Senin, 04 September 2023

Suster Nike. Eps 1


Perjalanan Panjang Suster Nike.

 

SUSTER NIKE

 

Sore itu aku baru saja sampai rumah. Rumahku di BSD, bukan di Bumi Serpong Damai, tapi di Bintaro Sanaan Dikit. Aku bersyukur bisa punya rumah walau di pinggiran Jakarta. Sudah tidak di kejar2 kontrakan.

Aku sedang menunggu Suster Nike yang dikirim Dr Yahyana untuk membantu merawat luka istriku bekas operasi Cesar anakku yang ke dua.

Adikku yang ikut dengan kami sudah selesai menyiram kebun kecil disamping rumah. Kebun bunga,  hasil minta minta bibitnya di tetangga.

Dia menyuguhkan teh hangat padaku yang sedang duduk di teras. “Nungguin siapa mas, tumben duduk di luar”, tanyanya.

“Lagi nungguin tamu, Suster yang akan merawat luka operasi mbakmu, yang sedikit ada masalah”, jawabku.

Kuteguk teh hangat yang dibuatkan adik. Sungguh nikmat teh poci sore ini. Teh poci dihidangkannya dalam pot sedang, dengan gula batu di cangkir. Teh poci ada seni dalam menikmatinya.

Gula batu di taruh di cangkir di grojog dengan seduhan teh, sehingga ampas yang terbawa sampai ikut dengan tumpahan tehnya. Groosst ku teguk sangat nikmat. Mengingatkan aku saat pendidikan di Diklat Transjaya Tegal beberapa tahun lalu, sering menikmati teh poci, di warung dekat alun alun.

Sedang asyiknya menyeruput kopi, tiba tiba ada suara, yang mengucapkan salam.

“Selamat Sore Bapak, suara wanita.

“Selamat Sore Bu”. Jawabku.

Rupanya Suster Nike, dengan seragam putihnya menjulurkan tangannya memberikan salam. Suster ini seperti aku tahu, asalnya bila kuperhatikan tengkuk, serta cara bersalaman denganku dan  juga cara jalannya.

“Ya silahkan masuk Suster, istri saya sudah siap di kamar”. Jawabku sambil mengantarkan Suster ke kamar istriku. Silahkan saya mau meneruskan nge teh didepan suster.

Aku kembali ke depan menikmati teh poci yang belum selesai ku nikmati

“Ti Roti...Ti Roti” begitu teriak tukang roti yang biasa lewat depan rumahku. “Stop Bang”, teriakku. Aku membeli beberapa varian roti, roti cempedak, roti gambang dan roti moka.  Roti Tan Ek Tjoan yang memang menjadi kesukaanku sejak kuliah dulu. Mantap satu bisa kenyang.

Oleh anakku roti Tan Ek Tjoan sering dipelesetkan menjadi roti Tante Coan. Akh dasar anak2 yang belum bisa membaca.

Roti cempedak ku nikmati sambil meneruskan minum teh pociku. Kupanggil adik untuk mengantarkan teh juga ke kamar istriku untuk mereka berdua bersama Suster Nike.

Kutahu suster Nike rumahnya cukup jauh dari rumahku. Disamping membantu merawat luka operasi istriku, dia juga pinter memberikan motivasi ibu yang habis melahirkan biar tegar, tak terjangkit baby blue.

Angin semilir sore itu, di tambah pekerjaan yang cukup padat rupanya membuat aku ketiduran di kursi teras rumahku. Maklum PNS abdi negara. Masih bawahan disuruh kesana kemari.

“Pak ..Pak..Pak,Pak bangun”, istriku menepuk pundak ku, aku terkaget dia sudah berani jalan keluar. Aku terkaget bangun sambil usap usap mata.

“Itu Suster Nike sudah selesai, mau pamitan”, lanjut istriku.

“Terimakasih rotinya Pak”, kata Suster Nike.

“Oh sama sama Suster, maaf roti grobak pas lewat” kataku.

Istriku meminta aku, untuk mengantarkan Suster Nike ke rumahnya di daerah Grogol. Saat itu jalan masih sepi, ku antar kan suster lewat Jalan Panjang, Tanjung Duren, terus bunderan Grogol. Saat ini jalanan itu cukup macet. Sepanjang jalan aku ngobrol dengan Suster Nike.

Suster Nike dinas di RS Pemerintah Daerah, katanya setelah lulus sekolah di RS Erkaset (RKZ),  Surabaya, dia mengabdi di almamaternya setahun setengah terus pindah ke Jakarta karena tawaran temannya untuk kerja di RS itu. Jadi keterusan sampai kini.

Singkat cerita dia menikah dengan suaminya sekarang. Sehabis patah hati ditinggal nikah pacarnya seorang mahasiswa di Sekolah Penilik Kesehatan Surabaya. Pacarnya pemuda satu daerah. Jadi sama sama merantau. Bahkan selama pacaran mereka sudah biasa sharing biaya. Kedua orang tua mereka sudah pada tahu dan kelihatannya saling setuju.

Eh ternyata setelah tamat sang pacar menikah dengan seorang penari, tamatan sekolah karawitan. Nah saat itu hatinya gundah gulana, ada tawaran kerja di Jakarta,  tanpa pikir panjang serta sebagai pelarian dia terima tawaran itu. Siapa tahu luka hati ini cepat sembuh kalau jauh dari tempat berdua dahulu.

Dia menikah berdasarkan cinta, dengan orang yang dia bilang sangat mencintainya. Pernikahan dilakukan secara Adat dan Agama di Timor sana.

Kata Suster pernikahannya sangat ramai dan meriah. Dengan dansa dansi di lapangan sebelah rumah mempelai pria. Tenda di pasang sangat besar.

Suster Nike bilang pernikahannya dilakukan juga, walau tidak mulus. Ditentang orang tuanya. Orang tuanya bilang kita nikah beda desa saja kadang beda adatnya. Apalagi kamu menikah beda suku dan beda lainnya. Tentu banyak masalahnya. Begitu pendapat ayah. Rupanya panah asmara sudah terlanjur menusuk kedua insan ini. Mereka nekat melakukan pernikahan. Suster pamit pada orang tuanya, aku Cuma minta restu bukan minta persetujuan. Wah orang tuanya setengah ikhlas merelakan dan membekalinya untuk menikah.

Mendengar cerita pernikahan suster Nike, aku teringat saat dinas ke kantor perwakilan di Kupang.  Kebetulan ada pegawai ya nikah, aku diajak hadir saat pesta pernikahan. Memang sangat ramai. Muda mudi turun badansa. Lagunya ya sangat asyik dinyanyikan group band lokal.

Lagu yang masih kuingat sampai saat ini, lagu Kaos Kuning Nomor 8. Kira2 sayairnya begini -eh maaf bila tidak pas-.

Ade nona zaman sekarang punya mas kawin mahal sekali (2x)

Piring gantung, mobil kijang itu kadang. Buah manis, kulit pala tambah lagi sebilah parang

Siyo nona siyo nona saya dengar kau mau kawin tinggalkan saya(2x)

Kalaulah begitu (2x)

Kembalikan baju kaos kuning nomor delapan ....dst.

Hai hai si nona montok hei, baju kaosnya nomor delapan kataku. Saat mendengarkan cerita Suster Nike. Diapun tertawa... Rupanya Suster Nike tahu lagu itu. Malah janji kasih aku pinjam compack disk nya, khusus berisi lagu untuk badansa khas Timor.

Sampailah aku ke tempa tinggal Suster Nike. Rumah yang indah untuk keluarga,kecilnya.

Aku langsung pamitan. Putar balik pacu motor lewat pinggiran Tol. Sambil menyenandungkan lagu baju kaor kuning nomor delapan. Tak kurasa aku sudah hampir melewati Bebek Bakar Yogi di Kebon Jeruk. Aku mampir sebentar membeli nasi bungkus untuk istriku, aku dan adik di Warung Bebek Bakar Yogi.

Nasi dengan bebek bakar sambel hijau untukku. Nasi bebek bakar madu kecap untuk istriku dan seporsi lagi satu porsi bebek bakar sambel merah untuk adikku.

Aku melanjutkan menyusuri jalan Pesanggrahan, Tanah Kusir hingga sampai rumahku.

Ku bangun kan istriku yang ketiduran habis nyusui bayi kami, ku ajak menikmati nasi bebek Yogi, sebagai penambah gizinya sehabis melahirkan. Kami tak punya ruang makan, kami makan di ruang tamu sambil nonton tv.

Bebek Yogi sangat bersejarah, karena saat ngidam anakku yang sulung istriku ngidamnya nasi bebek Yogi. Hampir rutin kami mampir, kebetulan kalau pulang kerja kami lewat depan bebek Yogi.

Disana pula kami pernah dating saat pacaran eh ketemu bekas muridku yang sudah jadi Arsitek. Malah istriku  jadi akrab dengan muridku, karena mereka pernah saling bertetangga.

Malam itu sambil menunggu kantuk, ku habis kan waktu berdua sama istri bernostalgia kenangan di saat pacaran dulu. Yang kelihatannya mirip dengan cerita Suster Nike. Cerita RS RKZ pun menggelitik ingatanku karena pernah mampir kesana saat masih muda. Ngapain lagi kalau bukan lihat-lihat perawat yang ada disana, siapa tahu ada yang cocok. Ya Rumah Sakit yang di Jalan Diponegoro Surabaya itu.

Disamping tempat mengabdi, sekolah RKZ juga tempat mencari pacar suster atau bidan yang masih singel.

Bukit Jimbaran, 1 Syuro, akhir Juli 2022.

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar