusahaan multinasional. Karierku lumayan melesat, tetapi aku tetap Latifah, yang rapuh karena memikirkan Gunawan, orang yang telah mensupport aku selama kuliah, bahkan dia sebagai sponsor aku lebih dari tiga tahun. Kami bertiga tinggal di rumahnya di Gang Sentiong, cukup dekat dengan kampusku di Jl Salemba 4. Kami bertiga, aku Latifah, Monang dan Siwi, serta sang empunya rumah Gunawan. Perekonomian keluargaku kurang baik saat itu, ayah pegawai negeri sering sakit sakitan dan ibu ku hanya guru SD di kampung, jelas hidup pas pasan ketambahan ada dua adikku juga butuh biaya.

Aku lupa lupa ingat dengan kampungnya tapi aku ingat tak jauh dari stasiun Kereta Api. Rumahnya tak jauh dari penyosohan gabah atau pemggilingan padi “Makmur Sejahtera” (MS).  Aku berhenti di pinggir jalan yang masuk kampung itu. Dengan pakaian kerjaku banyak yang menyangka aku dari sebuah perusahaan pengembang perumahan. Mereka pada menawarkan tanah untuk dibebaskan. Aku bertanya ke salah satunya, dumana lokasi Pabrik Penggilingan padi MS. Mereka malah menawarkan pabrik tersebut, karena sang empunya tak berpengalaman mengoperasikannya, sehingga saat ini terlantar tidak beroperasi. Mereka ku ajak naik ke mobilku menemui pemiliknya. Pak Paulus namanya, dia mengatakan tidak biasa mengoperasikan nya hingga merugi. Dia tak sengaja membeli nya, membelinya karena sebagai jaminan utang. Padahal hanya 200 juta saat itu. Aku sempat menanyakan bahwa itu pabrik dan tanah masih atas nama pemilik lama Guan Gunawan. “Dari pada merugi kenapa tidak dijual saja” kataku kepada Pak Paulus.

Diapun keceplosan dia akan jual segera kurang kurang dikit juga dilepasnya. Pak Paulus banyak bercerita bangkrut nya pemilik lama yang merupakan saingan bisnisnya di kampung itu. Dia iri dengan luasnya pergaulan Pak Guan sampai kalangan pemerintah, bahkan ikut rapat bila terjadi krisis atau gejolak pasar beras.

Aku minta nomor hp yang bisa ku hubungi kalau ada pembeli. Aku berjanji segera mengontaknya. Bila kuingat cerita Wawan, Gunawan, pabrik itu kebanggaan keluarganya.  Keluarganya saat itu pernah menjadi saudagar beras nasional, yang ikut Menstabilkan stok nasional sejak zaman orba.

Sampai di rumah ku lihat Monang lagi bersenandung, aku tebak pasti hatinya lagi senang. “Ada apa Nang tumben kau bernyanyi lagi” tanyaku. Dia dapat kabar bahwa dirinya termasuk Gunawan mendapat surat untuk segera maju ujian, revisi skripsi tinggal revisi sedikit, draft skripsi Gunawan belum bisa kuambil, karena belum menyelesaikan administrasi yang tertinggal, kata Monang. Aku minta diantar ke kampus besok pagi. Aku mau beresin administrasi kuliahnya Gunawan. Karena dia kuliahku lancar, dan bisa segera lulus. Aku lulus dalam 3 tahun setengah. Mereka masuk semester sepuluh. Monang dan Gunawan yang tertinggal. Siwi semester lalu sudah di wisuda dari Fakultas Sastra. Gunawan di Teknik Mesin, sedang Monang di Fakultas Hukum. Kami berempat sangat solid, tapi banyak kendala kuliah kami. Maklum orang kampung kalah modal hanya menang semangat.

Setelah menyelesaikan administrasi Gunawan, draft skripsi nya pun sudah kuambil. Monang mengajakku mampir di kantin Fakultas. Kami bernostalgia makan nasi uduk dan kopi susu di kantin sambil aku susun rencana bersama Monang. Bagaimana merayu Gunawan untuk segera ujian, dia pasti siap. Dia Mahasiswa yang cerdas. Harusnya dia bareng aku di wisuda, namun masalah keluarga yang membuatnya melupakan kuliahnya yang sudah jalan skripsi, tinggal finishing. Monang setuju termasuk akan kuutus ke Karawang nego penggilingan padi MS. Dia kalau masalah bisnis lancar asal ada ‘epeng’ katanya. Aku kasih ancer ancer harga 175 Juta, terserah dia bila bisa kurang itu keuntungan dia. “Akh itu masalah kecil, mudah kubereskan” kata Monang.

Monang tetap merahasiakan lokasi kerja Gunawan ke Latifah. Dia akan datangi siang itu setelah ke pengetikan revisi skripsinya dulu di Jl Pramuka. Dia bilang padaku nanti malam aku akan dikabari di rumah. Aku pamitan untuk ke kantor.  Kami berempat kaya saudara saling bantu. Kebetulan aku lulus duluan, Siwi baru semester lalu, kayanya masih betah di kampung nya di Pagar Alam atau Kertapati. Monang dan Aku masih menghuni rumah Gunawan. Mobil Suzuki Carry nya masih terparkir rapi di garasi, semenjak aku dapat mobil kantor, sesekali dipakai Monang. Tapi aku curiga kok tetap tok cer ya, Monang tak pernah minta uang service. Jangan jangan Gunawan kerja di Service Resmi Suzuki ya. Dia pernah praktek kerja lapangan disana. Akh aku tak mau mencarinya biar ku percaya kan ke Monang. Soal mesin Gunawan memang jago, sehingga tak heran bila mobilnya masih bagus dan tokcer.

Hari itu rupanya kami harus dinas luar ke Bogor. Aku sudah ditunggu, karena datang agak siangan. Kami langsung berangkat, untuk peninjauan dan pemeriksaan masalah keuangan di kantor cabang di Ciawi Bogor. Aku memang tak kuat dengan panas di jalan. Sore itu sesampainya di rumah aku langsung tidur. Aku lupa dengan janji Monang memberikan laporan. Aku terbangun sudah pk 21 an, Monang lagi asyik persiapan ujian, gladi resik presentasi. Aku duduk menunggu di ruang tamu, sambil menonton TV.

Tak lama berselang, dia tahu aku sudah bangun tidur. Dia bilang “Gunawan berterima kasih pada kamu Latifah, walau kelihatannya berat. Dia akan pulang kesini akhir pekan ini” kata Monang. Aku senang Gunawan mau kembali ke kampus demikian juga Monang, mereka akan Sarjana semuanya satu perjuangan.

Monang juga melaporkan bahwa dia sudah menghubungi Pak Petrus, maksudnya Pak Paulus di Karawang, dia berhasil nawar 175 juta kata Monang, namun dia mau memastikan bahwa barangnya tak ada yang di curi.  Aku tahu Monang pasti belum makan, sudah aku pesankan makanan lewat go food, nasi Padang Jl Kramat Raya. Aku hafal kalau dia mau ujian begini pasti nunggu nasi goreng tektek lewat.

Aku ingatkan Monang misinya harus selesai. Dia minta dibantu ongkos jalan ke Karawang, dia mau naik Kereta Api saja besok siang. Aku setuju permintaannya. Aku ingatkan 175 Juta sudah beres semua Nang, berikut surat suratnya ya. “Pasti beres lah itu” jawabnya. Pengantar pesanan makan pun sampai.

Monang segera menyiapkan minum, dia tahu aku suka teh manis. “Minumnya nona, teh manis” kata Monang. “Terimakasih bang” selorohku seperti biasa.  “Kau tahu saja aku belum makan Latifah” goda Monang. “Ya, tahulah kan sudah hampir lima tahun kita berteman” sahutku. Dan kamipun tertawa berderai, sambil membuka nasi Padang yang kupesan. Kami sangat menikmati nasi padang itu, karena ku pesan sesuai kesukaan masing masing.

Cepat sekali waktu berjalan, Monang dan Gunawan sudah lulus ujian skripsi, tinggal wisuda saja. “Akhirnya si Monang calo tiket bola telah jadi Sarjana Hukum” selorohnya. “Gunawan anak juragan beras sudah jadi tukang insinyur” lanjut Monang. Sore sehabis ujian Monang pulang menenteng dua kotak Pizza dan sebotol besar Cola. “Akh kita makan ne, ayo Latifah, Siwi, dan Gunawan” teriaknya masih di gerbang rumah. Pesta kecil itu dimulai dengan memanjatkan doa bersama dipimpin Monang. Gunawan jadi pendiam sekali sekarang, pikirku.

Malam itu aku keluar menikmati kota Jakarta hanya berdua dengan Gunawan. Aku jelaskan misiku untuk menarik aset kebanggaan keluarganya bukan untuk tujuan apa apa. Namun aku bilang aku tetap menepati janjiku, untuk tetap setia. Aset itu kebanggaan keluarga, harus dikembalikan harkat dan martabat serta marwah keluarga kita.  Keinginan papa Gunawan, Guan Gunawan harus diwujudkan yaitu agar Gunawan lulus Insinyur. Gunawan mengucapkan terimakasih kepada Latifah. Dia sangat sopan, padahal Latifah mengharap Gunawan, mbok menciumnya sesekali. Tapi semua menjaga imej, jaim.

Monang dan Gunawan memang rekan setia mereka lulus dalam minggu yang sama. Mereka diselamatkan peraturan akhir, ‘save by the bell’ dalam tinju. Mereka cukup banyak yang punya nasib sama. Walau menyandang lulusan hampir punah (DO) namun mereka bangga sebagai pasukan jaket kuning, menyandang Sarjana yang mereka impikan sejak berangkat dari kampung.

Mereka mengikuti wisuda di Balai Sidang Senayan. Mereka kelihatan sangat bahagia terutama Monang. Saat wisuda rupanya Siwi juga datang, tanpa malu malu dia mendaratkan hadiah cipika cipiki ke Monang. Jelas Monang kaget, dia tak nyangka temannya itu jatuh cinta padanya. Monangpun bersenandung. “Jatuh cinta berjuta rasanya, dipeluk, di cium aduhai rasanya...”. Siwi tetap memeluknya erat, karena itu kesempatan yang langka.

Wisuda dirayakan dengan sangat sederhana okeh mereka berempat, mereka mampir ke Rumah Makan Padang Sederhana di dekat bundaran Slipi. Mereka berempat bersuka cita hari itu. Mereka berfoto bersama Latifah memakai topi toga Gunawan dan Siwi memakai topi Monang mereka berfoto bersama. Tak disangka perkawanan mereka awet dan tetap kompak. Dan yang mereka tak sadar ada benih benih cinta tumbuh dalam persahabatan itu.

Tumben, tidak seperti biasa kali ini Monang yang membayar makan disaat makan bersama itu. “Latifah uangnya nggak laku hari ini” kata Monang. Sebagai juru bicara Monang menyampaikan kepada Gunawan bahwa asset keluarganya berupa penyosohan beras sudah kembali ke tangan Gunawan. Gunawan kaget. Kata Monang: ”Tak perlu kaget Wan, yang penting kau segera pulang hidupkan kembali pabrik itu biar jalan dan keluargamu bisa tegak kembali, ada yang diurus”. Gunawan tak menyangka temannya sangat perhatian pada Gunawan. “Nah itulah pentingnya persahabatan dan keluarga wan” celetuk Latifah. Merekapun meninggalkan rumah makan itu. Gunawan mengambil alih stir mobil Latifah, dan Monang naik Suzuki Carry bersama Siwi. Mereka berpisah setelah sehabis makan, guna merayakan wisuda mereka masing masing.

**#**

Suara deru pabrik penyosohan gabah kembali setiap hari terdengar di kampung Gunawan, yang sudah lama sepi. Penyosohan beras diurus kakak tertua Gunawan sambil mengurus ibundanya, yang sedikit kurang sehat setelah kematian suaminya. Dasar memang passion dan rezeki keluarga itu di beras, tak perlu waktu lama mereka sudah berjaya lagi. Kapasitas produksi stabil, mereka memasok beras ke beberapa pasar induk dengan lancar. Truk pengangkut gabah dan beras hilir mudik seharian, bahkan terkadang sampai malam hari.

Gunawan dan Latifah sesuai janji setia mereka, mereka menikah di kampung halaman Latifah Sumatera Barat di kampungnya yaitu Solok, yang memang sentra beras juga.  Gunawan membangun penyosohan beras dengan kapasitas menengah namun pabrik modern. Mereka sebagai pemasok beras Solok beberapa rumah makan di Padang maupun luar Padang hingga ke Jawa. Gunawan menjadi konsultan di beberapa dealer dan sentra servis mobil merk kenamaan. Sesuai dengan keakhliannya dan pengalamannya selama ini yang langka di Sumatera Barat.

 Sejak Latifah melahirkan putra pertamanya Anindia, dia pindah kerja ke Padang, kebetulan ada pembukaan cabang baru. Sekarang anaknya sudah tiga Anindia, punya dua adik wanita: Berliana, dan Cintyana. Keluarga itu sangat berbahagia. Anindia diminta neneknya di Karawang untuk sekolah disana, keluarga Latifah setuju karena anak lelaki mesti merantau. Kebetulan kakak tertua Gunawan tak ada anak, maka Anindia sudah diasuhnya seperti anak kandungnya sendiri. Gunawan di kampung Latifah aktif di Surau. Dia sudah kaya Datuk asli, dengan Bahasa Minang yang sudah mulai fasih.

Monang tak begitu lama setelah lulus, bekerja di Paris di Kedubes RI, karena dosen Pembimbing Akademis nya di angkat menjadi Duta Besar tak lama setelah mereka wisuda. Sebelum berangkat Monang dan Siwi menikah di Kertapati, Palembang kampung Siwi. Siwi juga diajak serta, kemudian Siwi diangkat menjadi pegawai perpustakaan Kedubes, sehingga mereka berdua hidup bahagia disana. Saat mau berangkat sempat aku godain Monang:”Wah semakin berkembang ne usaha brooker tiket bolanya Monang”. Dia Cuma tertawa dan bilang:”Akh Latifah, kau bisa saja. Kau modali dulu aku lah”. “Bereslah aku bekali kamu uang Franc ya”, kata Latifah. Saat itu belum ada Euro.

Sekarang Monang ditarik ke Kemenlu di Jakarta, Siwi dan dua anaknya. Siwi pindah menjadi dosen di Universitas Sriwijaya, karena saat di Paris dia sempat ambil Doktor di Sorbonne University, tentang literasi. Keluarga kecil mereka pun hidup bahagia. Monang sekali dua minggu pulang ke Palembang. Anak anak Siwi lebih suka bersama kakek neneknya di Pagar Alam, karena bisa main ke kebun keluarga yang sekarang diisi kopi dan coklat. Itu lho di kampungnya Pak Komjen Pol Susno Duaji.

Walau saling berjauhan keluarga Monang dan Gunawan selalu saling berkhabar. Mereka sahabat yang cukup hangat, suka humor dan tetap menjunjung tinggi persahabatan. Mereka sering saling berkunjung di kala liburan sekolah. Bahkan Gunawan membantu Monang menginstall kan pabrik mini pengolahan kopi di kampung mertua nya, yang sampai kini masih berproduksi baik walau sudah lebih dari lima tahun. Pabriknya sem otomatis sejak pengeringan sampai proses menjadi kopi dan pengepakannya.

Tahun ini Keluarga Monang berencana datang ke Solok untuk berlibur, saat  liburan panjang sekolah. Mereka akan bernostalgia berempat. Datang berbagi cerita suka dan duka perjalanan keluarga mereka. Mereka akan membawa kendaraan sendiri, melintasi Kerinci menyeberang Bukit Barisan. Dia akan Mencoba menikmati jembatan baru di kelok sembilan. Monang memang hobby nyopir dan berpetualang.

 

Pakdepudja@Puri_Gading, 11082023.