Cerpen
“PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN”
Oleh: Pakde Pudja.
Awan tipis menghiasi langit membuat keindahan siang itu di sebuah perkampungan di Solok lebih terik. Anak anak Monang dan anak anak Gunawan masih main layang layang. Setelah seharian sebelumnya mereka ke Danau Singkarak berekreasi sambil mencari ikan biliah. Monang geleng geleng kepala melihat dua anak lelakinya berlari menarik benang layang layang bersama dua anak gadis Gunawan. Monang ingat dengan kampungnya di Siantar sana. Dia ingat dulu juga seperti anaknya.
Rambut mereka satu dua sudah putih, Gunawan selalu berpeci menambah religius dia yang memang alim. Monang dan keluarganya disambut hangat keluarga Latifah, yang sudah kenal mereka sejak masih di Jl Sentiong. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri saja.
Latifah dan Gunawan saat ini hanya menjadi konsultan. Latifah sesekali masih ke kantor memeriksa pembukuan keuangan bila ada masalah saja, namun Gunawan rutin berkeliling ke beberapa pabrik dan service center di Padang selalu memastikan mesin berjalan baik. Mereka lebih banyak di Solok mengawasi dua putri mereka. Sedangkan Monang masih punya karier yang bagus di Biro Hukum Kemenlu, dan Siwi, menjadi dosen di Fakultas Sastera Universitas Sriwijaya. Dia lebih banyak membimbing mahasiswa nya. Sehingga dia bisa bolak balik Kertapati – Pagar Alam, sambil mengawasi pabrik kopinya yang memasok kopi luwak ke beberapa cafe di Palembang dan Jakarta.
Kedua keluarga itu terlihat masih sangat solid saling membantu baik ide maupun permodalan sehingga mereka bisa maju bersama. Mereka rasakan masalah sulit saat kuliah. Rumah numpang di rumah Gunawan, listrik dan air dibayar patungan. Saat perekonomian Gunawan anjlok Latifah sudah mulai kerja sehingga dia lebih banyak membantu. Siwi yang paling lancar dananya karena orang tuanya petani kopi yang lumayan berhasil kala itu. Monang membiayai diri sendiri sambil ‘nyalo’ kerennya brooker tiket bioskop dan tiket bola buat tambahan. Itupun sering di bantu Siwi. Itu kisah saat mereka kuliah.
Saat itu mereka sedang menikmati kopi sore dengan pisang
goreng di beranda Rumah Gadang keluarga Latifah, sebuah taxi masuk halaman
rumahnya. Anindia turun dari taxi, langsung salaman dengan bundanya, ayah dan
ke dua tamunya. Dia mengabarkan bahwa dia diterima di Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Wah jadi penerus kita dong kata Monang sambil memeluk
erat Anindia. Sore itupun menjadi lebih ramai, nenek kakek Anindia ikutan
nimbrung karena senang mendengar berita itu. Monang pun bercerita tentang persahabatan
mereka sejak pertama kali mengikuti Ospek di Universitas Indonesia, hingga saat
ini.
**#**
Aku Latifah, baru saja bubaran rapat konsolidasi keuangan perusahaan di Kantorku di kawasan industri Cikarang. Hari masih tanggung, belum begitu sore. Aku teringat dengan Gunawan temanku yang banyak membantu aku yang rumahnya masih kutempatu. Sudah dua tahun hampir aku tak bertemu dengannya karena kesibukanku menyusun skripsi dan meniti awal karierku sebagai seorang akuntan di perusahaan multinasional. Karierku lumayan melesat, tetapi aku tetap Latifah, yang rapuh karena memikirkan Gunawan, orang yang telah mensupport aku selama kuliah, bahkan dia sebagai sponsor aku lebih dari tiga tahun. Kami bertiga tinggal di rumahnya di Gang Sentiong, cukup dekat dengan kampusku di Jl Salemba 4. Kami bertiga, aku Latifah, Monang dan Siwi, serta sang empunya rumah Gunawan. Perekonomian keluargaku kurang baik saat itu, ayah pegawai negeri sering sakit sakitan dan ibu ku hanya guru SD di kampung, jelas hidup pas pasan ketambahan ada dua adikku juga butuh biaya.
Aku lupa lupa ingat dengan kampungnya tapi aku ingat tak jauh dari stasiun Kereta Api. Rumahnya tak jauh dari penyosohan gabah atau pemggilingan padi “Makmur Sejahtera” (MS). Aku berhenti di pinggir jalan yang masuk kampung itu. Dengan pakaian kerjaku banyak yang menyangka aku dari sebuah perusahaan pengembang perumahan. Mereka pada menawarkan tanah untuk dibebaskan. Aku bertanya ke salah satunya, dumana lokasi Pabrik Penggilingan padi MS. Mereka malah menawarkan pabrik tersebut, karena sang empunya tak berpengalaman mengoperasikannya, sehingga saat ini terlantar tidak beroperasi. Mereka ku ajak naik ke mobilku menemui pemiliknya. Pak Paulus namanya, dia mengatakan tidak biasa mengoperasikan nya hingga merugi. Dia tak sengaja membeli nya, membelinya karena sebagai jaminan utang. Padahal hanya 200 juta saat itu. Aku sempat menanyakan bahwa itu pabrik dan tanah masih atas nama pemilik lama Guan Gunawan. “Dari pada merugi kenapa tidak dijual saja” kataku kepada Pak Paulus.
Diapun keceplosan dia akan jual segera kurang kurang dikit juga dilepasnya. Pak Paulus banyak bercerita bangkrut nya pemilik lama yang merupakan saingan bisnisnya di kampung itu. Dia iri dengan luasnya pergaulan Pak Guan sampai kalangan pemerintah, bahkan ikut rapat bila terjadi krisis atau gejolak pasar beras.
Aku minta nomor hp yang bisa ku hubungi kalau ada pembeli. Aku berjanji segera mengontaknya. Bila kuingat cerita Wawan, Gunawan, pabrik itu kebanggaan keluarganya. Keluarganya saat itu pernah menjadi saudagar beras nasional, yang ikut Menstabilkan stok nasional sejak zaman orba.
Sampai di rumah ku lihat Monang lagi bersenandung, aku tebak pasti hatinya lagi senang. “Ada apa Nang tumben kau bernyanyi lagi” tanyaku. Dia dapat kabar bahwa dirinya termasuk Gunawan mendapat surat untuk segera maju ujian, revisi skripsi tinggal revisi sedikit, draft skripsi Gunawan belum bisa kuambil, karena belum menyelesaikan administrasi yang tertinggal, kata Monang. Aku minta diantar ke kampus besok pagi. Aku mau beresin administrasi kuliahnya Gunawan. Karena dia kuliahku lancar, dan bisa segera lulus. Aku lulus dalam 3 tahun setengah. Mereka masuk semester sepuluh. Monang dan Gunawan yang tertinggal. Siwi semester lalu sudah di wisuda dari Fakultas Sastra. Gunawan di Teknik Mesin, sedang Monang di Fakultas Hukum. Kami berempat sangat solid, tapi banyak kendala kuliah kami. Maklum orang kampung kalah modal hanya menang semangat.
Setelah menyelesaikan administrasi Gunawan, draft skripsi nya pun sudah kuambil. Monang mengajakku mampir di kantin Fakultas. Kami bernostalgia makan nasi uduk dan kopi susu di kantin sambil aku susun rencana bersama Monang. Bagaimana merayu Gunawan untuk segera ujian, dia pasti siap. Dia Mahasiswa yang cerdas. Harusnya dia bareng aku di wisuda, namun masalah keluarga yang membuatnya melupakan kuliahnya yang sudah jalan skripsi, tinggal finishing. Monang setuju termasuk akan kuutus ke Karawang nego penggilingan padi MS. Dia kalau masalah bisnis lancar asal ada ‘epeng’ katanya. Aku kasih ancer ancer harga 175 Juta, terserah dia bila bisa kurang itu keuntungan dia. “Akh itu masalah kecil, mudah kubereskan” kata Monang.
Monang tetap merahasiakan lokasi kerja Gunawan ke Latifah. Dia akan datangi siang itu setelah ke pengetikan revisi skripsinya dulu di Jl Pramuka. Dia bilang padaku nanti malam aku akan dikabari di rumah. Aku pamitan untuk ke kantor. Kami berempat kaya saudara saling bantu. Kebetulan aku lulus duluan, Siwi baru semester lalu, kayanya masih betah di kampung nya di Pagar Alam atau Kertapati. Monang dan Aku masih menghuni rumah Gunawan. Mobil Suzuki Carry nya masih terparkir rapi di garasi, semenjak aku dapat mobil kantor, sesekali dipakai Monang. Tapi aku curiga kok tetap tok cer ya, Monang tak pernah minta uang service. Jangan jangan Gunawan kerja di Service Resmi Suzuki ya. Dia pernah praktek kerja lapangan disana. Akh aku tak mau mencarinya biar ku percaya kan ke Monang. Soal mesin Gunawan memang jago, sehingga tak heran bila mobilnya masih bagus dan tokcer.
Hari itu rupanya kami harus dinas luar ke Bogor. Aku sudah ditunggu, karena datang agak siangan. Kami langsung berangkat, untuk peninjauan dan pemeriksaan masalah keuangan di kantor cabang di Ciawi Bogor. Aku memang tak kuat dengan panas di jalan. Sore itu sesampainya di rumah aku langsung tidur. Aku lupa dengan janji Monang memberikan laporan. Aku terbangun sudah pk 21 an, Monang lagi asyik persiapan ujian, gladi resik presentasi. Aku duduk menunggu di ruang tamu, sambil menonton TV.
Tak lama berselang, dia tahu aku sudah bangun tidur. Dia bilang “Gunawan berterima kasih pada kamu Latifah, walau kelihatannya berat. Dia akan pulang kesini akhir pekan ini” kata Monang. Aku senang Gunawan mau kembali ke kampus demikian juga Monang, mereka akan Sarjana semuanya satu perjuangan.
Monang juga melaporkan bahwa dia sudah menghubungi Pak Petrus, maksudnya Pak Paulus di Karawang, dia berhasil nawar 175 juta kata Monang, namun dia mau memastikan bahwa barangnya tak ada yang di curi. Aku tahu Monang pasti belum makan, sudah aku pesankan makanan lewat go food, nasi Padang Jl Kramat Raya. Aku hafal kalau dia mau ujian begini pasti nunggu nasi goreng tektek lewat.
Aku ingatkan Monang misinya harus selesai. Dia minta dibantu ongkos jalan ke Karawang, dia mau naik Kereta Api saja besok siang. Aku setuju permintaannya. Aku ingatkan 175 Juta sudah beres semua Nang, berikut surat suratnya ya. “Pasti beres lah itu” jawabnya. Pengantar pesanan makan pun sampai.
Monang segera menyiapkan minum, dia tahu aku suka teh manis. “Minumnya nona, teh manis” kata Monang. “Terimakasih bang” selorohku seperti biasa. “Kau tahu saja aku belum makan Latifah” goda Monang. “Ya, tahulah kan sudah hampir lima tahun kita berteman” sahutku. Dan kamipun tertawa berderai, sambil membuka nasi Padang yang kupesan. Kami sangat menikmati nasi padang itu, karena ku pesan sesuai kesukaan masing masing.
Cepat sekali waktu berjalan, Monang dan Gunawan sudah lulus ujian skripsi, tinggal wisuda saja. “Akhirnya si Monang calo tiket bola telah jadi Sarjana Hukum” selorohnya. “Gunawan anak juragan beras sudah jadi tukang insinyur” lanjut Monang. Sore sehabis ujian Monang pulang menenteng dua kotak Pizza dan sebotol besar Cola. “Akh kita makan ne, ayo Latifah, Siwi, dan Gunawan” teriaknya masih di gerbang rumah. Pesta kecil itu dimulai dengan memanjatkan doa bersama dipimpin Monang. Gunawan jadi pendiam sekali sekarang, pikirku.
Malam itu aku keluar menikmati kota Jakarta hanya berdua dengan Gunawan. Aku jelaskan misiku untuk menarik aset kebanggaan keluarganya bukan untuk tujuan apa apa. Namun aku bilang aku tetap menepati janjiku, untuk tetap setia. Aset itu kebanggaan keluarga, harus dikembalikan harkat dan martabat serta marwah keluarga kita. Keinginan papa Gunawan, Guan Gunawan harus diwujudkan yaitu agar Gunawan lulus Insinyur. Gunawan mengucapkan terimakasih kepada Latifah. Dia sangat sopan, padahal Latifah mengharap Gunawan, mbok menciumnya sesekali. Tapi semua menjaga imej, jaim.
Monang dan Gunawan memang rekan setia mereka lulus dalam minggu yang sama. Mereka diselamatkan peraturan akhir, ‘save by the bell’ dalam tinju. Mereka cukup banyak yang punya nasib sama. Walau menyandang lulusan hampir punah (DO) namun mereka bangga sebagai pasukan jaket kuning, menyandang Sarjana yang mereka impikan sejak berangkat dari kampung.
Mereka mengikuti wisuda di Balai Sidang Senayan. Mereka kelihatan sangat bahagia terutama Monang. Saat wisuda rupanya Siwi juga datang, tanpa malu malu dia mendaratkan hadiah cipika cipiki ke Monang. Jelas Monang kaget, dia tak nyangka temannya itu jatuh cinta padanya. Monangpun bersenandung. “Jatuh cinta berjuta rasanya, dipeluk, di cium aduhai rasanya...”. Siwi tetap memeluknya erat, karena itu kesempatan yang langka.
Wisuda dirayakan dengan sangat sederhana okeh mereka berempat, mereka mampir ke Rumah Makan Padang Sederhana di dekat bundaran Slipi. Mereka berempat bersuka cita hari itu. Mereka berfoto bersama Latifah memakai topi toga Gunawan dan Siwi memakai topi Monang mereka berfoto bersama. Tak disangka perkawanan mereka awet dan tetap kompak. Dan yang mereka tak sadar ada benih benih cinta tumbuh dalam persahabatan itu.
Tumben, tidak seperti biasa kali ini Monang yang membayar
makan disaat makan bersama itu. “Latifah uangnya nggak laku hari ini” kata
Monang. Sebagai juru bicara Monang menyampaikan kepada Gunawan bahwa asset
keluarganya berupa penyosohan beras sudah kembali ke tangan Gunawan. Gunawan
kaget. Kata Monang: ”Tak perlu kaget Wan, yang penting kau segera pulang
hidupkan kembali pabrik itu biar jalan dan keluargamu bisa tegak kembali, ada
yang diurus”. Gunawan tak menyangka temannya sangat perhatian pada Gunawan.
“Nah itulah pentingnya persahabatan dan keluarga wan” celetuk Latifah.
Merekapun meninggalkan rumah makan itu. Gunawan mengambil alih stir mobil Latifah,
dan Monang naik Suzuki Carry bersama Siwi. Mereka berpisah setelah sehabis
makan, guna merayakan wisuda mereka masing masing.
**#**
Suara deru pabrik penyosohan gabah kembali setiap hari terdengar di kampung Gunawan, yang sudah lama sepi. Penyosohan beras diurus kakak tertua Gunawan sambil mengurus ibundanya, yang sedikit kurang sehat setelah kematian suaminya. Dasar memang passion dan rezeki keluarga itu di beras, tak perlu waktu lama mereka sudah berjaya lagi. Kapasitas produksi stabil, mereka memasok beras ke beberapa pasar induk dengan lancar. Truk pengangkut gabah dan beras hilir mudik seharian, bahkan terkadang sampai malam hari.
Gunawan dan Latifah sesuai janji setia mereka, mereka menikah di kampung halaman Latifah Sumatera Barat di kampungnya yaitu Solok, yang memang sentra beras juga. Gunawan membangun penyosohan beras dengan kapasitas menengah namun pabrik modern. Mereka sebagai pemasok beras Solok beberapa rumah makan di Padang maupun luar Padang hingga ke Jawa. Gunawan menjadi konsultan di beberapa dealer dan sentra servis mobil merk kenamaan. Sesuai dengan keakhliannya dan pengalamannya selama ini yang langka di Sumatera Barat.
Sejak Latifah melahirkan putra pertamanya Anindia, dia pindah kerja ke Padang, kebetulan ada pembukaan cabang baru. Sekarang anaknya sudah tiga Anindia, punya dua adik wanita: Berliana, dan Cintyana. Keluarga itu sangat berbahagia. Anindia diminta neneknya di Karawang untuk sekolah disana, keluarga Latifah setuju karena anak lelaki mesti merantau. Kebetulan kakak tertua Gunawan tak ada anak, maka Anindia sudah diasuhnya seperti anak kandungnya sendiri. Gunawan di kampung Latifah aktif di Surau. Dia sudah kaya Datuk asli, dengan Bahasa Minang yang sudah mulai fasih.
Monang tak begitu lama setelah lulus, bekerja di Paris di Kedubes RI, karena dosen Pembimbing Akademis nya di angkat menjadi Duta Besar tak lama setelah mereka wisuda. Sebelum berangkat Monang dan Siwi menikah di Kertapati, Palembang kampung Siwi. Siwi juga diajak serta, kemudian Siwi diangkat menjadi pegawai perpustakaan Kedubes, sehingga mereka berdua hidup bahagia disana. Saat mau berangkat sempat aku godain Monang:”Wah semakin berkembang ne usaha brooker tiket bolanya Monang”. Dia Cuma tertawa dan bilang:”Akh Latifah, kau bisa saja. Kau modali dulu aku lah”. “Bereslah aku bekali kamu uang Franc ya”, kata Latifah. Saat itu belum ada Euro.
Sekarang Monang ditarik ke Kemenlu di Jakarta, Siwi dan dua anaknya. Siwi pindah menjadi dosen di Universitas Sriwijaya, karena saat di Paris dia sempat ambil Doktor di Sorbonne University, tentang literasi. Keluarga kecil mereka pun hidup bahagia. Monang sekali dua minggu pulang ke Palembang. Anak anak Siwi lebih suka bersama kakek neneknya di Pagar Alam, karena bisa main ke kebun keluarga yang sekarang diisi kopi dan coklat. Itu lho di kampungnya Pak Komjen Pol Susno Duaji.
Walau saling berjauhan keluarga Monang dan Gunawan selalu saling berkhabar. Mereka sahabat yang cukup hangat, suka humor dan tetap menjunjung tinggi persahabatan. Mereka sering saling berkunjung di kala liburan sekolah. Bahkan Gunawan membantu Monang menginstall kan pabrik mini pengolahan kopi di kampung mertua nya, yang sampai kini masih berproduksi baik walau sudah lebih dari lima tahun. Pabriknya sem otomatis sejak pengeringan sampai proses menjadi kopi dan pengepakannya.
Tahun ini Keluarga Monang berencana datang ke Solok untuk
berlibur, saat liburan panjang sekolah. Mereka akan bernostalgia berempat. Datang
berbagi cerita suka dan duka perjalanan keluarga mereka. Mereka akan membawa
kendaraan sendiri, melintasi Kerinci menyeberang Bukit Barisan. Dia akan
Mencoba menikmati jembatan baru di kelok sembilan. Monang memang hobby nyopir dan
berpetualang.
Pakdepudja@Puri_Gading, 11082023.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar