Sabtu, 12 Mei 2018

Perbincangan Kala Pertemuan

Pengantar:

Berikut ini akan secara berseri saya akan posting beberapa hasil perbincangan ku dengan orang orang yang tak sengaja bertemu di perjalanan, di perjalanan dines baik di pesawat, di hotel, maupun di tempat kerja sampai di tempat seminar. Karena keinginanku untuk menulis kembali muncul. Untuk memulainya akan saya posting perbincangan dengan Rita di sebuah hotel di Mataram Lombok.



PERTEMUAN DENGAN RITA 


Beberapa kenangan dari percakapan keremu teman sekampung, teman sekota maupun dengan seorang staf baru. Perbincangannya ringan bahkan menggelitik hati karena logika terkadang sangat mudah dipermainkan, dan dalam percakapan ini kami berusaha menghindari hal-hal yang berat.
Pertama : PERTEMUAN DENGAN RITA
Pada saat aku masih kebingunang di loby sebuah hotel, untuk mencari Koran pagi untuk menemani menunggu teman untuk menuju Restoran untuk sarapam. Seorang gadis tak sengaja aku bertabrakan dengan soorang gadis. Dia gadis desa teman anak0anakku. Dengan sedikit kaget dia menyapaku:
Selamat Pagi Om. Selamat Pagi jawabku. Dia menjulurkan tangannya untuk salaman.. Saya Rita Om. Oh temannya Panji ya. Iya om. Om ada disini kebetulan ada seminar sosialisasi kebencanaan gempabumi, di Mataram ini. Yah om nginap di hotel ini. Kau bekerja disini, oh tidak om. Tiba-tiba seorang Bule datang, dia pamitan dan menggamit tangan Bule itu. Sorry ya  om, nanti siang atau sore aku akan nemuin om untuk ngobrol.
Hebat anak itu, Cuma sekolahan di kampong sampai SMA, eh tapi kudengar di kota dia sekolah dan sudah lulus sarjana. Kata Panji sih dia sudah hebat jadi agen perjalanan gitu. Ah peduli amat, aku berranglat le Restoran dan Sarapan. Kulihat dia asyik dengan tamunya sekan tidak mengenalku. Mungkin itu kali budaya bule.
---+++----
Sekitar pk 17 sore, bel pintu berbunya, akh menganggu saja keasyikan ku menyaksikan berita daerah Entebe di TV local. Dengan malas-malasan aku membuka pintu. Dan ternyata Rita sudah berdiri di muka pintu, di temani teman Bule nya John Dereck katanya. Teman bulenyapun pamitan untuk ada sedikit urusan kekota degan bisnisnya, tinggal aku dengan Rita berdua. Kamipun ngobrol di kamar dengannya, tentu dengan kamar terbuka.
Dia bercerita dengan sangat jujurnya kepadaku, karena aku sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri, dia teman anakku Panji yang sedang ngambil spesialis di Jogya. Berulang kali dia minta maaf kepadaku karena telah memutuskan cintanya dengan anakku Panji. Karena dia meras tak panyas katanya. Kenapa begitu, begini cerita dia:
Aku sebenarnya sangat cinta kepada Panji om, tetapi aku terjerumus terbawa pekerjaanku. Dan sudah berapa banyak Bule yang sudah dia temeni sebagai ‘guide’ nya. Dia lakukan itu sebagai rasa balas dendam dia terhadap Bule, yang penting dia dapat duit.
Mulanya ingin menjadi guide yang baik namun kebutuhan hidup di kots apa lagi di Jakarta – ternyata di Mataram, dia menemani tamunya- sangat banyak, dia terlilit Kartu kridit, terlilit Utang Bank untuk cicilan mobil, dan cicilan Bank untuk membantu orang tuanya karena ejatinya penghasilannya sebagai pegawai tidak cukup untuk mengcover semua itu.
Dia kemudian menjadi guide plus, menemani tamunya sampai di tempat tidur. Karena itu semua itu akan tercover oleh biaya holiday atau bisnisnya si Bule.  Paling paling nambah biaya makan saja, apalagi kalau makan buffet tak seberapa, terlebih nilai dollar yang meroket. Akh berdua dengan sendiri tak ada artinya.
Awalnya aku menikmatinya, yang kukira sebagai penghargaan terhadap wanita, karena tamuku sangat memanjakan dan memberiakn aku fasilitas yang wah, setelah berjalannya waktu sejatinya dia bisa jauh lebih ngirit dengan cara ini dapat pelayanan paripurna. Tidak perlu cari teman kencan, tak perlu nyewakan kamar lagi, pergi dalam satu kendaraan bersama, guide tidak bayar terkadang. Wah aku bodoh om. Tidak bidih kataku, itu pilihan, setiap pilihan ada risikonya/
Nah disinilah Om, karena kita wanita yang mengedepankan rasa daripada rasio tertipu katanya. Lho kok bisa Rita kataku hampir tidak terdengar karena aku yak nyangka orang yang kukenal demikian pekerjaannya. Dia kelihatan memberikan kita fasilitas mewah, padahal itu kita Cuma nebeng fasilitas dia yang di cover perusahan, dia seakan mendapat discount. Pay one get two free katanya hahahaha. Maksudnya apa Rita? Tanyaku.
Dia tamu ku kan hanya menbayar aku dengan fasilitas yang dia dapat dari company nya. Dia tidak banyak ngeluari uang, Dan itu sudah menjadi modus setiap dia akan holiday. Daia akan selalu menggunakan medsos maupun aplikasi dating mendapatkan mangsanya hehehe partnernya, kemudian datang holiday, atau bisnis dengan fasilitas plus plus guide, dengan tanpa banyak membebani biaya lagi. Hotel, makan, transport dan guide bisa bisa dia mendapatan nya dengan sangat murah kalau dihitung. Kita bodoh sebenarnya om, kita di permainkan perasaan/ Karena sudah terlanjur tuntutan kridit, biaya hidup, makan dan keiningnan hura-hura ini berlanjut.
Sambil terisak Rita terus bercerita. Dia sempat terhenti setelah room boy mengantarkan Snack dan minum untuk kami berdua. Kami menikmati sepiring kecil lepek pudding dan kopi susu espresso, nikamat sekali. Memang Rita kamu tahu selera bapak kataku ke dia.
Setelah pergi dengan segala fasilitas dan servis yang tel;ah Rita berikan dia kembali ke company atau negaranya, dan si Bule ini akan menceritakan atau mempromosikan aku lagi ketemannya, sehingga aku berlanjut menjadi guide ini. Itulah Om kerjaku….. mohon om jangan ceritakan kepada Panji pekerjaanku.
Sebaiknya kalau ada waktu kau ceritakan saja langsung ke Panji, yang perlu tahu sebanarnya kan Panji, sehingga dia membatalkan ngambil spesialis di Jakarta, dan memutuskan ambil di Jogyakarta saja. Agar dia faham ceritanya kenapa kau menmutuskan cintamu kepadanya. Kau harus benrani dengan jujur mengatakannya walau itu berat. Ternyata anak manis yang kukenal sangat religius di kampong, p[ekerjaannya sangat jauh dari budata kampungku.
Dia bilang dia bukan guide tetapi dia sebenarnya teman bule tour dan segalanya, dengan bayaran yang terkadang terselubung, hanya komisi dari hotel, makan enak dan tour gratis, pergi ke diskotik. Tapi akumiris juga mendengarkan saat dia bilang dia takut dengan karma, dia takut akan terkena sakit………
Aku cuma pesan sama dia rasa takutmu sebenarnya bagus, itu merupakan awal dari tobatmu. Terus laksanakan kelanjutan tobat itu. Fia hanya geleng geleng karena dia bilang dia sudah terlanjur ada bookingan kerjaan sampai tahun depan. Di luar hotel aku lihat sudah mulai gelap, kolam renang sudah banyak yang berenang. Akupun mengikuti Rita ke kolam renang, duduk melanjutkan minum sambil menikmati tamu berenang. Lumayang sebagai nostalgia berenang teringat masa kecilku berenang di tibu di sungai dekat kampungku.
Itulah percakapan singkatku dengan Rita, sebagai hikmah dari pekerjaanku yang menuntutku untuk sering berseminar kesana kemari, mensosialisasikan bahaya bencana gempabumu, maupun pemanasan global dan perubahan iklim. Yah lumayan tahulah hampir seluruh kota besar di Indonesia. Semoga ada hikmah dan manfaat yang kita petik dari perbincangan dengan Rita.

Puri Gading, 2009
Baru di posting, yang kelihatannya masi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar