Jumat, 01 September 2023

Cerpen 5. Keluar dari Keterasingan (2)


“KELUAR DARI KETERASINGAN (2)”.

 

Oleh: Pakde Pudja.

 

Lestari kulihat sangat senang, dia sangat bangga dengan dirinya, dia sudah aku percaya nyopir dari kampung ku sampai di kota, hampir seratus kilometer. Dia rajin mengambil foto lingkungan rumah warisan kami, yang terawat dengan baik walau cat nya sangat kusam. Saat SMA nanti Lestari pingin sekolah di kota, atau tetap di desa saja belum dia putuskan. Foto hasil jepretannya di lihat di laptopnya, sehingga nenek dan ibunya bisa ikut nimbrung melihatnya. Semua pada berbisik komentar.

 

Aku tetap asyik dengan mobil antik yang perlu service mesin, yang dikirim Pak Muhidin. Terlihat ada VW Safari,  Daihatsu Taft, Suzuki Jimni. Memang hobi dan kerja ayah nyambung. Sehingga seakan tak kenal lelah dalam kerjanya. Setelah aku bisa nyetir sering diminta ayah test drive menemani ayah keliling kampung. Karena mobil antik tak banyak yang memperhatikan Lestari.

 

Namun kebahagiaan yang dialami anak, mantu, bedan dan cucunya, banyak yang menggunjingkan. Maklum saja karena hidup di kampung. Gunjingan itu sampai ke Pak Mantan Lurah, Sumarno. Sumarno ayah dari Roswita, memanggil mantunya untuk datang ke rumahnya.

 

Pada pertemuan itu ayah mertuaku menyampaikan berbagai gunjingan yang muncul belakangan ini, karena aku berhasil menggalang muda mudi menjadi pelopor dan produktif di kampung, aku gonta ganti mobil walau mobil tua. Pada saat itupun aku sekalian ceritakan bahwa rumah warisan di kota sudah kembali, sehingga memang kami sudah merencanakan memboyong keluarga kami ke kota. Bapak mertuaku minta maaf, dan meminta kami tak tersinggung. Beliau tak mau kesehatan mental keluarga kami terganggu akibat gunjingan di kkampung Hanya itu tujuan mertuaku.

 

Berita ini kusampaikan ke Roswita, dia malah berfikiran kakaknya iri melihat keluarga kami, sehingga memfitnah dan ngadu ke ayah. Aku bilang fikirkan dengan tenang bahwa Lestari sebentar lagi SMA dia perlu sekolah yang lebih baik, rumah keluarga harus diurus, pekerjaanku dengan Pak Muhidin bisa lebih lancar. Akhirnya Roswita merencana kan habis kenaikan kelas ini kami akan pindah. Rumah harus di cek dan diservis dulu. Mendengar rencana ini, Ibuku kelihatannya sangat bersemangat. Beliau cepat sekali pemulihan nya. Mungkin berita tentang rumah memotivasi ibu cepat sembuh.

 

Setiap pagi beliau sudah mampu jalan jalan keliling desa ditemani istriku sambil ke pasar. Ibu bercerita ketemu langganan pedagang telur yang rutin mengambil telur itik dan telur ayam ke rumah. Produksi telur itik sekitar 60 butir seminggu, dan telur ayam sekitar 30 butir per dua minggu. Hasilnya dikelola oleh Roswita untuk keperluan keluarga bersama hasil panen dan ternak yang lain.

 

Secara bertahap kami pindah ke kota, pertama aku dan ibu pindah sambil mengawasi orang kerja, serta ngebengkel mobil antik. Ibu masih dikenal tetangga kami. Sehingga banyak teman bersosialisasi membantu penyembuhan ibuku. Lestari dan Roswita tetap sementara di kampung menyelesaikan SMP nya. Setiap akhir pekan aku ke kampung, atau Roswita dan Lestari yang ke kota.

 

Semua berjalan sesuai rencana, bapak mertua dan saudara Roswita sangat membantu kami. Lestari mendapat sekolah yang dia inginkan di kota, Roswita hanya menemani aku dan merawat ibu sehari hari. Bengkel kami berjalan dengan lancar tetap bekerja sama dengan bengkel Pak Muhidin.

 

Sudah cukup lama ibu minta kami bersama ziarah ke makam ayah, di Cirebon, dekat Gunung Ciremai di sebuah pemakaman keluarga. Bayanganmu itu tempat yang indah yang dipulihkan untuk peristirahatan terakhir ayah. Semoga beliau senang disana.

 

Sepucuk surat berlogo PT Taspen ku terima, untuk datang ke cabang di kotaku. Aku fikir ada kelebihan bayar gaji padaku saat di dalam. Aku datang dengan dokumen yang ada.  Ternyata aku telah dipensiun sebelum perkaraku inkrah. Aku punya rapelan pensiun. Surat Pensiun rupanya tidak dikirim padaku. Untung ada seorang bawahan ayah dulu di Dinas Pendapatan Daerah sekarang di PT Taspen, yang melihat nama ku ada di takah tak berkembang, dia uruslah pensiun ku. Lumayan aku mendapatkannya karena hampir 15 tahun aku tak terima.

 

Begitu juga uang pensiun janda nya ibu rupanya tidak beliau ambil semenjak sakit dan pindah ke kampung. Kuterima semuanya, kuserahkan uang pensiun beliau. Ibuku sangat gembira, di bagi bagilah ke Roswita, ke Lestari untuk membeli pakaian, sebagai hadiah mereka yang merawat ibu selama sakitnya.

 

Ibu bersemangat saat kami antar berziarah ke makam ayah. Kami memanjatkan doa dan mohon maaf karena sangat mungkin masalah ku ikut memicu sakit dan wafatnya beliau. Beliau kena serangan jantung saat kami masih di tahanan, belum diadili. Jadi kami tak bisa menyaksikan. Jenazah ayah di bawa keluarga pulang ke Cirebon.

 

Ibu terlihat sangat khusuk berdoa, demikian juga Roswita dan Lestari ikut berdoa mendoakan almarhum. Taburan bunga kamboja, mawar dan melati, air kembang mengguyur pusara ayah. Begitu selesai Berdoa hujan gerimis mengguyur kami. Mungkin itu pertanda doa kami sampai dan ‘didengar’ permohonan maaf kami.

 

Saat mampir pada keluarga besar di Cirebon, suasana berlangsung kurang enak. Mungkin perasaan kami saja, terutama aku yang lama di pengasingan di dalam. Kami hanya menginap semalam dan terus kembali keesokan harinya.

 

Kami sempat berhenti di Cikampek, mobil yang kubawa sebuah Datsun E2000 antik pinjam Pak Muhidin, terlihat gagah dan antik terawat di deretan parkiran Warung Sate Maranggi. Banyak yang tertarik melihat lihat mobilku di parkiran. Semua menikmati makan sate dan sop sesuai selera. Ibu minta sate ayam lontong, Roswita dan Lestari memesan Sate Sapi dan Gulai, aku memesan Sate dan Sop Kambing, dengan nasi saja. Minumnya kompak semua minum es air kelapa muda. Kami sampai di kota sudah hampir malam.

 

Malam itu ibuku meminta Lestari tidur dengannya. Biasa pulang dari bepergian jauh dia biasanya minta dipijitin kakinya oleh Lestari. Lestari sangat senang karena baru diberikan hadiah neneknya. Tidur kamipun pulas dibuai hujan gerimis malam itu. Pagi pagi Roswita biasa ke dapur membuat sarapan, aku ngontrol mobil di grasi bengkel. Ada mobil gazz tua dan sebuah VW combi yang bodynya sudah di modif. Sambil nyeruput kopi aku dan Roswota ngobrol ngalor ngidul tentang perjalanan ziarah sebelumnya.

 

Istriku mengusulkan kepadaku untuk memperbaiki nisan makam ayah dengan yang lebih pantas, sebelum lebaran nanti. Ibu kelihatan tak berkenan melihatnya. Sampai sampai ibu bilang tidak mau di makamkan disana. Beliau malah minta dimakamkan di makamkan di dekat kota saja agar kami yang ditinggalkan lebih mudah ziarah. Kami meneruskan mengutak atik mesin Gazz, ternyata banyak bagian mesin yang sempat kering dan karatan. Harus aku bongkar. Biasanya head mesin saja dibuka cukup. Sedangkan VW Combi minta dimodif biar aman dari kebakaran mesin.

 

Karena pagi itu kulihat Lestari sudah bangun dan susah rapi, aku suruh test drive mutar sekitar komplek rumah kami. Komentarnya Gazz ini asyik yah, gagah kalau nyopirnya. Harusnya modif sekalian klaksonnya biar lebih modern, diresto begitu. Aku diskusi dengan Lestari, kalau VW dia bilang asyik dan halus sekal8 mesinnya. “Siapa dulu bengkelnya” ujar Lestari. “Ayah” jawabku,  sambil toos berdua.

 

Istriku minta Lestari membangunkan neneknya, tak lama berselang Lestari berteriak....:”nenek,  nenek...” sambil nangis. Aku dekati, dia bersimpuh disamping tempat tidur ibu. Aku pegang nadinya, aku test nafasnya dengan punggung tanganku. “Innalilahi Wainnalilahi Rojiun”. Kami ajak Roswita dan Lestari mendoakan agar jalan ibu dilapangkan, diampuni dosanya serta diberikan oleh Nya ketabahan untuk kami semua. “Semoga ibu husnul khotimah”.

 

Aku panik atas kepergian ibu yang tiba tiba, seakan beliau neninggal dalam sehatnya. Atau mungkin Sakit yang terselubung rasa ingin sehat, untuk kembali ke rumah serta sempat menziarahi makam ayah.

 

Semua serba berjalan sangat cepat. Mertua dan keluarga di kampung tak berselang lama sudah tiba, kelancaran dibantu Pak Muhidin dengan semua anak buahnya, sampai almarhumah di makamkan di pemakaman Kober, tidak jauh dari tempat tinggal ku. Keluarga pada menginap sampai hari ke tiga menemani kami berduka. Ibu kulihat pergi dengan senyum, apa mungkin saat ziarah beliau bilang akan segera menyusul ayah. Akh semua berkecamuk dalam pikiranku, tapi kami berusaha ikhlas.

 

Dalam lamunanku banyak tanda tanya. Mungkin ibu lebih memilih meninggal di rumahnya sendiri, padahal di kala di kampung sakitnya sering sangat parah. Atau mungkin menunggu bebasnya aku. Akh macam macam. Tapi dalam duka aku masih beruntung bisa mengurus jenazah ibuku. Tidak seperti saat ayah meninggal, jangankan mengurus, menengok untuk yang terakhir pun aku tak bisa.

 

Kepergian ibuku memicu Lestari lebih giat belajar, dia bertekad akan sekolah untuk menolong keluarga dan kemanusiaan. Dia sangat ingin masuk Fakultas Kedokteran, aku dan Roswita hanya bisa menyemangati dan mengusahakan biayanya serta membantunya dengan doa.

 

Rumah kami kembali sepi dengan kepergian ibu. Kucoba tidak mengurangi semangat ku memajukan bengkel. Roswita membantuku dalam mengurus keuangan. Aku sudah punya tiga anak buah yang kuambil lulusan STM dari kampung Roswita, anak Karang Taruna yang sudah ku kenal. Aku ingin buktikan aku bisa ikut memajukan kampung Roswita.

 

Terkadang aku ngelamun di samping mobil mobil yang aku servis, kenapa himpitan masalah, himpitan hidup terus menggencet kehidupanku. Aku terpuruk saat baru menikah, Roswita hamil. Dalam kehamilannya aku kena OTT masuk penjara, padahal aku cuma seorang kurir disuruh atasanku mengambil titipan. Dia bisa mengelak, aku masuk penjara, kemudian aku tak tahu sampai istriku pulang kampung dan anakku sudah SMP. Saat senang senangnya di kampung kami harus balik ke kota. Di kota ibuku terus tiada. Kenapa sejarah kesedihanku sambung menyambung.

 

Semoga saja Lestari tidak terganggu oleh kondisi ini. Kasihan dia baru remaja. Tiba tiba istriku menghampiri membawakan minum dan rebusan singkong dan kacang edamame dan lempog yang dia beli di pasar. “Jangan ngelamun saja” goda Roswita. Aku Cuma bilang:”Kenapa dalam kisah ini kesedihan dan masalah datang silih berganti” keluhku. Istriku menenangkan aku dengan berkata:”Itulah kehidupan, kita harus jalani dengan suka cita, cobalah bersyukur dengan apa yang kita peroleh”, sambungnya sambil memeluk aku.

 

Usahaku lumayan berkembang, sampai aku bisa menyekolah kan Lestari sesuai cita citanya. Dia kuliah di kota gambang Semarang, di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Kudengar dari temannya dia akan segera di wisuda, diambil sumpah dokternya. Aku memang tidak tahu, mungkin Roswita tahu nanti aku coba tanyakan. Aku ingin ngajak Roswita naik mobil Taft Kebo merah kesayanganku pergi ke Semarang. Semoga kelulusan Lestari menghibur diriku dan melepas belenggu kesedihan dan ‘kesialan’ perjalanan hidupku.

 

“Tin tin tinnnnn” suara mobil yang dihantar sopir Muhidin di sampingku. Aku terkaget dan terbangun. Kudengar kan ‘keluhan’ dari deru mesin yang ada, kusuruh tinggalkan saja, sambil membawa mobil Jeep Willis, VW Kodok dan sebuah Austin mobilnya Si Doel. Aku dengar ramai di dalam rumah. Ternyata putriku lagi mencoba coba kebaya dengan istriku. Dia memadu padankan kebaya dan batik yang akan di pakai saat wisuda. Aku sih ngikut saja Roswita pasti sudah menyiapkan pakaian untukku.

 

Roswita menyuruh aku segera mandi. Mereka mau ngajak makan makan sebagai ucapan syukur atas kelulusan Lestari, dr. Lestari Karya Ciptanagara. Rupanya dia tak malu menuliskan namaku Ciptanagara di belakang namanya, walau aku seorang yang di vonis ‘koruptor’. Tapi anakku menganggapnya itu risiko kerja, karena menurutnya semua kerja membawa risiko. Obatpun yang diyakini dokter menyembuh kan, terkadang berefek samping negatif,membawa risiko kata Lestari sambil memeluk dan mencium aku.

 

Roswitapun tersenyum menyaksikan adegan putriku memelukku. Dan berteriak “Merdeka....Merdeka... merdeka”. Aku sungguh bahagia sore itu, dan dari mulutkupun bergumam. Kembali dari keterasingan, ke bumi berada.... Masih terasa  menyakitkan. Akh sekarang sudah membahagiakan batinku, gumanku di hati. Apakah dalam sejarah prang mesti jadi pahlawan....?

 

Iya, ayahlah pahlawan ku kata Lestari, ayah pahlawan keluarga, ayah telah mengembalikan kepercayaan diri, kepercayaan hidup kami, kata Lestari memelukku, dan Roswitapun ikut memelukku. Tak pernah se bahagia ini hatiku. Seakan melayang ke langit ke tujuh.

 

Pakdepudja@Puri_Gading, 17082023.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar