Senin, 04 September 2023

Suster Nike Eps 2


Perjalanan Panjang Suster Nike.

“KEBAHAGIAAN SEMU NIKE”

 


Hujan masih cukup deras, Suster Nike sudah selesai merawat luka bekas operasi istriku. Katanya sudah sembuh, sehingga hari itu merupakan hari terakhir dia datang kerumahku. Lukanyapun sudah dinyatakan sembuh.

Sementara  istriku sedang menyusui bayiku, Suster Nike, ku temani ngobrol di ruang tamu sambil nonton tv. Seperti biasa sambil menikmati teh poci. Kali ini ditemani dengan martabak manis pandan yang kubeli di jalan raya Tanah Kusir saat pulang tadi.

Suster Nike rupanya enak diajak ngobrol. Dia menceritakan keluarga kecilnya yang sudah dikaruniai seorang anak lelaki, sudah hampir dua tahun umurnya.

Jadi sebaya anakku yang pertama,  “Gemamora namanya”, kata Suster Nike. Pantesan suster Nike sangat dekat pula dengan putra sulungku. Rupanya anakku seumuran anaknya. Kata istriku dua hari lalu bahkan putraku itu sempat dimandikan Suster Nike. Beliau sangat dekat dengan anak anak, bahkan sempat main main dengan anakku.

Suami beliau seorang karyawan swasta, bekerja pada salah satu BUMN infrastruktur, yang sering mengerjakan proyek di seluruh wilayah Indonesia, bahkan kudengar saat ini menjadi kontraktor sampai ke Timor Leste.

Kata Suster Nike, suaminya sangat romantis, jarang marah dan kalau sedang di rumah sangat aware dengan putranya. Bahkan menidurkan putranya pun saat beliau  dirumah sangat terampil, terlebih ketika Suster Nike dinas malam.

Pernikahannya saat menolong istriku sudah berjalan tiga tahun. Kalau kudengar keluarga yang sangat harmonis. Tinggal di sebuah rumah tidak besar di daerah Grogol, tidak jauh dari tempat Suster Nike bertugas. Katanya rumah sendiri. “Tidak lagi mikirin kontrakan tiap tahun dong, bu”, kataku.

Suami Suster Nike sering ditugaskan mengawal logistik ke lokasi proyek di luar kota, sehingga mereka sering berpisah. Bahkan cukup lama, karena logistik di angkut lewat laut.

Selorohku ke Suster Nike:”Mungkin karena sering ditinggal, menjadikan keluarga ibu begitu harmonis, sehingga terus terasa seperti penganten baru saja ya bu”.

Kala itu Suster Nike ketawa lepas. Tetapi di dalam ketawa lepas nya, aku menduga dihati kecilnya malah mengkhawatirkan suaminya tergoda dalam perjalanan dinasnya. Sama seperti ibu ibu umumnya.

Itu kuduga karena ketawanya tak tulus. Kedengaran ada kekhawatiran. Akh … itu urusan Suster Nike fikirku. Aku tak boleh terlalu ikut campur.

“Akh tak usah terlalu berlebihan curiga sama suami, nanti suaminya tak tenang dalam tugas”, kataku menenangkan. Sesuatu yang wajar bila seorang istri khawatirkan suaminya saat dinas ke luar kota.

Lebih lanjut kubilang, ibu pasrahkan saja yang penting suami ibu setia. Masalah nyeleweng itu masalah bakat dimiliki semua orang laki atau perempuan, tinggal dikembangkan atau tidak. Itupun dimiliki oleh semua suami.

‘Kata Bang Napi, kejahatan itu timbul tidak semata karena niat pelakunya, tapi lebih banyak datang karena ada kesempatan, ada penggodanya. Begitu bu”, kataku.

Jangankan di luar kota, kalau mau di rumah pun orang bisa selingkuh. Di kantor istrinyapun suami bisa selingkuh. Tergantung iman dari suami ibu. Sering kita dengar suami selingkuh dengan pembantu, ipar dan lain lain. Begitu pula banyak suami selingkuh dengan teman seruangan istrinya di kantor.  Akh perumpamaan ku ke Suster Nike berlebihan. Jangan jangan aku memprovokasinya. Seharusnya tidak karena Suster Nike sangat dewasa dalam pemikirannya dan pengalaman.

“Kalau masalah iman, mudah2 an, puji Tuhan suami saya bagus pak, dia masih taat beribadah. Setiap ibadah biasanya kami pergi bersama. Sekalian untuk rekreasi”, jelas Suster Nike.  Akh orang yang rajin beribadah tidak berarti bebas selingkuh. Tak ada korelasinya, apalagi berbanding lurus, gumanku dalam hati.

“Jesempatan ibadah juga  selanjutnya sering ku gunakan untuk mengunjungi teman sejawat, sepulang beribadah”, urai Suster Nike.

Kebetulan keluarga Suster Nike beribadah tak jauh dari rumahnya. Di tempat ibadah pada tempat yang disediakan Pemda DKI untuk umat beribadah. Aku tahu tempat itu, disana satu komplek ada Mesjid, Gereja, Pura, Wihara. Yang dibangun saat Gubernur Ali Sadikin. Kutahu karena aku beberapa kali ibadah disana, di Pura Jelambar.

Ya rupanya keluarga Suster Nike, keluarga bahagia dengan satu putra. Suami istri kerja sudah memiliki tempat tinggal sehingga sama seperti kami sudah tidak dikejar kejar kontrakan.

Hujan berhenti kami terus mengantarkan pulang Suster Nike. Seperti biasa kami menyusuri Jalan Tanah Kusir, Pesanggrahan, Kembangan, Kebon Jeruk, Tanjung Duren sampai Grogol tempat tinggal Suster Nike, dengan memacu motorku.

Rupanya suami Suster Nike sedang bercengkerema dengan putranya di teras rumahnya. Aku berhenti dan mengantarkan Suster Nike masuk ke rumahnya. Aku salaman memperkenalkan diri Yansarja.

“Mohon maaf, suster Nike pulang agak telat sedikit, karena di tempat kami tadi hujan lebat”, ujarku kepada Suaminya Suster Nike.

“Lenda, Johannes Lenda, saya suaminya Nike”, jawabnya. Dengan basa basi karena sudah cukup gelap, akupun pamitan kepada Pak Lenda dan Suster Nike.

Ku starter motorku, eh rupanya gadis yang semalam menyetop aku ada lagi.  Batas satu pintu dari rumah Suster Nike. Dia menyangka aku tukang ojek pangkalan.

Ku tanyakan kepadanya. “Nona mau ke mana?” tanyaku.

“Aku mau ke Tanamur”, jawabnya.

“Akh kita nggak sejalan, aku bukan ojek. Kalau arah selatan, Palmerah atau Senayan, ayo, kuanter sekalian pulang” jawabku.

Ya reken reken ngojek, sambil pulang dapat ongkos ojek lumayan buat beli pecell lele, Bang Udin.

Malam itu bulan meremang, disertai renai gerimis. Ku pacu pelan motorku sambil mengingat gaya gadis yang mau ke Tanamur Tanah Abang Timur itu. Kusenandungkan lagu Ebiet G Ade dan Lagunya Mukhsin Alatas berikut:

Ingin berjalan berdua, denganmu kekasih. Lewati malam telah usai renai gerimis….

Lelawa jadi luruh dengan rumput hijau

Jemari tangan kita lengket jadi satu

Dan seterusnya…..

Lagunya Hostes Tanamur Mukhsin Alatas ini.

 

 …Dia menghampiri dengan senyum mesra

Mengajakku turun melantai, mengikuti irama…….. Dst nya

Dalam senandung kecilku, akupun sampai di rumah, dengan sedikit kedinginan, rambut lusuh -karena saat itu belum wajib helm-, istriku pun sudah tidur ngeloni bayi kami. Pelan pelan kubangunkan. Ku genggam tangannya kutuntun ke ruang tamu. Kuajak menikmati Nasi Pecel Lele yang kubeli di Tenda Biru Pecel Lele Udin, di pojokan Komplek Kodam.

Malam itu walau tidak terlalu pedas sambelnya, ku nikmati Nasi pecel lele lengkap dengan soto ayam dan kerupuk kaleng berdua di ruang tamu, sambil nonton Aneka Ria Safari nya Eddy Sud.

Adikku membawa bungkusannya ke kamarnya menikmatinya sambil belajar.

Malam pun semakin larut, kuanterkan istriku ke tempat bayi kami tidur. Akupun melanjutkan nonton TV, dan ketiduran di depan TV.

Rupanya tidurku terlalu pulas, terbangun karena suara azan subuh di mesjid dekat rumahku.

Selamat pagi.

 

Jimbaran, awal Agustus 2022.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar