“GURUKU MEMPERMAIKAN NILAI KARENA MASALAH ASMARA”
Dia anak manja, salah saru
primadona di Kelasnya wajahnya mirip dengan bintang iklan sebuah deodorant yang
sangat terkenal saat itu. Namanya singkat saja Dewi Shinta. Memang mirip nama
dewi dalam seri pewayangan Ramayana. Orangnya sangat ramah, manis dan suka
menyapaku dengan manja. Maklum aku ngajar mereka saat masih umur 23 an tahun.
Aku masih ingat betul, baru saja
sehabis liburan semesteran, aku giliran ngajar di kelasnya. Biasa jadwalku
Jumat, jam pertama yaitu pk 1400, karena kami hanya bisa ngajar sore Jumat dan
Sabtu sore saja mengingat kami harus tetap menjalankan ikatan dinasku, yang
sekolah dibiayai pemerintah. Oleh dosenku sering disebut dengan mahasiswa plat
merah, atau mahasiswa ‘abidin’ atas biaya dinas.
Seperti biasa, setelah basa basi
mengucapkan salam, menanyakan kesan liburan muridku aku mulai mengajar, kuingat
topikmua masih masalah gelombang, aku mengajar tetap santai dengan gayaku yang
sedikit menggebu gebu, maklum guru muda hahahaha. Tak terasa sudah hampir dua
jam kami di kelas, setelah menjawab semua pertanyaan dari siswa yang masih
kurang faham, aku pamit meninggalkan kelas dengan memberikan salam selamat
sore.
Anak-anak sudah mulai keluar istirahat,
aku mengisi agenda kelas, menuliskan berita acara pengajaran sore itu, Dewi
Shinta menghampiriku, dengan berkata, Pak Guru curang. Kudengar sepintas dia
membisikannya kepadaku. Aku cuek saja meneruskan menuliskan berita acara, dan
iapun berlalu dan berdiri di pintu Kelas. AKu tahu dia akan bicara lagi pada
saat aku keluar kelas.
Dengan sambil mengelap tangan
yang belepotan kapur tulis, aku meninggalkan kelas melewatinya. Ku bilang ‘wik’
ayo ikut Pak Guru ke ruang guru, kita bicara disana kataku. Dan iapun mengikuti
aku ke ruang guru. Ku pinjam ruangan di ruang TU untuk bicara dengannya. Akupun
menanyakan, ada apa Wik, kok kamu cemberut bapak perhatikan selama pelajaran
tadi, coba ceritakan biar Pak Guru tahu.
Dia menceritakan bahwa nilainya
kok kecil di rapor untuk pelajaran yang aku pegang. “Masak aku dapat Cuma 6
(enam) pak, apa tidak curang itu”. Ku jelaskan bahwa, seingat aku nilainya
tidak sedemikian kecilnya, masalk anak IPA nilai fisikanya cuman enam,
selorohku. Bapak tak percaya coba raportmu dibawa besok, dan Pak Guru akan
membawa arsip nilai yang dikirimkan ke wali kelas, janjiku. “Oke pak, besok
Dewi bawa” katanya, Oke besok kita keremuan. Karena Sabtu besoknya kami masih
ketemu karena dalam seminggu dua kali pertemuan Jumat dan Sabtu saja.
Sabtu siang, seperti biasa
seperti ‘Oemar Bakri’ sekitar pk 1330 aku sudah sampai di sekolah. Dan aku
langsung mengajar seperti biasa, sampai waktu istirahat pertama, aku duduk di
ruang TU, dan Dewi bersama seorang temannya menghampiriku dengan membawa buku
rapornya, dengan ‘gagah’ nya Dewi menunjukkan kepadaku nilainya, ini pak
katanya. Aku pun tak mau melihat buku raportnya, karena aku tahu nilai yang
telah kusetor nilainya delapan, dua point diatas yang tertulis. Kutanyakan
siapa wali kelasmu, dia Jawab Pak Ismu. Ohh kataku, nilai kamu ini salah, ne
lihat arsip bapak kamu dapat nilai berapa kataku. Nanti bapak selesaikan dengan
wali kelasmu, mudah-mudahan beliau ada kataku. Aku pinjam buku rapotnya, dan
mereka berdua berlalu kembali bergabung kepada teman-temannya, seakan tidak
terjadi apa-apa,
Aku dekati wali kelasnya pak
Ismu, yang sedang berbincang di ruang guru. Aku ceritakan masalahnya dan beliau
kaget, Kutunjukkan arsip nilaiku, dan beliaupun ke mejanya membuka arsip kelas,
dan melihatnya. Terus minta maaf, setelah menggati angka di raportnya Dewi,
serta memarapnya, Ku bawa rapotnya dan kusimpan di mejaku.
Aku melanjutkan mengajar di
kelasnya Dewi, seperti biasa seakan tak terjadi apa-apa, demikian juga Dewi
tidak menunjukkan ketemannya ada permasalahan denganku. Dia anak yang sangat
cerdas dan pinter menyembunyikan sesuatu. Tak terasa sudah dua jam aku
mengajar, dan bel istirahat kedua sudah berbunyi. Anak-anakpun kembali
istirahat setelah aku pamit, ku bilang kemereka Dewi kamu ikut bapak ke ruang
guru, baru teman-temanya pada kaget.
Di ruang TU yang tidak begitu
rame, kuserahkan buku rapotnya dan aku jelaskan bahwa itu hanya kesalahan lihat
Pak Wali Kelas, dengan nilai yang di bawahnya, sehingga masuk ke namanya kataku
menutupi kesalahan kolega. Tapi ‘wik’ kutanyakan kepadanya, Apa kamu punya
masalah dengan pak Ismu, tanyaku, karena aku tahu Pak Ismu masih bujangan
sepertiku, walau umur kami munkin beda lebih dari lima belasan tahun.
Dewi Shinta melengos menjawabnya.
Bapak pura-pura tak tahu saja, anak sekelas juga tahu pak. Beliau menaksir aku
katanya. Woww naksir kami hahahaha, mau saja kataku bercanda. Bapak bisa saja
jawabnya, beliau seumuran mamaku pak, empat puluhan katanya. Rupanya ada affair
antara Dewi muridku dengan guru wali nya.
Menurut Dewi, dia tak mau
meladeni keinginan gurunya, kalau cuman membalas dengan senyuman sih biasa pak,
namanua juga murid dengan gurunya. Hehehehe akhirnya aku tahu, karena seperti
dugaanku semula. Kalau tiada mengada, tak akan tempoa bersarang rendah. Kalau
tidak ada apa-apanya tidak mungkin nilai salah memasukkannya. Aku salami Dewi,
aku minta maaf karena telah membuat dia berburuk sangka padaku, dan sudah mau
berterus terang masalahnya, sehingga cepat terselesaikan. Dia kembali kekelas
membawa buku raportnya, dan akupun bergabung dengan guru-guru lainnya di ruang
guru seakan tidak terjadi apa-apa.
Rupanya dalam hal ini masalah
asmara antara guru dan murid, dapat menjadi runyam, dan celakanya merugikan
sang murid. Demikian polosnya Dewi muridku dia menolak tapi tetap biasa dengan
guru yang menaksirnya. Kalau dia mau berpura-pura mau, mungkin saja bisa
terjadi sebaliknya, nilai dia akan menjadi fantastic semuanya. Karena dalam
kasus ini Wali Kelas tidak menunjukkan kesalahannya, dia enak saja dengan mudahnya
merubah nilai murid dan memarafnbya. Kasihan sebuah dokumen sebagai laporan
kemajuan siswa, ada coretannya. Seharusnya beliau malu dengan perbuatannya.
Ketika sesi terakhir berlangsung
setelah jam istirahat kedua, Pak Ismu menahanku untuk bertahan dulu di ruang
dosen, dan pak Ismu memanggil Parman untuk memanggilkan Dewi. Kami akhirnya
duduk bertiga di ruang guru, Aku, Dewi dan Pak Ismu. Pak Ismu menjelaskan ke
Dewi bahwa kesalahan penulisan nilai sebagai suatu kesalahan dirinya, bukan
kesalahan aku, dan beliau minta maaf ke Dewi dan Aku. Kami berangkulan sesame guru,
dan Dewi pun bersalaman dengan Pak Ismu dan meminta maaf kepadaku serta
menyalami aku.
Aku berseloroh, akh masalah
asmara memang rumit, itu soal rasa, tidak memandang umur, dia dapat tumbuh pada
mahluk berlawanan jenis, sering membuat mabok yang mengalaminya, seperti Pak
Ismu ini. Beliau pun tertawa… Hahahaha benar kamu pak, masalah asmara memang
runyam, sekali lagi kami rangkulan, beliau berbisik tolong jangan ada yang tahu
selain kita bertiga, saya malu pak,. Katanya.
Nah akupun dapat bernafas lega,
karena tidak ada muridku yang berprasangka macam-macam padaku, masalah nilanya
Dewi Shinta selesai. Selamat Sore kataku di kelas terakhir sore itu, selamat
bermalam minggu sampai ketemu minggu depan. Selamat Sore, dan terima kasih Pak
Guru, jawab mereka.
===
Puri Gading, akhir Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar