Rabu, 06 September 2023

Cerpen 7. *ART KU, ISTEI MITRA BISNISKU"

 

Cerpen.

 

“ART KU, ISTRI MITRA BISNISKU”

 

Baru tujuh bulan menikah, Sumi melahirkan putranya. Kami merasa kecolongan, padahal sejak wisuda dia memakai kain, kelihatan jelas bokong dan dadanya mencirikan dia hamil, kok aku diamkan saja.  Apalagi saat pernikahan kulihat perutnya sudah begah. Namun karena sudah ada suaminya, aku tak sampai hati menanyakannya. Apalagi Mas Suparmanto mitra bisnis suamiku.

Sore itu aku (Miranti) pulang lebih awal dari kantor, anakku Erlangga, mengabarkan bahwa di rumah ada tamu. Katanya Eyang kakung ( kakek) nya datang dari kampung bersama tiga orang lainnya sepuh semua. Mereka naik mobil travel tadi siang diantar sampai di rumah.

Sesampainya di rumah aku kaget, di rumah ku ada apa ini seperti ada yang penting ibu dan ayahku datang bersama ayah ibunya Sumi asisten rumah tangga yang sudah lama ikut denganku. Apa mau menjemput Sumi untuk dinikahkan. Memang umurnya sudah matang, dia susah dua puluh empat tahun.

Terus terang asisten rumah tanggaku itu orangnya sopan, kalem dan tentu cantik. Aku saja iri dengan kecantikannya. Kulitnya mulus, putih tidak mencerminkan dia seorang ART.  Kerjanya juga bagus, sangat sayang kepada anakku Erlangga. Dia mendampingi Erlangga sejak Sumi tamat SMEA empat tahun lalu. Dia tidak mau kuliah lagi saat kutawari, dia mau fokus ngurus Erlangga dan keperluan di rumah. Bila ada waktu dia mau ikutan Universitas Terbuka saja katanya kala itu.

Setelah menaruh tas dan berganti pakaian aku bergabung tamuku ngobrol. Biasa standar basa basi nanya keadaan di kampung, kesehatan dan lain sebagainya. Kami ngobrol sambil ngopi sore. Kuperhatikan mereka kok berpakaian resmi, pada pakai batik dan kebaya ya. Kalau ibuku memang sudah biasa memakai kebaya, tapi ayah ibunya Sumi kok sama juga.

Tak lama berselang secara hampir bersamaan suamiku Handoko tiba dirumah dengan anakku yang di temani Sumi seperti biasa pulang kegiatan. Seperti biasa mereka saling salaman dan ikutan ngobrol bersama. Menjelang magrib aku kedatangan tamu lagi Mas Suparmanto datang bersama anaknya Ratih temannya Erlangga, dan dua orang tua Mas Parman.

Mas Parman -ku panggil untuk Mas Suparmanto- sudah hampir empat tahun ditinggal Sri istrinya meninggal dunia, karena penyakit yang dideritanya. Belum lama ngobrol, waktu Magrib telah tiba, Handoko menawarkan untuk sembahyang bersama. Sehingga kami magriban bersama. Rumah kami menjadi ramai.

Bubaran sholat, Mas Handoko menggiring para tamu ke ruang keluarga. Aku menjadi bingung ada apa ini. Kupanggil Sumi, dan aku tanya ada acara apa ini. Sumi pun bilang tidak tahu, terus menyuruh aku menanyakan ke Bapak saja, maksudnya Mas Handoko.

Bersamaan dengan itu, suamiku mengajak aku ikutan bergabung di ruang keluarga. Mas Handoko membuka acara dengan menyampaikan terima kasih ke pada semua yang datang atas undangan Mas Handoko. Ini dilakukannya terkait dengan maksud dan tujuan Mas Suparmanto, yang meminta Mas Handoko untuk merahasiakan nya. Untuk itu acara diserahkan ke keluarga Mas Suparmanto.

Aku menjadi semakin bingung, kok pakai rahasia segala, apa aku juga perlu di sembunyii, dalam kebingunganku keluarga Mas Parman menyampaikan maksud kedatangan nya.

Diwakili ayah Mas Parman keluarga itu minta maaf ke keluarga kami, ke orang tua Sumi, karena telah mengundangnya datang. Mengingat menurut adat mereka lah yang harus datang ke orang tua Sumi. Aku ngerti jalan ceritanya ini pasti. Orang tua Parman melanjutkan. Mereka datang untuk menyampaikan niat mereka untuk meminta Sumi menjadi menantunya, menjadikannya istri Mas Parman.

Mas Handoko mempersilahkan orang tua Sumi untuk memutuskannya. Mereka berdua serentak mengajak Sumi masuk ke kamarnya, dan menanyakannya:”Apa kah Sumi memang juga suka sama Mas Parman. Bagaimana hubungan mereka selama ini?”.

Sumi menjelaskan bahwa dia Mas Parman memang pernah beberapa kali ‘menembak’ Sumi. Namun sumi walau sebenarnya awalnya malu, karena kegigihan dan keseriusan Mas Parman, aku mau pak, katanya. Sumipun mohon ke orang tuanya untuk merestui niatnya untuk menikahi Mas Suparmanto.

Ketiga insan itu kembali ke meja diskusi tadi. Semua menunggu dengan tenang, Sumi duduk di sebelah Bapaknya. Karena Sumi juga memang sudah suka sama Mas Suparmanto, dan sudah pernah menyatakan iya, “Kami sebagai orang tuanya, merestui dan bisa menerima permintaan keluarga Mas Suparmanto”. Alhamdulillah. Sahut mereka bersamaan. Rupanya Erlangga dan Ratih nguping dari ruang tamu, karena begitu kami bilang alhamdullilah mereka datang bersamaan dan menyalami Om Suparmanto.”Selamat Om, selamat Mbak Sum” kata Erlangga. “Selamat ya pa, Mbak Sumi bisa menemani Ratih. Selamat mbak Sum” ujar Ratih sumringah. Aku jadi tahu rupanya mas Parman mau membicarakan Sumi, dia mungkin takut aku tak setuju. Semua pada bubaran malam itu. Orang tua Sumi juga merasa lega karena putrinya segera akan menikah.

Aku heran tadi mas Parman, menyodorkan konsep surat undangan, selain keluarga kami turut mengundang dan mempelai wanitanya “Sumi Astuti SE”. Apa mas Parman nggak salah itu. Ketika kulihat Mas Handoko juga diam saja, seakan menyetujui. Kupanggil Sumi diapun segera datang membawa sesuatu.

Dia mau memberitahu kami katanya. “Tentang apa Sum?”, tanyaku. “Ini bu, surat undangan” sahutnya sambil menyodorkan, surat undangan berwarna putih, tapi kok logo nya Kementerian pendidikan ya. Coba ku baca, ternyata surat undangan menghadiri Acara Wisuda Sumi Astuti, dari Universitas Terbuka (UT).

Sumi minta maaf ke kami tidak lapor selama ini ikut kuliah di UT. Dia mengambil Progtam Studi Ekonomi. Sambil menunggu Erlangga sekolah waktu luangmya dia gunakan untuk belajar. Pantesan Sumi selalu membawa tas agak besar kulihat. Rupanya membawa buku buku. Dia tidak nyusahin kami, karena semua pekerjaannya beres dan rapi. Aku minta ke Mas Handoko kita pergi bareng orang tua Sumi, menghadiri Wisuda Hari Sabtu ini.

Terjawab sudah kenapa dalam undangan resepsi pernikahan sebulan lagi, Mas Parman menuliskan Sumi Astuti SE. Bukan untuk menutupi bahwa Mas Parman menikahi ART ku. Suamiku bilang dia sudah tahu bahwa Sumi kuliah di UT dari putranya Erlangga, namun karena Erlangga minta di rahasiakan makanya tak diberitahu ke aku.

Wisuda sangat ramai sekali, rupanya banyak wisudawan dari daerah datang ke Auditorium UT Pondok Cabe. Mas Suparmanto juga datang saat Wisuda. Sumi sangat anggun dan cakep dalam balutan toga dan kebaya warna biru muda. Sangat serasi dengan kain batik sutera yang dia pakai. Mas Parman menggandeng Sumi terlihat sangat serasi.

Sepulang wisuda, rombongan kami mampir ke Rumah Makan Sunda, Talaga Sampireun. Kami merayakan keberhasilan Sumi menjadi Sarjana Ekonomi. Sumi tidak mau jauh dari orang tuanya, disamping memperhatikan kami seperti biasa. Kami mencoba pepes ikan emas, ikan emas goreng, sayur asem, sambal tutuk oncom, lencai, tahu tempe goreng, dan es dawet saja. Itu sangat nikmat dinikmati siang hari. Kami tak bisa lama di Rumah Makan, karena antrean panjang, banyak sekali keluarga wisudawan mampir kesitu.

Sehari setelah Wisuda Sumi, orang tua Sumi kembali ke kampung bersama orang tuaku. Mereka akan mempersiapkan pernikahan Sumi, yang sudah ditentukan waktunya.

Acara akad nikah dan resepsi untuk keluarga besar Sumi dilakukan di kampung, sedangkan resepsi pernikahan akan dilaksanakan di Jakarta, dengan mengundang kerabat, saudara, keluarga kedua mempelai dan orang orang terdekat Mas Parman, maupun Mas  Handoko.

Kami pulang ke Cilacap, serombongan dengan keluarga Mas Parman, kami nginap di rumah gadisku, keluarga Mas Parman nginap di hotel. Semua datang dengan tujuan menghadiri pernikahan Sumi dan Mas Parman. Acara berlangsung sangat khidmat, dan berjalan lancar. Kami nginap tiga malam disana. Pulang pergi kami naik Kereta Api, mau membuktikan bahwa pelayanan Kereta Api sudah berubah. Memang benar pelayanannya bagus. Penumpang nyaman di gerbong tempat duduk lega. Sumi sampai di Jakarta langsung diboyong ke rumah Mas Parman.

Sesampainya di rumah aku tanya suamiku. Apa ada yang tidak beres dengan pernikahan kemarin pa, tanyaku ke suami. Dia menjawab:”Akh normal normal saja, sama dengan saat kita menikah dulu”.  Pembicaraan pun berhenti sampai disana karena anakku Erlangga minta makan, yang biasanya diurus Sumi.

Saat resepsi di Jakarta juga sangat meriah, mitra kerja perusahaan Mas Parman pada datang, mengirim kran bunga ucapan selamat. Banyak yang bilang Sumi mirip alm istri Mas Parman, Ratih terus mendampingi Sumi, dia nampak sudah akrab. Kulihat Erlangga saat memberikan ucapan kemempelai juga nyalami Ratih, “Selamat Ya Tih, semoga cepat punya adik ya”. Kami dan mempelai tertawa berderai... sambil bergumam: ”Erlangga bisa saja. Jangan jangan benar seperti dugaanku, Sumi sudah .. akh aku ngelantur”. Kami pun pulang, karena sangat capek kamipun tertidur.

Seperti janji semula ayahku mengirimkan orang lagi untuk membantu di rumah. Marini namanya. Masih saudara jauhku. Dia tak kalah rajin ke banding Sumi. Dia cepat akrab dengan Erlangga. Aku wanti wanti agar tidak segera menikah, bila perlu kuliah lagi sambil kerja, biar bapak yang ngurus biayanya. Dia belum meng Oke kan nya.

Tak terasa sudah tujuh bulan jalan  Marini ikut denganku. Dia mengerjakan apa yang Sumi lakukan dulu. Pagi itu Sabtu sudah agak siang kok Marini belum pergi ngatar Erlangga latihan musik di rumah Ratih. Ku ingat kan dia, dia bilang:”Apa ibu tak ikutan bezook, mbak Sumi, dia kemarin sore melahirkan, katanya putra”.  Nah benar kan aku, benar kan aku, fikuranku berkecamuk lagi. Aku tengok suamiku ternyata sudah rapi. “Ayo ma, kita bezook bayinya mas Parman” katanya.

Aku bergegas mandi lagi dan merapikan diri, terus berempat pergi ke RS Budi Ibu, tempat Sumi melahirkan. Sampai disana tamunya di batasi masuk, masih ada Eyang kakung dan Eyang Putri Ratih di dalam. Mas Parman mengajak aku ngobrol dulu transit di kantin. Sedangkan Erlangga ditemani Marini main sama Ratih di taman Rumah Sakit.

Mas Parman minta maaf, sebelum Bu Handoko bicara. Karena dia tahu Bu Handoko pasti penuh keheranan. Sebelum gosip beredar perlu dijelaskan terlebih dahulu oleh mas Parman.

“Sumi melahirkan normal cukup umur mbak, aku minta maaf bila kami lancang. Sejalan dengan waktu Sumi sering menemani Erlangga ke rumah untuk les musik maupun kerja kelompok. Sumi sangat cekatan sering membantu pekerjaan dirumahku. Kami klop satu sama lain. Apalagi kulihat Sumi memanfaatkan waktunya untuk belajar, membaca buku buku referensi kuliahnya. Kami sering ngobrol, Sumi bertanya tentang ekonomi padaku, aku jelaskan sebisanya, sampai sampai aku membeli buku paket FE UT. Sumi anaknya sangat sopan, tidak pernah macam macam. Setelah itu kuutarakan bahwa aku sayang padanya. Dia cuma bilang Terimakasih. Itu kuartikan setuju. Tak disangka, kami terbawa suasana dan kamipun berhubungan badan. Sumi melakukannya untuk pertama kalinya. Dia kesakitan. Tapi aku bilang aku akan bertanggung jawab. Itu sudah kusampaikan ke Mas Handoko. Beliau cuma bilang tak apa apa, asal bertanggung jawab. “Oke aku tanggung jawab mas, jawabku”. Setelah itu benar saja Sumi terlambat datang bulan, pada bulan berikutnya. Beberapa hari kemudian kami rancang sama mas Handoko, pertemuan di rumah mbak”.

Sambung ku:”Oh.  Begitu, jadi saat rembugan dirumah itu sudah hampir dua bulan ya” tanyaku. “Iya mungkin 6 atau 7 minggu mbak, mungkin saat wisuda sudah lewat dua bulan” sambungnya.

Kamipun bersalaman, mas Handoko hanya senyum senyum saja. “Makanya mbak aku stop disini, ingin ku jelaskan dulu, agar Sumi tak malu, nanti di bezook” ujar Mas Parman. Mas Parman bilang melihat aku sudah curiga dengan Sumi saat wisuda dan acara pernikahan di Jawa. “Ha ha ha mas Parman rupanya memperhatikan aku ya” sambung ku.

Kami beranjak menuju ruang perawatan ibu dan anak, kami mengucapkan selamat kepada Mas Parman atas kelahiran putranya. Sumi rupanya sudah tahu kamu akan datang, dia memelukku, dia minta maaf sudah merepotkan. Aku ucapkan sekali lagi ke Sumi:”Selamat atas kelahiran putranya, selamat kelahiran adiknda Ratih... Semoga semua berbahagia dengan kelahirannya. Siapa namanya Mas Parman, aku mau ngormati mbak, dan istriku yang namanya sama. Namanya Dwi Santika. Kuambil dari Dwi anak ke dua, Santika dari nama mbak yaitu Santi, maupun istriku Santini. 

Wah namaku di abadikan ya mas Parman. Enggak apa apa karena mbak sudah ngeh proses kelahirannya dari awal. Saat bengong Mas Handoko, menggapit tanganku untuk pamitan karena ada tamu lagi. Diapun membidikkan satu kalimat di telingaku. “Tak usah memperpan jang  masalah Sumi dan Mas Parman. Kita juga dulu begitu”.  Akupun tertawa berderai berdua di gang Rumah Sakit, dan tetap bergandengan mesra semakin erat, dan geli bila mengingatnya. Benar juga : ”Kuman diseberang laut kelihatan, gajah dipelupuk mata tidak kelihatan”.

 

Pakdepudja@puri_gading, 31082023.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar