Selasa, 05 September 2023

Cerpen 6. Kakak Iparku, Ibu Anak anakku.

 

 

Cerpen.

 

“KAKAK IPARKU, IBU ANAK ANAKKU”.

 

Akhirnya Suhendro dan Suherni menikah sesuai dengan amanat almarhum istrinya. Suherni membatalkan keputusannya untuk tidak menikah. Dia dosen yang berhasil, pada akhirnya sampai pada jabatan puncak sebagai Guru Besar. Almarhumah istri Suhendro adik dari Suherni. Almarhum meninggal karena digrogoti kangker sudah cukup lama. Laksmi, Laksamana dan Savitri yang memang dekat dengan tante Herni, mendapatkan kasih sayang mamanya yang hilang. Merekapun hidup rukun dan damai dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan, menikmati hari harinya di tiga tempat, Bandung, Tasikmalaya dan Jakarta.

**#**

Sungguh galau hatiku pagi itu, sangat banyak pertanyaan yang tak mampu kujawab sendiri. Sama dengan hari hari yang lain bahkan jauh lebih sulit dari membawa perusahaan kami saat sulit pandemi ke banding ini. Hari ini aku ke kantor hanya mau mampir main saja sambil mengusir kegalauanku. Aku tak betah berlama lama di ruangan, aku jalan saja dan tak mau di temani sopir atau siapapun, asistenku Aini masih memimpin rapat staff.

 

Aku keluar halaman kantor berjalan menyusuri trotoar, dibawah pohon Sakura yang lagi berbunga menuju sebuah café. Sekitaran pk 10 30 aku tiba dan berhenti disana duduk di pojokan. Aku bilang sama waitres tidak mau diganggu, aku hanya memesan kopi vietnam dan sepotong wafel. Aku pejamkan lagi mataku, pertanyaan itu muncul lagi. Itu tuduhan anak gadis remajaku, Laksmi. Aku dengan istriku mempunyai tiga anak. Pertama Laksmi Dewi, sudah remaja kelas dua SMP, Laksamana kelas 6 SD dan Savitri Dewi baru kelas 4 SD. Yang bontot anakku yang paling cuek, dia hanya dan sangat respek sama kakaknya Laksmi ke banding denganku. Laksamana orang yang paling dekat dengan istriku. Sebenarnya cuma Laksmi yang biasa menghiburku, tapi kali ini tidak. Dia komandan pembenci aku.

 

Baru sebulan istriku meninggal dan dimakamkan di pemakaman keluarga. Aku masih sering mengunjungi makamnya, seakan aku belum ikhlas menerima kepergiannya. Ia aku memang belum bisa ikhlas.  Istriku malah terlihat lebih tabah dan tegar menghadapi kematiannya. Karena dia sudah diberitahu dokter tentang harapan sakitnya. Sejak kematian almarhumah, orang tuaku ikutan menemani aku di rumah.

 

Galau beratku mulai muncul ketika orang tuaku mau pamitan kembali kerumah tempat tinggalnya. Masih sekota tapi berlainan jalan, lebih dekat dengan pasar dan sekolah anak anakku. Terutama yang SD, hanya yang SMP sekolahnya lebih dekat ke tempat tinggal ku.

 

Ketika itu aku ngobrol berdua dengan anakku Laksmi, tiba tiba ia berteriak:”Papa jahat, papa bunuh mamaku dengan halus, papa sekongkol dengan tante Hani”.  “Karena papa jahat, maka biarkan kami tinggal sama kakek dan nenek saja” lanjutnya.

 

Hampir aku kehilangan kendali mau memukul Laksmi, tapi ayahku keburu menahan tanganku. Akhirnya kami rangkulan, dan meminta maaf sama beliau. Ayah memahami ke marahanku. Beliau bilang:”Biarkan anak anak ikut ayah dulu, dia belum bisa mengikhlaskan kepergian mamanya”. “Silahkan yah, aku titip anak anak. Biarkan mereka menenangkan diri dulu”, sambung ku ketika itu.

 

Waitres mempersilah kan aku minum, kopi sudah siap dengan sepotong kue pesanan ku. Aku diberikannya sepotong wafel dan jamm madu serta blueberry menyertai kopi vietnam. Aku seruput kopinya, terasa lebih nikmat dari kopi Bu Irah tadi pagi di rumah. Aku kembali dengan pertanyaan terkait anakku, kenapa dia bisa ngomong begitu. Benarkan aku telah membunuh istriku, benarkan Hani kerjasama denganku membunuhnya?. Siapa yang memberikan dia informasi ini? Dan seterusnya muncul lagi di benakku. Sungguh kejam orang yang meracuni pikiran anakku. Yang tega memfitnahku. Seingatku, aku tak pernah mengkhianati istriku, apa lagi selingkuh dan membunuhnya.

 

Aku seruput kopinya selagi masih hangat dan nikmat. Aku coba melihat HP ku, ternyata masih off. Kucoba hidupkan ternyata sangat banyak pesan dan miss call yang masuk. Saat itu tiba tiba HP ku berdering. “Halo, Selamat Siang, dengan Suhendro disini” sapaku. Dari seberang suara Kepala Sekolah Laksmi menelponku. Meminta aku besok datang ke sekolahnya. Pertanyaan baru muncul menambah pertanyaan di benakku. Ada apa lagi anak gadis remajaku ini. Apa ada masalah di sekolahnya.

 

Aku selesaikan bill kopi ku, terus aku menelpon sopirku untuk datang menjemputku. Aku sudah share lokasi. Aku mau pulang mau tidur, mungkin tidur dapat menyegarkan pikiranku. Itu Obay galau yang paling paten saat ini, tidur.

 

Sesuai undangan Kepala Sekolah aku sampai lima menit lebih awal, aku pergi ke ruang Kepala Sekolah. Aku diminta menunggu sebentar, karena Pak Kepala masih mengajar di kelas. Aku disuguhi kopi dengan kue kue tradisional, ada tiga cangkir kopi lagi dan kue cukup untuk empat orang.

 

Pak Kepala Sekokah datang bersamaan dengan guru BP dan wali kelas Laksmi. Pak Kepala Sekolah (Kepsek) menjelaskan bahwa Laksmi terpilih untuk mewakili pertukaran pelajar ke Canada, itu memerlukan persetujuan orang tua. Aku di panggil karena kemarin Laksmi membawa ayah (kakeknya) untuk memberikan persetujuan, dan sekolah tidak mau. Itu harus tanda tangan dari aku ayah kandungnya.

 

Guru BP menjelaskan bahwa dia menduga antara aku dan Laksmi ada konflik sehingga perlu beliau ketengahi, untuk mediasi, karena tidak baik untuk Laksmi yang masih muda. Guru Wali menjelaskan bahwa Laksmi masih juara kelas semester ini, namun nilainya goncang. Aku diminta ikut mengawasi dan menemukan penyebabnya. Semuanya aku ucapkan terimakasih kepada semuanya. Kepsek dan Guru Wali pamit duluan, aku tetap ngobrol sama Ibu Guru BP. Tak lama berselang Pak Kepsek membawa Laksmi ke tempat aku dengan Bu Guru BP. Pak Kepsek terus pergi ke kelas lagi meninggalkan kami.

 

Laksmi aku tawari pelukan dengan membuka kedua tanganku, dia menabrak aku dan menangis sejadi jadinya. Omelan bahwa aku telah membunuh mamanya, masih sesekali diucapkan. Tapi dia tak menyebut lagi aku selingkuh.

 

Bu Guru BP menyuruh aku untuk diam men dengar dan membiar kan Laksmi bicara. Rupanya dia menganggap aku dengan Tante Hani bersekongkol, agar bisa menikah dengannya. Oh tante Herni maksudnya Itu menyakiti hati mamanya, menurut Laksmi. Aku tetap diam menjadi pendengar setia. Herni itu Suherni, adalah kakak istriku yang belum menikah karena mengejar kariernya sebagai dosen di almanaternya. Istriku adiknya Suwarni menikah denganku, lima belas tahun lalu. Jadi aku faham biang keladinya. Jadi ini mudah solusinya, karena anak anakku sangat respek dengan tantenya.

 

Setelah dia terdiam dan duduk dipangkuan aku papanya. Aku usap usap rambutnya. Bu Guru BP menyilahkan aku ngomong. Aku minta Laksmi duduk di depanku, biar aku bida menatap matanya. Wajah Laksmi mirip wajah mamanya. Aku cuma bilang ini salah faham, ayo besok jumat sore kita temui tantemu di Bandung. Kamu tanya dia langsung apa sebenar nya yang terjadi. Anakku mengangguk, dan dia minta aku ijinkan dia ikut pertukaran pelajar ke Canada. “Oke, kalau memang kemauan kamu, papa setuju” kataku sambil menanda tangani surat persetujuan itu. Aku keluar dari sekolah Laksmi, dia mencium punggung tanganku sepert biasa. Aku lega aku mau pulang, dan siap siap pergi akhir pekan ini.

 

Aku jemput putra putriku, untuk pergi ke Bandung. Kakek dan neneknya ikut juga. Dua mobil meluncur ke Bandung lewat tol Cipularang. Tante Herni tak tahu kedatangan kami sebelumnya. Saat kani tiba masih sore, dia di beranda, masih membaca buku, dan draf thesis masih numpuk kelihatan habis berdiskusi dengan bimbingannya.

 

Anak anakku sangat dekat dengan tantenya. Dia dua bersaudara, orangtuanya mertua ku keduanya menjadi korban letusan Gunung Galunggung. Saat itu mereka lagi menengok kebon teh, mereka lagi nginap disana terus bencana itu datang. Sesekali Harni masih pulang ke Tasikmalaya. Tetapi aku heran kok putriku bisa curiga ke tante nya. Laksmi sambil ngobrol menanyakan kebenaran berita itu, apa benar tantenya bersekongkol membunuh mamanya, karena mau menikah dengan papa. Dasar anak anak nanya nya kok polos amat. Untung tantenya sabar dan mengerti psikologi anak anak ku.

 

Dengan tenang Suherni menjelaskan ke ponakannya bahwa itu tidak benar. Nah Laksmi tetap ngotot tidak bisa dijelasin, akhirnya papanya minta Herni menyuruh Laksmi membaca surat mamanya. Lalu Tante Herni membuka laci, dan menarik tangan Laksmi, menyuruh membaca surat itu. Surat itu surat dari mama, yang dititipkan nya kepada ayah untuk diberikan kakaknya. Yang satu surat wasiat yang mamanya kirimkan via kurir sebulan sebelum kematiannya. Tante memberikan ke Laksmi dan membacanya.

 

Surat pertama, jelas tanggalnya sekitar sebulan setengah sebelum mama meninggal isinya: “Kak, umurku kata dokter tidak lama lagi, sakitku sudah stadium akhir. Aku pingin bertahan mungkin sudah tak bisa. Kalau waktu itu tiba, aku titip anak anakku untuk kakak urus. Kakak anggaplah mereka anak sendiri sebagai pengganti kehadiran aku”.  Kulihat di kertas surat ada bekas tetes air mata. Laksmi terdiam seribu bahasa. Laksmi baru tahu  ternyata mamanya sudah lama sakit. Kok mama tak pernah bilang, mungkin tak mau membebani pikiran kami anak anaknya. Air mata Laksmi juga menetes di surat itu menyatu dengan air mata tanteku yang sudah mengering. Ada kesedihan mendalam di kedua wanita itu.

 

Surat ke dua, mama titipkan ke papa untuk membawa ke Tante Herni, seminggu sebelum kematiannya. Karena didesak mama, maka papaku pergi ke Bandung mengantar amanah itu meninggalkan mama di RS. Aku ingat kakek yang menunggu mama saat itu. Benar Laksmi tahu papanya ke Bandung diantar Om Hadi, sepupu ayahku dari nenekku. Aku tak sanggup membacanya namun untuk menjawab keraguanku kucaba membaca walau dengan derai air mata.

 

Isi surat ke dua lebih pendek, aku yakin itu tulisan tangan mamaku. Tulisannya sudah tak konsisten. Isinya: “Kakakku tercinta, saatnya sudah semakin dekat aku meninggalkan kalian Aku titip anak anak untuk kakak didik seperti mendidik aku dulu. Bila kakak mau, nikahlah dengan Suamiku, dia suami yang baik. Aku serahkan semua keputusannya pada kakak, aku percayakan penuh mereka kepada kakak” Adikmu Suwarni.

 

Tulisannya susah tidak stabil tapi itu tulisan mama, mungkin tangannya sudah gemetaran. Dua hari setelah tanggal itu mama tiada. Kami menangis saling berpelukan dengan Tante Herni. Adik adik Laksmi melihat kakak dan tantenya menangis, merekapun ikutan rangkulan semua dan menangis sesenggukan.

 

Laksmi merasa sudah bersalah besar kepada tantenya, dia tak henti hentinya meminta maaf kepada tantenya. Dia merasa bersalah sama papanya, sehingga semakin menambah duka papanya. Herni tahu psikis anak anaknya -yang dia bahasakan selama ini kepada keponakannya- iapun mengajak anak anak mencuci muka, segera duduk kumpul dengan papanya. Laksmi memeluk ayahnya dia minta maaf sama ayahnya.

 

Malam itu tante Herni menawari mereka untuk meginap saja di Bandung. Kakek dan Neneknya Laksmi lagi mampir ke kerabatnya di Dago diantar sopir mungkin juga menginap disana. Rombongan itu bergerak ke luar untuk mencari makan di Bandung Indah Plaza. Mereka makan pada sebuah restoran Padang, seperti kemauan anak anak. Herni sangat bijaksana sekarang sifatnya kok seperti adiknya.

 

Sehabis makan mereka  pergi menonton kebetulan ada pemutaran film warkop reborn. Laksamana terus gelayutan sama tantenya. Aku terpaksa ikutan nonton. Tapi pikiranku tidak bisa berhenti Adi kok tega memfitnah aku di kala begini dikala aku berduka. Aku kasihan psikis anak anakku terganggu.

 

Anak anakku kelihatan senang sekali bersama tantenya malam itu. Laksamana tidur dengan tantenya malam itu, Laksmi, Savitri dan aku tidur di kamar yang lain. Keesokan harinya setelah sarapan kami pamitan pulang, sedangkan anak anak yang pas libur long week end, oleh tantenya tetap diminta tinggal oleh menemaninya. Biar belajar naik kereta nanti pulang ke Jakarta katanya.

 

Di Bandung rupanya Laksmi dipersiapkan tantenya untuk mandiri karena mau ikut pertukaran pelajar. Dia merasa terlalu berat tantenya mentraining dia. Tapi Laksmi asyik saja karena dia ingat didikan tante Herni mirip dengan didikan ibu.

 

Laksmi menjadi lebih semangat dan lebih mandiri menjalani hari harinya. Ayah nya pun sangat berterima kasih pada Herni. Laksmi sudah bisa mengomando adik adiknya balik ke Jakarta naik Kereta Api saat itu. Di sekolah juga dia sudah kembali ke gaya aslinya. Laksmi bisa menyetrika pakaiannya sendiri, dia pingin selalu perfect. Adik adiknya pun sangat respek padanya. Ini kata tantenya biar dia bisa mandiri saat pertukaran pelajar nanti.

 

Akhirnya sejalan dengan semakin lengketnya Laksmi dengan Herni, serta Laksamana diminta pindah sekolah ke Bandung agar bisa lebih diawasi Herni. Rayuan Laksmi ke Tantenya agar Herni mau menikah dengan aku ayahnya, luluh juga hatinya. Kata Herni: ”untuk meredam omongan  orang” dengan seringnya aku datang ke rumah Herni, dan anak anak sudah menganggap Herni mamanya, aku menikah dengan sederhana disaksikan kerabat terdekat,  teman kerja dan anak anakku. Permintaan Laksmi agar kami menikah mengabulkan permintaan almarhum mama, sebelum Laksmi berangkat pertukaran pelajar.

 

Dengan pertimbangan kampus tempat tante Herni mengajar di Bandung, Laksamana dan Savitri dipindahkan ke Bandung, ayah masih wira wiri Bandung Jakarta, karena usahanya ada di Jakarta. Keluarga itupun mencapai kebahagiaan, seperti kalimat dalam Sloka di Bagawad Gita. “Ku ciptakan engkau saling berpasang pasangan untuk menyatu membangun keluarga, berkembang biak untuk mencapai kebahagiaan”. Maknanya sangat dalam, orang berkeluarga itu untuk melengkapi hidup, melahirkan keturunan, dan untuk teman mencapai kebahagiaan lahir bathin, dunia akhirat. ‘Swargo katut, neroko nunut’. Ungkapan kuno itu rupanya relevan dengan sloka BG.

 

Pakdepudja@puri_gading, 08082023.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar