Pengantar:
Berikut ini akan secara berseri saya akan posting beberapa hasil perbincangan ku dengan orang orang yang tak sengaja bertemu di perjalanan, di perjalanan dines baik di pesawat, di hotel, maupun di tempat kerja sampai di tempat seminar. Karena keinginanku untuk menulis kembali muncul. Untuk memulainya akan saya posting perbincangan dengan Rita di sebuah hotel di Mataram Lombok.
PERTEMUAN DENGAN RITA
Beberapa kenangan dari percakapan
keremu teman sekampung, teman sekota maupun dengan seorang staf baru.
Perbincangannya ringan bahkan menggelitik hati karena logika terkadang sangat
mudah dipermainkan, dan dalam percakapan ini kami berusaha menghindari hal-hal
yang berat.
Pertama : PERTEMUAN DENGAN RITA
Pada saat aku masih kebingunang
di loby sebuah hotel, untuk mencari Koran pagi untuk menemani menunggu teman
untuk menuju Restoran untuk sarapam. Seorang gadis tak sengaja aku bertabrakan
dengan soorang gadis. Dia gadis desa teman anak0anakku. Dengan sedikit kaget
dia menyapaku:
Selamat Pagi Om. Selamat Pagi
jawabku. Dia menjulurkan tangannya untuk salaman.. Saya Rita Om. Oh temannya
Panji ya. Iya om. Om ada disini kebetulan ada seminar sosialisasi kebencanaan
gempabumi, di Mataram ini. Yah om nginap di hotel ini. Kau bekerja disini, oh
tidak om. Tiba-tiba seorang Bule datang, dia pamitan dan menggamit tangan Bule
itu. Sorry ya om, nanti siang atau sore
aku akan nemuin om untuk ngobrol.
Hebat anak itu, Cuma sekolahan di
kampong sampai SMA, eh tapi kudengar di kota dia sekolah dan sudah lulus
sarjana. Kata Panji sih dia sudah hebat jadi agen perjalanan gitu. Ah peduli
amat, aku berranglat le Restoran dan Sarapan. Kulihat dia asyik dengan tamunya
sekan tidak mengenalku. Mungkin itu kali budaya bule.
---+++----
Sekitar pk 17 sore, bel pintu
berbunya, akh menganggu saja keasyikan ku menyaksikan berita daerah Entebe di
TV local. Dengan malas-malasan aku membuka pintu. Dan ternyata Rita sudah
berdiri di muka pintu, di temani teman Bule nya John Dereck katanya. Teman bulenyapun
pamitan untuk ada sedikit urusan kekota degan bisnisnya, tinggal aku dengan
Rita berdua. Kamipun ngobrol di kamar dengannya, tentu dengan kamar terbuka.
Dia bercerita dengan sangat
jujurnya kepadaku, karena aku sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri,
dia teman anakku Panji yang sedang ngambil spesialis di Jogya. Berulang kali
dia minta maaf kepadaku karena telah memutuskan cintanya dengan anakku Panji.
Karena dia meras tak panyas katanya. Kenapa begitu, begini cerita dia:
Aku sebenarnya sangat cinta
kepada Panji om, tetapi aku terjerumus terbawa pekerjaanku. Dan sudah berapa
banyak Bule yang sudah dia temeni sebagai ‘guide’ nya. Dia lakukan itu sebagai
rasa balas dendam dia terhadap Bule, yang penting dia dapat duit.
Mulanya ingin menjadi guide yang
baik namun kebutuhan hidup di kots apa lagi di Jakarta – ternyata di Mataram,
dia menemani tamunya- sangat banyak, dia terlilit Kartu kridit, terlilit Utang
Bank untuk cicilan mobil, dan cicilan Bank untuk membantu orang tuanya karena
ejatinya penghasilannya sebagai pegawai tidak cukup untuk mengcover semua itu.
Dia kemudian menjadi guide plus,
menemani tamunya sampai di tempat tidur. Karena itu semua itu akan tercover
oleh biaya holiday atau bisnisnya si Bule.
Paling paling nambah biaya makan saja, apalagi kalau makan buffet tak
seberapa, terlebih nilai dollar yang meroket. Akh berdua dengan sendiri tak ada
artinya.
Awalnya aku menikmatinya, yang
kukira sebagai penghargaan terhadap wanita, karena tamuku sangat memanjakan dan
memberiakn aku fasilitas yang wah, setelah berjalannya waktu sejatinya dia bisa
jauh lebih ngirit dengan cara ini dapat pelayanan paripurna. Tidak perlu cari
teman kencan, tak perlu nyewakan kamar lagi, pergi dalam satu kendaraan
bersama, guide tidak bayar terkadang. Wah aku bodoh om. Tidak bidih kataku, itu
pilihan, setiap pilihan ada risikonya/
Nah disinilah Om, karena kita
wanita yang mengedepankan rasa daripada rasio tertipu katanya. Lho kok bisa
Rita kataku hampir tidak terdengar karena aku yak nyangka orang yang kukenal
demikian pekerjaannya. Dia kelihatan memberikan kita fasilitas mewah, padahal
itu kita Cuma nebeng fasilitas dia yang di cover perusahan, dia seakan mendapat
discount. Pay one get two free katanya hahahaha. Maksudnya apa Rita? Tanyaku.
Dia tamu ku kan hanya menbayar
aku dengan fasilitas yang dia dapat dari company nya. Dia tidak banyak ngeluari
uang, Dan itu sudah menjadi modus setiap dia akan holiday. Daia akan selalu
menggunakan medsos maupun aplikasi dating mendapatkan mangsanya hehehe
partnernya, kemudian datang holiday, atau bisnis dengan fasilitas plus plus
guide, dengan tanpa banyak membebani biaya lagi. Hotel, makan, transport dan
guide bisa bisa dia mendapatan nya dengan sangat murah kalau dihitung. Kita
bodoh sebenarnya om, kita di permainkan perasaan/ Karena sudah terlanjur
tuntutan kridit, biaya hidup, makan dan keiningnan hura-hura ini berlanjut.
Sambil terisak Rita terus bercerita.
Dia sempat terhenti setelah room boy mengantarkan Snack dan minum untuk kami
berdua. Kami menikmati sepiring kecil lepek pudding dan kopi susu espresso,
nikamat sekali. Memang Rita kamu tahu selera bapak kataku ke dia.
Setelah pergi dengan segala
fasilitas dan servis yang tel;ah Rita berikan dia kembali ke company atau
negaranya, dan si Bule ini akan menceritakan atau mempromosikan aku lagi
ketemannya, sehingga aku berlanjut menjadi guide ini. Itulah Om kerjaku…..
mohon om jangan ceritakan kepada Panji pekerjaanku.
Sebaiknya kalau ada waktu kau
ceritakan saja langsung ke Panji, yang perlu tahu sebanarnya kan Panji,
sehingga dia membatalkan ngambil spesialis di Jakarta, dan memutuskan ambil di
Jogyakarta saja. Agar dia faham ceritanya kenapa kau menmutuskan cintamu
kepadanya. Kau harus benrani dengan jujur mengatakannya walau itu berat. Ternyata
anak manis yang kukenal sangat religius di kampong, p[ekerjaannya sangat jauh
dari budata kampungku.
Dia bilang dia bukan guide tetapi
dia sebenarnya teman bule tour dan segalanya, dengan bayaran yang terkadang
terselubung, hanya komisi dari hotel, makan enak dan tour gratis, pergi ke
diskotik. Tapi akumiris juga mendengarkan saat dia bilang dia takut dengan
karma, dia takut akan terkena sakit………
Aku cuma pesan sama dia rasa
takutmu sebenarnya bagus, itu merupakan awal dari tobatmu. Terus laksanakan
kelanjutan tobat itu. Fia hanya geleng geleng karena dia bilang dia sudah
terlanjur ada bookingan kerjaan sampai tahun depan. Di luar hotel aku lihat
sudah mulai gelap, kolam renang sudah banyak yang berenang. Akupun mengikuti
Rita ke kolam renang, duduk melanjutkan minum sambil menikmati tamu berenang.
Lumayang sebagai nostalgia berenang teringat masa kecilku berenang di tibu di
sungai dekat kampungku.
Itulah percakapan singkatku
dengan Rita, sebagai hikmah dari pekerjaanku yang menuntutku untuk sering berseminar
kesana kemari, mensosialisasikan bahaya bencana gempabumu, maupun pemanasan
global dan perubahan iklim. Yah lumayan tahulah hampir seluruh kota besar di
Indonesia. Semoga ada hikmah dan manfaat yang kita petik dari perbincangan
dengan Rita.
Puri Gading, 2009
Baru di posting, yang kelihatannya masi