Cerpen.
“KAKAK
IPARKU, IBU ANAK ANAKKU”.
Akhirnya
Suhendro dan Suherni menikah sesuai dengan amanat almarhum istrinya. Suherni
membatalkan keputusannya untuk tidak menikah. Dia dosen yang berhasil, pada
akhirnya sampai pada jabatan puncak sebagai Guru Besar. Almarhumah istri
Suhendro adik dari Suherni. Almarhum meninggal karena digrogoti kangker sudah
cukup lama. Laksmi, Laksamana dan Savitri yang memang dekat dengan tante Herni,
mendapatkan kasih sayang mamanya yang hilang. Merekapun hidup rukun dan damai
dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan, menikmati hari harinya di tiga
tempat, Bandung, Tasikmalaya dan Jakarta.
**#**
Sungguh
galau hatiku pagi itu, sangat banyak pertanyaan yang tak mampu kujawab sendiri.
Sama dengan hari hari yang lain bahkan jauh lebih sulit dari membawa perusahaan
kami saat sulit pandemi ke banding ini. Hari ini aku ke kantor hanya mau mampir
main saja sambil mengusir kegalauanku. Aku tak betah berlama lama di ruangan,
aku jalan saja dan tak mau di temani sopir atau siapapun, asistenku Aini masih
memimpin rapat staff.
Aku keluar
halaman kantor berjalan menyusuri trotoar, dibawah pohon Sakura yang lagi
berbunga menuju sebuah café. Sekitaran pk 10 30 aku tiba dan berhenti disana
duduk di pojokan. Aku bilang sama waitres tidak mau diganggu, aku hanya memesan
kopi vietnam dan sepotong wafel. Aku pejamkan lagi mataku, pertanyaan itu
muncul lagi. Itu tuduhan anak gadis remajaku, Laksmi. Aku dengan istriku
mempunyai tiga anak. Pertama Laksmi Dewi, sudah remaja kelas dua SMP, Laksamana
kelas 6 SD dan Savitri Dewi baru kelas 4 SD. Yang bontot anakku yang paling
cuek, dia hanya dan sangat respek sama kakaknya Laksmi ke banding denganku.
Laksamana orang yang paling dekat dengan istriku. Sebenarnya cuma Laksmi yang biasa
menghiburku, tapi kali ini tidak. Dia komandan pembenci aku.
Baru
sebulan istriku meninggal dan dimakamkan di pemakaman keluarga. Aku masih
sering mengunjungi makamnya, seakan aku belum ikhlas menerima kepergiannya. Ia
aku memang belum bisa ikhlas. Istriku
malah terlihat lebih tabah dan tegar menghadapi kematiannya. Karena dia sudah
diberitahu dokter tentang harapan sakitnya. Sejak kematian almarhumah, orang
tuaku ikutan menemani aku di rumah.
Galau beratku
mulai muncul ketika orang tuaku mau pamitan kembali kerumah tempat tinggalnya.
Masih sekota tapi berlainan jalan, lebih dekat dengan pasar dan sekolah anak
anakku. Terutama yang SD, hanya yang SMP sekolahnya lebih dekat ke tempat tinggal
ku.
Ketika itu
aku ngobrol berdua dengan anakku Laksmi, tiba tiba ia berteriak:”Papa jahat,
papa bunuh mamaku dengan halus, papa sekongkol dengan tante Hani”. “Karena papa jahat, maka biarkan kami tinggal
sama kakek dan nenek saja” lanjutnya.
Hampir aku
kehilangan kendali mau memukul Laksmi, tapi ayahku keburu menahan tanganku.
Akhirnya kami rangkulan, dan meminta maaf sama beliau. Ayah memahami ke marahanku.
Beliau bilang:”Biarkan anak anak ikut ayah dulu, dia belum bisa mengikhlaskan
kepergian mamanya”. “Silahkan yah, aku titip anak anak. Biarkan mereka
menenangkan diri dulu”, sambung ku ketika itu.
Waitres
mempersilah kan aku minum, kopi sudah siap dengan sepotong kue pesanan ku. Aku
diberikannya sepotong wafel dan jamm madu serta blueberry menyertai kopi
vietnam. Aku seruput kopinya, terasa lebih nikmat dari kopi Bu Irah tadi pagi
di rumah. Aku kembali dengan pertanyaan terkait anakku, kenapa dia bisa ngomong
begitu. Benarkan aku telah membunuh istriku, benarkan Hani kerjasama denganku
membunuhnya?. Siapa yang memberikan dia informasi ini? Dan seterusnya muncul
lagi di benakku. Sungguh kejam orang yang meracuni pikiran anakku. Yang tega
memfitnahku. Seingatku, aku tak pernah mengkhianati istriku, apa lagi selingkuh
dan membunuhnya.
Aku seruput
kopinya selagi masih hangat dan nikmat. Aku coba melihat HP ku, ternyata masih
off. Kucoba hidupkan ternyata sangat banyak pesan dan miss call yang masuk. Saat
itu tiba tiba HP ku berdering. “Halo, Selamat Siang, dengan Suhendro disini”
sapaku. Dari seberang suara Kepala Sekolah Laksmi menelponku. Meminta aku besok
datang ke sekolahnya. Pertanyaan baru muncul menambah pertanyaan di benakku. Ada
apa lagi anak gadis remajaku ini. Apa ada masalah di sekolahnya.
Aku
selesaikan bill kopi ku, terus aku menelpon sopirku untuk datang menjemputku.
Aku sudah share lokasi. Aku mau pulang mau tidur, mungkin tidur dapat
menyegarkan pikiranku. Itu Obay galau yang paling paten saat ini, tidur.
Sesuai
undangan Kepala Sekolah aku sampai lima menit lebih awal, aku pergi ke ruang
Kepala Sekolah. Aku diminta menunggu sebentar, karena Pak Kepala masih mengajar
di kelas. Aku disuguhi kopi dengan kue kue tradisional, ada tiga cangkir kopi
lagi dan kue cukup untuk empat orang.
Pak Kepala
Sekokah datang bersamaan dengan guru BP dan wali kelas Laksmi. Pak Kepala
Sekolah (Kepsek) menjelaskan bahwa Laksmi terpilih untuk mewakili pertukaran
pelajar ke Canada, itu memerlukan persetujuan orang tua. Aku di panggil karena
kemarin Laksmi membawa ayah (kakeknya) untuk memberikan persetujuan, dan
sekolah tidak mau. Itu harus tanda tangan dari aku ayah kandungnya.
Guru BP
menjelaskan bahwa dia menduga antara aku dan Laksmi ada konflik sehingga perlu
beliau ketengahi, untuk mediasi, karena tidak baik untuk Laksmi yang masih
muda. Guru Wali menjelaskan bahwa Laksmi masih juara kelas semester ini, namun
nilainya goncang. Aku diminta ikut mengawasi dan menemukan penyebabnya.
Semuanya aku ucapkan terimakasih kepada semuanya. Kepsek dan Guru Wali pamit
duluan, aku tetap ngobrol sama Ibu Guru BP. Tak lama berselang Pak Kepsek
membawa Laksmi ke tempat aku dengan Bu Guru BP. Pak Kepsek terus pergi ke kelas
lagi meninggalkan kami.
Laksmi aku
tawari pelukan dengan membuka kedua tanganku, dia menabrak aku dan menangis
sejadi jadinya. Omelan bahwa aku telah membunuh mamanya, masih sesekali
diucapkan. Tapi dia tak menyebut lagi aku selingkuh.
Bu Guru BP
menyuruh aku untuk diam men dengar dan membiar kan Laksmi bicara. Rupanya dia
menganggap aku dengan Tante Hani bersekongkol, agar bisa menikah dengannya. Oh
tante Herni maksudnya Itu menyakiti hati mamanya, menurut Laksmi. Aku tetap
diam menjadi pendengar setia. Herni itu Suherni, adalah kakak istriku yang
belum menikah karena mengejar kariernya sebagai dosen di almanaternya. Istriku
adiknya Suwarni menikah denganku, lima belas tahun lalu. Jadi aku faham biang keladinya.
Jadi ini mudah solusinya, karena anak anakku sangat respek dengan tantenya.
Setelah dia
terdiam dan duduk dipangkuan aku papanya. Aku usap usap rambutnya. Bu Guru BP
menyilahkan aku ngomong. Aku minta Laksmi duduk di depanku, biar aku bida
menatap matanya. Wajah Laksmi mirip wajah mamanya. Aku cuma bilang ini salah
faham, ayo besok jumat sore kita temui tantemu di Bandung. Kamu tanya dia
langsung apa sebenar nya yang terjadi. Anakku mengangguk, dan dia minta aku
ijinkan dia ikut pertukaran pelajar ke Canada. “Oke, kalau memang kemauan kamu,
papa setuju” kataku sambil menanda tangani surat persetujuan itu. Aku keluar dari sekolah Laksmi, dia mencium punggung
tanganku sepert biasa. Aku lega aku mau pulang, dan siap siap pergi akhir pekan
ini.
Aku jemput putra putriku, untuk pergi ke Bandung. Kakek dan
neneknya ikut juga. Dua mobil meluncur ke Bandung lewat tol Cipularang. Tante
Herni tak tahu kedatangan kami sebelumnya. Saat kani tiba masih sore, dia di
beranda, masih membaca buku, dan draf thesis masih numpuk kelihatan habis
berdiskusi dengan bimbingannya.
Anak anakku sangat dekat dengan tantenya. Dia dua
bersaudara, orangtuanya mertua ku keduanya menjadi korban letusan Gunung
Galunggung. Saat itu mereka lagi menengok kebon teh, mereka lagi nginap disana
terus bencana itu datang. Sesekali Harni masih pulang ke Tasikmalaya. Tetapi aku
heran kok putriku bisa curiga ke tante nya. Laksmi sambil ngobrol menanyakan
kebenaran berita itu, apa benar tantenya bersekongkol membunuh mamanya, karena
mau menikah dengan papa. Dasar anak anak nanya nya kok polos amat. Untung
tantenya sabar dan mengerti psikologi anak anak ku.
Dengan tenang Suherni menjelaskan ke ponakannya bahwa itu
tidak benar. Nah Laksmi tetap ngotot tidak bisa dijelasin, akhirnya papanya minta
Herni menyuruh Laksmi membaca surat mamanya. Lalu Tante Herni membuka laci, dan
menarik tangan Laksmi, menyuruh membaca surat itu. Surat itu surat dari mama,
yang dititipkan nya kepada ayah untuk diberikan kakaknya. Yang satu surat
wasiat yang mamanya kirimkan via kurir sebulan sebelum kematiannya. Tante
memberikan ke Laksmi dan membacanya.
Surat pertama, jelas tanggalnya sekitar sebulan setengah
sebelum mama meninggal isinya: “Kak, umurku kata dokter tidak lama lagi, sakitku
sudah stadium akhir. Aku pingin bertahan mungkin sudah tak bisa. Kalau waktu
itu tiba, aku titip anak anakku untuk kakak urus. Kakak anggaplah mereka anak
sendiri sebagai pengganti kehadiran aku”. Kulihat di kertas surat ada bekas tetes air
mata. Laksmi terdiam seribu bahasa. Laksmi baru tahu ternyata mamanya sudah lama sakit. Kok mama
tak pernah bilang, mungkin tak mau membebani pikiran kami anak anaknya. Air
mata Laksmi juga menetes di surat itu menyatu dengan air mata tanteku yang
sudah mengering. Ada kesedihan mendalam di kedua wanita itu.
Surat ke dua, mama titipkan ke papa untuk membawa ke Tante
Herni, seminggu sebelum kematiannya. Karena didesak mama, maka papaku pergi ke
Bandung mengantar amanah itu meninggalkan mama di RS. Aku ingat kakek yang
menunggu mama saat itu. Benar Laksmi tahu papanya ke Bandung diantar Om Hadi,
sepupu ayahku dari nenekku. Aku tak sanggup membacanya namun untuk menjawab
keraguanku kucaba membaca walau dengan derai air mata.
Isi surat ke dua lebih pendek, aku yakin itu tulisan tangan
mamaku. Tulisannya sudah tak konsisten. Isinya: “Kakakku tercinta, saatnya
sudah semakin dekat aku meninggalkan kalian Aku titip anak anak untuk kakak
didik seperti mendidik aku dulu. Bila kakak mau, nikahlah dengan Suamiku, dia
suami yang baik. Aku serahkan semua keputusannya pada kakak, aku percayakan
penuh mereka kepada kakak” Adikmu Suwarni.
Tulisannya susah tidak stabil tapi itu tulisan mama, mungkin
tangannya sudah gemetaran. Dua hari setelah tanggal itu mama tiada. Kami
menangis saling berpelukan dengan Tante Herni. Adik adik Laksmi melihat kakak
dan tantenya menangis, merekapun ikutan rangkulan semua dan menangis
sesenggukan.
Laksmi merasa sudah bersalah besar kepada tantenya, dia tak
henti hentinya meminta maaf kepada tantenya. Dia merasa bersalah sama papanya,
sehingga semakin menambah duka papanya. Herni tahu psikis anak anaknya -yang
dia bahasakan selama ini kepada keponakannya- iapun mengajak anak anak mencuci
muka, segera duduk kumpul dengan papanya. Laksmi memeluk ayahnya dia minta maaf
sama ayahnya.
Malam itu tante Herni menawari mereka untuk meginap saja di
Bandung. Kakek dan Neneknya Laksmi lagi mampir ke kerabatnya di Dago diantar
sopir mungkin juga menginap disana. Rombongan itu bergerak ke luar untuk
mencari makan di Bandung Indah Plaza. Mereka makan pada sebuah restoran Padang,
seperti kemauan anak anak. Herni sangat bijaksana sekarang sifatnya kok seperti
adiknya.
Sehabis makan mereka pergi
menonton kebetulan ada pemutaran film warkop reborn. Laksamana terus gelayutan
sama tantenya. Aku terpaksa ikutan nonton. Tapi pikiranku tidak bisa berhenti
Adi kok tega memfitnah aku di kala begini dikala aku berduka. Aku kasihan
psikis anak anakku terganggu.
Anak anakku kelihatan senang sekali bersama tantenya malam
itu. Laksamana tidur dengan tantenya malam itu, Laksmi, Savitri dan aku tidur
di kamar yang lain. Keesokan harinya setelah sarapan kami pamitan pulang,
sedangkan anak anak yang pas libur long week end, oleh tantenya tetap diminta
tinggal oleh menemaninya. Biar belajar naik kereta nanti pulang ke Jakarta
katanya.
Di Bandung rupanya Laksmi dipersiapkan tantenya untuk
mandiri karena mau ikut pertukaran pelajar. Dia merasa terlalu berat tantenya
mentraining dia. Tapi Laksmi asyik saja karena dia ingat didikan tante Herni
mirip dengan didikan ibu.
Laksmi menjadi lebih semangat dan lebih mandiri menjalani
hari harinya. Ayah nya pun sangat berterima kasih pada Herni. Laksmi sudah bisa
mengomando adik adiknya balik ke Jakarta naik Kereta Api saat itu. Di sekolah
juga dia sudah kembali ke gaya aslinya. Laksmi bisa menyetrika pakaiannya
sendiri, dia pingin selalu perfect. Adik adiknya pun sangat respek padanya. Ini
kata tantenya biar dia bisa mandiri saat pertukaran pelajar nanti.
Akhirnya sejalan dengan semakin lengketnya Laksmi dengan Herni,
serta Laksamana diminta pindah sekolah ke Bandung agar bisa lebih diawasi
Herni. Rayuan Laksmi ke Tantenya agar Herni mau menikah dengan aku ayahnya,
luluh juga hatinya. Kata Herni: ”untuk meredam omongan orang” dengan seringnya aku datang ke rumah
Herni, dan anak anak sudah menganggap Herni mamanya, aku menikah dengan
sederhana disaksikan kerabat terdekat,
teman kerja dan anak anakku. Permintaan Laksmi agar kami menikah mengabulkan
permintaan almarhum mama, sebelum Laksmi berangkat pertukaran pelajar.
Dengan pertimbangan kampus tempat tante Herni mengajar di
Bandung, Laksamana dan Savitri dipindahkan ke Bandung, ayah masih wira wiri
Bandung Jakarta, karena usahanya ada di Jakarta. Keluarga itupun mencapai
kebahagiaan, seperti kalimat dalam Sloka di Bagawad Gita. “Ku ciptakan engkau
saling berpasang pasangan untuk menyatu membangun keluarga, berkembang biak
untuk mencapai kebahagiaan”. Maknanya sangat dalam, orang berkeluarga itu untuk
melengkapi hidup, melahirkan keturunan, dan untuk teman mencapai kebahagiaan
lahir bathin, dunia akhirat. ‘Swargo katut, neroko nunut’. Ungkapan kuno itu
rupanya relevan dengan sloka BG.
Pakdepudja@puri_gading, 08082023.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar