Senin, 25 Juli 2016

Runyamnya Masalah Asmara Guru-Murid



“GURUKU MEMPERMAIKAN NILAI KARENA MASALAH ASMARA”

Dia anak manja, salah saru primadona di Kelasnya wajahnya mirip dengan bintang iklan sebuah deodorant yang sangat terkenal saat itu. Namanya singkat saja Dewi Shinta. Memang mirip nama dewi dalam seri pewayangan Ramayana. Orangnya sangat ramah, manis dan suka menyapaku dengan manja. Maklum aku ngajar mereka saat masih umur 23 an tahun.
Aku masih ingat betul, baru saja sehabis liburan semesteran, aku giliran ngajar di kelasnya. Biasa jadwalku Jumat, jam pertama yaitu pk 1400, karena kami hanya bisa ngajar sore Jumat dan Sabtu sore saja mengingat kami harus tetap menjalankan ikatan dinasku, yang sekolah dibiayai pemerintah. Oleh dosenku sering disebut dengan mahasiswa plat merah, atau mahasiswa ‘abidin’ atas biaya dinas.
Seperti biasa, setelah basa basi mengucapkan salam, menanyakan kesan liburan muridku aku mulai mengajar, kuingat topikmua masih masalah gelombang, aku mengajar tetap santai dengan gayaku yang sedikit menggebu gebu, maklum guru muda hahahaha. Tak terasa sudah hampir dua jam kami di kelas, setelah menjawab semua pertanyaan dari siswa yang masih kurang faham, aku pamit meninggalkan kelas dengan memberikan salam selamat sore.
Anak-anak sudah mulai keluar istirahat, aku mengisi agenda kelas, menuliskan berita acara pengajaran sore itu, Dewi Shinta menghampiriku, dengan berkata, Pak Guru curang. Kudengar sepintas dia membisikannya kepadaku. Aku cuek saja meneruskan menuliskan berita acara, dan iapun berlalu dan berdiri di pintu Kelas. AKu tahu dia akan bicara lagi pada saat aku keluar kelas.
Dengan sambil mengelap tangan yang belepotan kapur tulis, aku meninggalkan kelas melewatinya. Ku bilang ‘wik’ ayo ikut Pak Guru ke ruang guru, kita bicara disana kataku. Dan iapun mengikuti aku ke ruang guru. Ku pinjam ruangan di ruang TU untuk bicara dengannya. Akupun menanyakan, ada apa Wik, kok kamu cemberut bapak perhatikan selama pelajaran tadi, coba ceritakan biar Pak Guru tahu.
Dia menceritakan bahwa nilainya kok kecil di rapor untuk pelajaran yang aku pegang. “Masak aku dapat Cuma 6 (enam) pak, apa tidak curang itu”. Ku jelaskan bahwa, seingat aku nilainya tidak sedemikian kecilnya, masalk anak IPA nilai fisikanya cuman enam, selorohku. Bapak tak percaya coba raportmu dibawa besok, dan Pak Guru akan membawa arsip nilai yang dikirimkan ke wali kelas, janjiku. “Oke pak, besok Dewi bawa” katanya, Oke besok kita keremuan. Karena Sabtu besoknya kami masih ketemu karena dalam seminggu dua kali pertemuan Jumat dan Sabtu saja.
Sabtu siang, seperti biasa seperti ‘Oemar Bakri’ sekitar pk 1330 aku sudah sampai di sekolah. Dan aku langsung mengajar seperti biasa, sampai waktu istirahat pertama, aku duduk di ruang TU, dan Dewi bersama seorang temannya menghampiriku dengan membawa buku rapornya, dengan ‘gagah’ nya Dewi menunjukkan kepadaku nilainya, ini pak katanya. Aku pun tak mau melihat buku raportnya, karena aku tahu nilai yang telah kusetor nilainya delapan, dua point diatas yang tertulis. Kutanyakan siapa wali kelasmu, dia Jawab Pak Ismu. Ohh kataku, nilai kamu ini salah, ne lihat arsip bapak kamu dapat nilai berapa kataku. Nanti bapak selesaikan dengan wali kelasmu, mudah-mudahan beliau ada kataku. Aku pinjam buku rapotnya, dan mereka berdua berlalu kembali bergabung kepada teman-temannya, seakan tidak terjadi apa-apa,
Aku dekati wali kelasnya pak Ismu, yang sedang berbincang di ruang guru. Aku ceritakan masalahnya dan beliau kaget, Kutunjukkan arsip nilaiku, dan beliaupun ke mejanya membuka arsip kelas, dan melihatnya. Terus minta maaf, setelah menggati angka di raportnya Dewi, serta memarapnya, Ku bawa rapotnya dan kusimpan di mejaku.
Aku melanjutkan mengajar di kelasnya Dewi, seperti biasa seakan tak terjadi apa-apa, demikian juga Dewi tidak menunjukkan ketemannya ada permasalahan denganku. Dia anak yang sangat cerdas dan pinter menyembunyikan sesuatu. Tak terasa sudah dua jam aku mengajar, dan bel istirahat kedua sudah berbunyi. Anak-anakpun kembali istirahat setelah aku pamit, ku bilang kemereka Dewi kamu ikut bapak ke ruang guru, baru teman-temanya pada kaget.
Di ruang TU yang tidak begitu rame, kuserahkan buku rapotnya dan aku jelaskan bahwa itu hanya kesalahan lihat Pak Wali Kelas, dengan nilai yang di bawahnya, sehingga masuk ke namanya kataku menutupi kesalahan kolega. Tapi ‘wik’ kutanyakan kepadanya, Apa kamu punya masalah dengan pak Ismu, tanyaku, karena aku tahu Pak Ismu masih bujangan sepertiku, walau umur kami munkin beda lebih dari lima belasan tahun.
Dewi Shinta melengos menjawabnya. Bapak pura-pura tak tahu saja, anak sekelas juga tahu pak. Beliau menaksir aku katanya. Woww naksir kami hahahaha, mau saja kataku bercanda. Bapak bisa saja jawabnya, beliau seumuran mamaku pak, empat puluhan katanya. Rupanya ada affair antara Dewi muridku dengan guru wali nya.
Menurut Dewi, dia tak mau meladeni keinginan gurunya, kalau cuman membalas dengan senyuman sih biasa pak, namanua juga murid dengan gurunya. Hehehehe akhirnya aku tahu, karena seperti dugaanku semula. Kalau tiada mengada, tak akan tempoa bersarang rendah. Kalau tidak ada apa-apanya tidak mungkin nilai salah memasukkannya. Aku salami Dewi, aku minta maaf karena telah membuat dia berburuk sangka padaku, dan sudah mau berterus terang masalahnya, sehingga cepat terselesaikan. Dia kembali kekelas membawa buku raportnya, dan akupun bergabung dengan guru-guru lainnya di ruang guru seakan tidak terjadi apa-apa.
Rupanya dalam hal ini masalah asmara antara guru dan murid, dapat menjadi runyam, dan celakanya merugikan sang murid. Demikian polosnya Dewi muridku dia menolak tapi tetap biasa dengan guru yang menaksirnya. Kalau dia mau berpura-pura mau, mungkin saja bisa terjadi sebaliknya, nilai dia akan menjadi fantastic semuanya. Karena dalam kasus ini Wali Kelas tidak menunjukkan kesalahannya, dia enak saja dengan mudahnya merubah nilai murid dan memarafnbya. Kasihan sebuah dokumen sebagai laporan kemajuan siswa, ada coretannya. Seharusnya beliau malu dengan perbuatannya.
Ketika sesi terakhir berlangsung setelah jam istirahat kedua, Pak Ismu menahanku untuk bertahan dulu di ruang dosen, dan pak Ismu memanggil Parman untuk memanggilkan Dewi. Kami akhirnya duduk bertiga di ruang guru, Aku, Dewi dan Pak Ismu. Pak Ismu menjelaskan ke Dewi bahwa kesalahan penulisan nilai sebagai suatu kesalahan dirinya, bukan kesalahan aku, dan beliau minta maaf ke Dewi dan Aku. Kami berangkulan sesame guru, dan Dewi pun bersalaman dengan Pak Ismu dan meminta maaf kepadaku serta menyalami aku.
Aku berseloroh, akh masalah asmara memang rumit, itu soal rasa, tidak memandang umur, dia dapat tumbuh pada mahluk berlawanan jenis, sering membuat mabok yang mengalaminya, seperti Pak Ismu ini. Beliau pun tertawa… Hahahaha benar kamu pak, masalah asmara memang runyam, sekali lagi kami rangkulan, beliau berbisik tolong jangan ada yang tahu selain kita bertiga, saya malu pak,. Katanya.
Nah akupun dapat bernafas lega, karena tidak ada muridku yang berprasangka macam-macam padaku, masalah nilanya Dewi Shinta selesai. Selamat Sore kataku di kelas terakhir sore itu, selamat bermalam minggu sampai ketemu minggu depan. Selamat Sore, dan terima kasih Pak Guru, jawab mereka.
===
Puri Gading, akhir Juli 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar