“KELUAR
DARI KETERASINGAN (2)”.
Oleh: Pakde
Pudja.
Lestari
kulihat sangat senang, dia sangat bangga dengan dirinya, dia sudah aku percaya
nyopir dari kampung ku sampai di kota, hampir seratus kilometer. Dia rajin
mengambil foto lingkungan rumah warisan kami, yang terawat dengan baik walau
cat nya sangat kusam. Saat SMA nanti Lestari pingin sekolah di kota, atau tetap
di desa saja belum dia putuskan. Foto hasil jepretannya di lihat di laptopnya,
sehingga nenek dan ibunya bisa ikut nimbrung melihatnya. Semua pada berbisik
komentar.
Aku tetap
asyik dengan mobil antik yang perlu service mesin, yang dikirim Pak Muhidin. Terlihat
ada VW Safari, Daihatsu Taft, Suzuki
Jimni. Memang hobi dan kerja ayah nyambung. Sehingga seakan tak kenal lelah
dalam kerjanya. Setelah aku bisa nyetir sering diminta ayah test drive menemani
ayah keliling kampung. Karena mobil antik tak banyak yang memperhatikan
Lestari.
Namun kebahagiaan
yang dialami anak, mantu, bedan dan cucunya, banyak yang menggunjingkan. Maklum
saja karena hidup di kampung. Gunjingan itu sampai ke Pak Mantan Lurah, Sumarno.
Sumarno ayah dari Roswita, memanggil mantunya untuk datang ke rumahnya.
Pada
pertemuan itu ayah mertuaku menyampaikan berbagai gunjingan yang muncul
belakangan ini, karena aku berhasil menggalang muda mudi menjadi pelopor dan
produktif di kampung, aku gonta ganti mobil walau mobil tua. Pada saat itupun
aku sekalian ceritakan bahwa rumah warisan di kota sudah kembali, sehingga
memang kami sudah merencanakan memboyong keluarga kami ke kota. Bapak mertuaku
minta maaf, dan meminta kami tak tersinggung. Beliau tak mau kesehatan mental
keluarga kami terganggu akibat gunjingan di kkampung Hanya itu tujuan mertuaku.
Berita ini
kusampaikan ke Roswita, dia malah berfikiran kakaknya iri melihat keluarga
kami, sehingga memfitnah dan ngadu ke ayah. Aku bilang fikirkan dengan tenang
bahwa Lestari sebentar lagi SMA dia perlu sekolah yang lebih baik, rumah
keluarga harus diurus, pekerjaanku dengan Pak Muhidin bisa lebih lancar.
Akhirnya Roswita merencana kan habis kenaikan kelas ini kami akan pindah. Rumah
harus di cek dan diservis dulu. Mendengar rencana ini, Ibuku kelihatannya
sangat bersemangat. Beliau cepat sekali pemulihan nya. Mungkin berita tentang
rumah memotivasi ibu cepat sembuh.
Setiap pagi
beliau sudah mampu jalan jalan keliling desa ditemani istriku sambil ke pasar.
Ibu bercerita ketemu langganan pedagang telur yang rutin mengambil telur itik
dan telur ayam ke rumah. Produksi telur itik sekitar 60 butir seminggu, dan
telur ayam sekitar 30 butir per dua minggu. Hasilnya dikelola oleh Roswita
untuk keperluan keluarga bersama hasil panen dan ternak yang lain.
Secara
bertahap kami pindah ke kota, pertama aku dan ibu pindah sambil mengawasi orang
kerja, serta ngebengkel mobil antik. Ibu masih dikenal tetangga kami. Sehingga banyak
teman bersosialisasi membantu penyembuhan ibuku. Lestari dan Roswita tetap
sementara di kampung menyelesaikan SMP nya. Setiap akhir pekan aku ke kampung,
atau Roswita dan Lestari yang ke kota.
Semua berjalan
sesuai rencana, bapak mertua dan saudara Roswita sangat membantu kami. Lestari
mendapat sekolah yang dia inginkan di kota, Roswita hanya menemani aku dan
merawat ibu sehari hari. Bengkel kami berjalan dengan lancar tetap bekerja sama
dengan bengkel Pak Muhidin.
Sudah cukup
lama ibu minta kami bersama ziarah ke makam ayah, di Cirebon, dekat Gunung
Ciremai di sebuah pemakaman keluarga. Bayanganmu itu tempat yang indah yang
dipulihkan untuk peristirahatan terakhir ayah. Semoga beliau senang disana.
Sepucuk
surat berlogo PT Taspen ku terima, untuk datang ke cabang di kotaku. Aku fikir
ada kelebihan bayar gaji padaku saat di dalam. Aku datang dengan dokumen yang
ada. Ternyata aku telah dipensiun
sebelum perkaraku inkrah. Aku punya rapelan pensiun. Surat Pensiun rupanya tidak
dikirim padaku. Untung ada seorang bawahan ayah dulu di Dinas Pendapatan Daerah
sekarang di PT Taspen, yang melihat nama ku ada di takah tak berkembang, dia
uruslah pensiun ku. Lumayan aku mendapatkannya karena hampir 15 tahun aku tak
terima.
Begitu juga
uang pensiun janda nya ibu rupanya tidak beliau ambil semenjak sakit dan pindah
ke kampung. Kuterima semuanya, kuserahkan uang pensiun beliau. Ibuku sangat
gembira, di bagi bagilah ke Roswita, ke Lestari untuk membeli pakaian, sebagai
hadiah mereka yang merawat ibu selama sakitnya.
Ibu
bersemangat saat kami antar berziarah ke makam ayah. Kami memanjatkan doa dan
mohon maaf karena sangat mungkin masalah ku ikut memicu sakit dan wafatnya
beliau. Beliau kena serangan jantung saat kami masih di tahanan, belum diadili.
Jadi kami tak bisa menyaksikan. Jenazah ayah di bawa keluarga pulang ke
Cirebon.
Ibu
terlihat sangat khusuk berdoa, demikian juga Roswita dan Lestari ikut berdoa
mendoakan almarhum. Taburan bunga kamboja, mawar dan melati, air kembang
mengguyur pusara ayah. Begitu selesai Berdoa hujan gerimis mengguyur kami.
Mungkin itu pertanda doa kami sampai dan ‘didengar’ permohonan maaf kami.
Saat mampir
pada keluarga besar di Cirebon, suasana berlangsung kurang enak. Mungkin
perasaan kami saja, terutama aku yang lama di pengasingan di dalam. Kami hanya
menginap semalam dan terus kembali keesokan harinya.
Kami sempat
berhenti di Cikampek, mobil yang kubawa sebuah Datsun E2000 antik pinjam Pak
Muhidin, terlihat gagah dan antik terawat di deretan parkiran Warung Sate
Maranggi. Banyak yang tertarik melihat lihat mobilku di parkiran. Semua
menikmati makan sate dan sop sesuai selera. Ibu minta sate ayam lontong,
Roswita dan Lestari memesan Sate Sapi dan Gulai, aku memesan Sate dan Sop
Kambing, dengan nasi saja. Minumnya kompak semua minum es air kelapa muda. Kami
sampai di kota sudah hampir malam.
Malam itu ibuku meminta Lestari tidur dengannya. Biasa
pulang dari bepergian jauh dia biasanya minta dipijitin kakinya oleh Lestari.
Lestari sangat senang karena baru diberikan hadiah neneknya. Tidur kamipun
pulas dibuai hujan gerimis malam itu. Pagi pagi Roswita biasa ke dapur membuat
sarapan, aku ngontrol mobil di grasi bengkel. Ada mobil gazz tua dan sebuah VW
combi yang bodynya sudah di modif. Sambil nyeruput kopi aku dan Roswota ngobrol
ngalor ngidul tentang perjalanan ziarah sebelumnya.
Istriku mengusulkan kepadaku untuk memperbaiki nisan makam
ayah dengan yang lebih pantas, sebelum lebaran nanti. Ibu kelihatan tak
berkenan melihatnya. Sampai sampai ibu bilang tidak mau di makamkan disana. Beliau
malah minta dimakamkan di makamkan di dekat kota saja agar kami yang
ditinggalkan lebih mudah ziarah. Kami meneruskan mengutak atik mesin Gazz,
ternyata banyak bagian mesin yang sempat kering dan karatan. Harus aku bongkar.
Biasanya head mesin saja dibuka cukup. Sedangkan VW Combi minta dimodif biar
aman dari kebakaran mesin.
Karena pagi itu kulihat Lestari sudah bangun dan susah rapi,
aku suruh test drive mutar sekitar komplek rumah kami. Komentarnya Gazz ini
asyik yah, gagah kalau nyopirnya. Harusnya modif sekalian klaksonnya biar lebih
modern, diresto begitu. Aku diskusi dengan Lestari, kalau VW dia bilang asyik
dan halus sekal8 mesinnya. “Siapa dulu bengkelnya” ujar Lestari. “Ayah”
jawabku, sambil toos berdua.
Istriku minta Lestari membangunkan neneknya, tak lama
berselang Lestari berteriak....:”nenek,
nenek...” sambil nangis. Aku dekati, dia bersimpuh disamping tempat
tidur ibu. Aku pegang nadinya, aku test nafasnya dengan punggung tanganku.
“Innalilahi Wainnalilahi Rojiun”. Kami ajak Roswita dan Lestari mendoakan agar
jalan ibu dilapangkan, diampuni dosanya serta diberikan oleh Nya ketabahan
untuk kami semua. “Semoga ibu husnul khotimah”.
Aku panik atas kepergian ibu yang tiba tiba, seakan beliau neninggal
dalam sehatnya. Atau mungkin Sakit yang terselubung rasa ingin sehat, untuk
kembali ke rumah serta sempat menziarahi makam ayah.
Semua serba berjalan sangat cepat. Mertua dan keluarga di
kampung tak berselang lama sudah tiba, kelancaran dibantu Pak Muhidin dengan
semua anak buahnya, sampai almarhumah di makamkan di pemakaman Kober, tidak
jauh dari tempat tinggal ku. Keluarga pada menginap sampai hari ke tiga
menemani kami berduka. Ibu kulihat pergi dengan senyum, apa mungkin saat ziarah
beliau bilang akan segera menyusul ayah. Akh semua berkecamuk dalam pikiranku,
tapi kami berusaha ikhlas.
Dalam lamunanku banyak tanda tanya. Mungkin ibu lebih
memilih meninggal di rumahnya sendiri, padahal di kala di kampung sakitnya
sering sangat parah. Atau mungkin menunggu bebasnya aku. Akh macam macam. Tapi
dalam duka aku masih beruntung bisa mengurus jenazah ibuku. Tidak seperti saat
ayah meninggal, jangankan mengurus, menengok untuk yang terakhir pun aku tak
bisa.
Kepergian ibuku memicu Lestari lebih giat belajar, dia
bertekad akan sekolah untuk menolong keluarga dan kemanusiaan. Dia sangat ingin
masuk Fakultas Kedokteran, aku dan Roswita hanya bisa menyemangati dan mengusahakan
biayanya serta membantunya dengan doa.
Rumah kami kembali sepi dengan kepergian ibu. Kucoba tidak
mengurangi semangat ku memajukan bengkel. Roswita membantuku dalam mengurus
keuangan. Aku sudah punya tiga anak buah yang kuambil lulusan STM dari kampung
Roswita, anak Karang Taruna yang sudah ku kenal. Aku ingin buktikan aku bisa
ikut memajukan kampung Roswita.
Terkadang aku ngelamun di samping mobil mobil yang aku
servis, kenapa himpitan masalah, himpitan hidup terus menggencet kehidupanku.
Aku terpuruk saat baru menikah, Roswita hamil. Dalam kehamilannya aku kena OTT
masuk penjara, padahal aku cuma seorang kurir disuruh atasanku mengambil
titipan. Dia bisa mengelak, aku masuk penjara, kemudian aku tak tahu sampai
istriku pulang kampung dan anakku sudah SMP. Saat senang senangnya di kampung kami
harus balik ke kota. Di kota ibuku terus tiada. Kenapa sejarah kesedihanku
sambung menyambung.
Semoga saja Lestari tidak terganggu oleh kondisi ini.
Kasihan dia baru remaja. Tiba tiba istriku menghampiri membawakan minum dan
rebusan singkong dan kacang edamame dan lempog yang dia beli di pasar. “Jangan
ngelamun saja” goda Roswita. Aku Cuma bilang:”Kenapa dalam kisah ini kesedihan
dan masalah datang silih berganti” keluhku. Istriku menenangkan aku dengan
berkata:”Itulah kehidupan, kita harus jalani dengan suka cita, cobalah
bersyukur dengan apa yang kita peroleh”, sambungnya sambil memeluk aku.
Usahaku lumayan berkembang, sampai aku bisa menyekolah kan
Lestari sesuai cita citanya. Dia kuliah di kota gambang Semarang, di Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro. Kudengar dari temannya dia akan segera di
wisuda, diambil sumpah dokternya. Aku memang tidak tahu, mungkin Roswita tahu
nanti aku coba tanyakan. Aku ingin ngajak Roswita naik mobil Taft Kebo merah
kesayanganku pergi ke Semarang. Semoga kelulusan Lestari menghibur diriku dan
melepas belenggu kesedihan dan ‘kesialan’ perjalanan hidupku.
“Tin tin tinnnnn” suara mobil yang dihantar sopir Muhidin di
sampingku. Aku terkaget dan terbangun. Kudengar kan ‘keluhan’ dari deru mesin
yang ada, kusuruh tinggalkan saja, sambil membawa mobil Jeep Willis, VW Kodok
dan sebuah Austin mobilnya Si Doel. Aku dengar ramai di dalam rumah. Ternyata
putriku lagi mencoba coba kebaya dengan istriku. Dia memadu padankan kebaya dan
batik yang akan di pakai saat wisuda. Aku sih ngikut saja Roswita pasti sudah
menyiapkan pakaian untukku.
Roswita menyuruh aku segera mandi. Mereka mau ngajak makan
makan sebagai ucapan syukur atas kelulusan Lestari, dr. Lestari Karya Ciptanagara.
Rupanya dia tak malu menuliskan namaku Ciptanagara di belakang namanya, walau
aku seorang yang di vonis ‘koruptor’. Tapi anakku menganggapnya itu risiko
kerja, karena menurutnya semua kerja membawa risiko. Obatpun yang diyakini
dokter menyembuh kan, terkadang berefek samping negatif,membawa risiko kata
Lestari sambil memeluk dan mencium aku.
Roswitapun tersenyum menyaksikan adegan putriku memelukku.
Dan berteriak “Merdeka....Merdeka... merdeka”. Aku sungguh bahagia sore itu,
dan dari mulutkupun bergumam. Kembali dari keterasingan, ke bumi berada.... Masih
terasa menyakitkan. Akh sekarang sudah
membahagiakan batinku, gumanku di hati. Apakah dalam sejarah prang mesti jadi
pahlawan....?
Iya, ayahlah pahlawan ku kata Lestari, ayah pahlawan
keluarga, ayah telah mengembalikan kepercayaan diri, kepercayaan hidup kami,
kata Lestari memelukku, dan Roswitapun ikut memelukku. Tak pernah se bahagia
ini hatiku. Seakan melayang ke langit ke tujuh.
Pakdepudja@Puri_Gading, 17082023.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar