Jumat, 15 September 2023

Cerpen 9. "STM"

 

 

“STM,  SAHABAT TAPI MESRA”

 

Cerpen: Pakde Pudja

 

Sebagai seorang suami Rendi sangat mencintai istrinya, diapun sudah berjanji menemani istrinya berjuang untuk sehat. Darmini sudah hamil anak pertamanya, dia telah berhasil melakukan tugasnya mengakuisi beberapa perusahaan untuk kantornya. Namun Rendi pun sangat berhasil sudah mampu mengakuisisi hati Darmini, setelah dia dijadikan pelarian cinta Ariati. Diapun sering bersenandung “peluklah daku dan lepaskan” lagu ‘kebangsaan Rendi di kalau galau”. Dari Sahabat Tetapi Mesra berubah menjadi Sahabat Tetapi Menikah, antara Rendi -Darmini.

**#**

Rendi pagi pagi sudah bersenandung di toilet. Senandungnya galau aku tahu itu lagu jadul, cinta pelarian, “cintamu hanya pelarian” hanya itu yang ku ingat liriknya. Darmini (Darmi) menantikan di depan pintu keluar toilet, dan mencegat Rendi ngajak ngopi di ruangannya. “Mumpung masih pagi, ayo ngopi dulu Ren” Darmi nawari Rendi.

Mereka masuk ke ruangan Darmi, dia membuatkan Rendi kopi  hanya kopi sachetan. Mereka memilih kopi cream latte. Rendi duduk di sofa sambil memperhatikan Darmi membuatkan kopi. Darmi memang memesona

Lalu kopi sudah tersaji mereka duduk di sofa. Darmi memang sahabat dari kecil Rendi. Sehingga terkadang perasaan merekapun seakan terhubung. Yang satu merasakan kesedian atau kegembiraan yang lain. Intinya keduanya gengsi walau saling jatuh cinta, alasannya klasik lebih baik bersahabat, kata mereka.

Darmi duduk gelayutan sebelah Rendi. Dia sampaikan bahwa dia mendengar lagu yang disenandungkan Rendi adalah kekecewaan. “Ya siapa tak kecewa Dar, aku yang sehari hari pacaran dengan Ariati eh.. nikahnya sama Toni si play boy itu” pungkas Rendi dengan emosi. Sangat emosi dia. Darmi mengelus elus bahu Rendi, dia duduk di handrest sofa sebelah Rendy. Sesekali dia mengelus elus pundak Rendi, ”sabar Ren, memang bukan jodoh mungkin. Untung sekarang dia meninggalkan kamu. Coba saat sudah menjadi istrimu pasti kamu lebih sakit” lanjut Darmi.

Mereka ngobrol serius, Rendi merasa dia hanya dipakai tempat pelarian saja. Dengan cinta pelarian Ariati, dia pintar merahasiakan sesuatu. Itulah wanita bisik hati Rendi. Rendi sudah memperlakukan Ariati bagaikan ratu, tapi teganya dia meninggalkan begitu saja.

Darmi sebenarnya jauh lebih cantik, semampai, mata tajam dengan jari lentik  berkuku panjang. Rambutnya panjang sedikit ngombak. Kulitnya mulus sekali. Rendi tahu karena dia terbiasa dengan Darmi, dia sahabatnya sejak kecil Rendi.

Darmi merasa temannya dipermainkanlah, kalau begitu persoalannya. Darmi memberikan sedikit teraphi mencium tipis bibir Rendi eh Rendi bereaksi. “cukup cukup Ren” bisik Darmi. Ayo kerja sudah hampir pukul delapan.  Rendi pamit balik ke ruangannya.

Hari berganti hari, Minggu berganti minggu, sudah hampir sebulan Rendi tak ketemu Darmi, dia hanya sekelebatan muncul di kantor, jangankan ngopi nyapa saja belum sempat dia sudah hilang. Padahal aku mau sharing dengannya, selama nyaris sebulan setengah pernikahan Ariati. Mungkin dia ada proyek di luar kantor yang perlu konsentrasi.

Pesan Ariati masuk di WA nya Rendi, dia ingin ketemuan pulang kantor nanti sore. Walau berat Rendi oke kan saja. Mereka ketemuan di cafe yang sering mereka datangi saat pacaran dulu. Tak ada semangat Rendi berangkat dia santai saja tidak seperti dulu. Fikirnya ketemu syukur, nggak ketemu enggak apa apa, dari pada sakit hati lagi menjadi tempat pelarian.

Rendi datang sekitar lima belas menit setelah waktu yang di janjikan

Nampaknya Ariati sudah disana menunggu. Dia sudah memesan minum. Mereka saling menyapa basa basi, ketika Ariati mau cipika cipiki Rendi menarik mukanya pertanda dia menolak. Terlihat memerah malu muka Ariati.

Rendi hanya menjadi pendengar setia tanpa mau komentar apapun.  Lalu Ariati bercerita bahwa pernikahannya sudah kandas, dia menggugat cerai suaminya. Suaminya sudah setuju. Ariati stress memikirkan kelakuan suaminya, yang dia tahu dari kiriman video seseorang yang telah berbaik hati mengirimkan kebejatan suaminya, sehingga mudah untuk Ariati menuntut cerai. Karena sudah ada kesepakatan dengan Toni lewat kuasa hukum masing masing, mereka tinggal menunggu pengesahan perceraian mereka, terlebih belum ada harta gono gini.

Ariati meminta maaf atas perlakuannya kepada Rendi. Dia sudah menelantarkan cinta suci Rendi. Ariati bilang dia dibutakan hatinya oleh Toni. Akibat kelewatan hubungannya menjadikan Ariati hamil. Kehamilannya sebulan pernikahan keguguran dalam umur sepuluh minggu. Rendi hanya diam mematung tanpa komentar mendengarkan nya membuat Ariati marah. Rendi hanya bilang, yang marah harusnya saya bukan kamu Ar.

*Cukup cukup kata Rendi, hatiku sudah tertutup dan belum bisa lagi untukmu” sahut Rendi mengakhiri pertemuan itu, dan langsung pergi meninggalkan Ariati dalam tangisnya sendiri di cafe itu.

Setiap pagi Rendi menyambangi ruangan Darmini, namun lebih banyak kosongnya. Diapun akan mencoba mengirim pesan siapa tahu dia ada waktu. Siang itupun saat istirahat makan Rendi mengirim pesan. “Dar, aku kehilangan kamu. Aku pingin ketemu denganmu mau curhat lanjutan” pesanku. Aku hanya makan di kantin kantor, ketemu teman teman sekantor. Ada Rini, Nindi, Maya siang itu, akupun gabung di mejanya. Kugoda Maya yang bahenol, “Maya....aaa  Maya jangan kau tinggalkan diriku....” itu potongan lagu Maya nya Muchsin Alatas.

Obrolanpun kesana kemari. Lebih banyak membahas polusi udara yang memperburuk udara ibukota siang itu. QPI sudah diatas 400 padahal ambangnya 260. Aku, ditanya mereka tentang QPI, kujawab sekenanya Quality of Pollutan Indexs. Dan kuberi sedikit penjabaran polutan dan komposisi gas atau zat di udara.

Maya mengambil inisiatif sekarang kita yang traktir Rendi. Tapi besok  Rendi yang traktir kita. Mereka bertiga setuju. Oke setuju. Dan  kamipun keluar kantin berpencar ke ruangan masing masing.

Menjelang pulang pesanku di balas Darmi. Dia mengajak ketemuan di cafe dekat stasiun kereta api, katanya dia sampai dari Cikarang sekitar PK 17 an. Kujawab: “Oke, siap, sampai  ketemu”.

Ketika aku datang Darmi belum sampai mungkin macet di tol  dari Cikampek atau Keretanya tekat. Aku pilih sebuah meja di pinggir kanan live music home band cafe nya. Penyaninya pun melantunkan lagu lagu oldist, dan lagi  mengalunkan lagu lama “Peluklah Daku dan Lepaskan” karangan Jessi Wenas, aku lupa penyanyi aslinya, tapi di cover oleh Victor Hutabarat dengan suara emasnya. Syairnya memang sering kusenandungkan. Darmi tahu bila kusenandungkan berarti aku sedang galau. Syairnya seperti berikut seingatku.

Tak mengapa jikalau berpisah, sayang

Cintamu jangan kau paksakan

Masa lalu bagiku tinggal kenang-kenangan

Peluklah daku dan lepaskan

Yang menggantikan daku telah sedia

Orang yang dahulu kutanyakan padamu

Tak terjawabkan

Sudah sejak dahulu telah kukatakan

Cintamu hanya pelarian

Kini dikau pun sadar daku yang jadi korban

Peluklah daku dan lepaskan

Yang menggantikan daku telah sedia

Orang yang dahulu kutanyakan padamu

Tak terjawabkan

Sudah sejak dahulu telah kukatakan

Cintamu hanya pelarian

Kini dikau pun sadar daku yang jadi korban

Peluklah daku dan lepaskan

Dan lepaskan

Dan lepaskan

Tiba tiba Darmi tepuk tangan sehabis lagu itu dinyanyikan, menghampiri ku, biasa kami saling berpelukan sebentar. Dan tidak lama lama seperti itu, peluklah daku dan lepaskan. Oleh Darmi para penyanyi di suruh istirahat makan dulu. Lalu kamipun ngobrol kata Darmi dia sudah order menu.

“Nah sudah bereskan sakit hatinya. Kan sudah ketemu Ariati. Dia sudah mengakhiri pernikahannya. Begitu saja nyaris patah hati kau Ren” katanya membuka obrolan. “Terimakasih, sudah kuduga kamu pasti bergerak Dar. Kamu memang sahabat sejati, kataku. Bagaimana kalau...” sampai disana aku ngobrol dia menutup bibirku. Apa aku harus tutup dengan ciuman Ren. “Ha ha ha..” tawa kami berderai. Ayo kita makan minum dulu, hal yang serius kita bicarakan di kantor saja, nanti diintip orang” sambung Darmini. Kami menikmati paket nasi timbel lengkap dengan sambel Tutuk, nila goreng, lenca dan sayur asem, sedangkan Darmi makan lontong laksa. Sama seperti dulu kami sharing makan, aku suapi Darmi menuku, diapun menyuapi aku menunya. Sangat mesra. Diapun sering kucium dan sebaliknya. Jadi kami itu STM, Sahabat Tapi Mesra. Hanya tidak sampai berhubungan badan. Dia sebenarnya idolaku, bodinya sempurna, pribadinya menurutku oke. Ngobrol nyambung. Dia orang yang smart.

Sebelum pulang Darmini bilang dia tak tega melihat sahabatnya tersakiti. Tugas dia menghentikan. “Tapi mengapa....” lagi lagi bibirku ditutupnya disuruh diam, dan dia ajak aku menyanyikan sebuah lagu ketika pemain band mau mulai. Lagu “Tiada Lagi” nya The Mercy”s. Dan kamipun bernyanyi. Mengalun merdu lagu kami, air mataku nyaris menetes. Sampai lirik terakhir “Tiada lagi yang kuharap dari mu...”.

Aku berpisah di cafe karena memang arah pulang kami berbeda. Darmi memang sahabatku, dia menempatkan sahabat diatas segalanya. Tapi dia terlalu kejam sampai merusak mahligai rumah tangga orang lain.

**#**

Pagi pagi aku ketemu dengan Darmi di depan toilet, dia mencuci tangan, aku menbilas muka. Dia mengundang ku ke ruangannya. Lalu dia memulai bicara serius setelah membuatkan kopi untuk kita berdua, dia membuatnya cuma satu, biar lebih mesra Ren katanya. Aku seruput kopinya, dia neplok disebelahku. Dia bicara serius bahwa dia tahu bahwa Rendi mau mengungkapkan cintanya kepada dirinya. Tapi Darmi meragukan apakah Rendi mau menerima segala kelebihan dan kekurangan Darmi. Untuk menghindari itu lebih baik kita STM an saja Ren. Darmi tahu mereka saling mencinta.

Rendi berjanji menerima segala kelebihan dan kekurangan Darmi. Bukankah kita selama ini sudah saling mengenal Dar, tanya Rendi. Darmi memeluk Rendi setelah mengunci pintu ruangannya. Rendi berdiri, Darmi memeluknya erat dan berbisik di telinganya. Tidak semua tentangku kamu tahu Ren. Kamu harus berjanji menerima kekuranganku. Aku akan terima apa adanya Dar, bisiknya.

Sambil menangis Darmi berbisik di telinga Rendi dan terasa hangat air matanya, begitu juga nafasnya berpacu emosi, detak jantungnya keras kaya genderang perang nempel di dadaku, “aku menyimpang Ren” katanya. Rendipun memeluk semakin erat Darmini agar dia merasa lebih aman dan nyaman. Darmi melepaskan rangkulannya duduk lagi berharap hadapan dengan Rendi. “Benar Ren, kamu mau membantu aku. Aku sudah capek begini” tanya Darmini sambil menangis. Rendi dengan tegas akan membantu Darmini dalam suka dan duka. Sambil senyum Darmi berbisik: “kaya di gereja ya Ren”. *Siap siap Nona” kata Rendi tegas.

Darmipun menjelaskan bahwa dia itu bisexual -hetero lesbi-, dia bisa bercinta dengan pria, dan bisa dengan wanita. Darmi pun menegaskan bertanya: ”Benarkah Ren?”. Rendi mengangguk dan berkata lirih. Darmi melanjutkan:  “makanya saat Rendi pacaran dengan Ariati, Darmi juga pacaran dengannya, semata mata karena Darmi Cinta Rendi, tak mau kalau Rendi diambil orang. Itu awalnya semata untuk memata matai kamu Rendi, karena aku sangat cinta kamu, tapi dilema berhubungan cinta atau sahabat. Tapi pekerjaan itu melelahkan dan menyakitkan. Akhirnya akupun sering bercinta dengan Ariati. Menjadikan aku menemukan kenikmatan lain, dan aku nikmati sehingga membuat aku tak normal. Dan ketika Ariati menikah dengan Toni, yang hancur bukan kamu Ren, tapi aku juga”. Ariati telah mengkhianati cintanya.

Rendi bersedia menemani Darmi untuk sembuh dan normal kembali, menurut Darmi selama ini disamping dia mengganggu suami Ariati, dia juga sedang beobat ke psikolog. Salah satu saran psikolog Darmi untuk segera menikah secara normal. Bantulah aku Ren desahnya, sambil menciumi Rendi dengan ganasnya. Itu pertanda Darmi sudah semakin wanita. Rendipun mengingatkan Darmi bahwa itu di kantor dan sudah dulu sampai disini. Mereka saling merapikan diri dan kembali ke ruangan masing masing.

 

Pakdepudja@puri_gading Jimbaran, 11092023

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar