Jumat, 01 September 2023

Cerpen 4. "Keluat dari Keterasingan (1)

 

Cerpen

“KELUAR DARI KETERASINGAN (1)”

 

Oleh: Pakde Pudja

 

Lestari sudah mulai bertugas menjadi dokter puskesmas, kebetulan ditempatkan di kampung mertuaku. Dia kebanggaan keluarga kami. Dia kebanggaan kakeknya yang mantan kepala desa. Sangat banyak orang yang dibuat bahagia olehnya, karena saudaranya yabg sakit menjadi sehat kembali. Dia dengan bangga di belakang setir Daihatsu Taft warna merah antik aku, warna jas dokternya kontras dengan warna mobil tuanya. Kulihat dia sangat bangga menikmati hari harinya. Dia sudah kembali ke desa.

**#**

Bulan pun bersinar redup malam itu, menambah resah hatiku. Aku merasa bersalah berada di tempat dan waktu yang salah, sehingga aku harus menghabiskan waktuku di balik jeruji besi hampir sepuluh tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang. Aku tak sempat menyaksikan pertumbuhan anakku. Dia kutinggalkan masuk penjara sejak umur 4 tahun.

 

Jadi wajar bila dia tidak cukup mengenal aku. Putri tunggal ku masih menganggap aku orang asing di rumahnya. Aku harus menyesyuaikan diri dengan anakku, aku orang asing di rumahnya.

 

Sepanjang hari sambil menikmati kopi yang sudah lama kehilangan nikmatnya, aku tetap berkutat dengan mobil mobil ‘tua’ yang digemari masyarakat belakangan ini. Keterampilan ku saat STM sekarang SMK Mesin masih ada, bisa di praktekkan sehingga memikat hati Pak Muhidin bengkel mobil tua di kota. Dia seorang pensiunan polisi yang menangkap aku saat dulu. Dia baik, dan memberikan aku motivasi hingga bertahan di dalam penjara. Kalau tidak mungkin aku bunuh diri. Saat asimilasi aku bekerja di bengkelnya. Begitu pula saat aku tak punya bekal untuk pulang aku bekerja di tempatnya dua minggu.

 

Pada saat bekerja di rumah, dikala putriku sekolah aku saling mengenal kembali dengan istriku yang merasa agak asing. Ya seperti saat pdkt dulu dengan istriku. Aku bercerita kisahku  di ‘dalam’ -maksudnya di dalam penjara-, dan dia menceritakan cobaan dan perjalanan keluargaku yang aku tinggal.

 

Aku sekarang tinggal di kampung istriku karena dia anak kedua, tidak kumpul dengan mertuaku namun tetap mereka support. Kakaknya hidup bersama mertuaku. Istriku hidup bertiga, ketiganya wanita. Ibuku, Roswita istriku dan Lestari anakku. Ibuku sudah sangat sepuh hanya tiduran saja sepanjang hari.

 

Siang itu kutatap wajah Roswita, kulihat masih ada guratan derita yang dalam di wajahnya, yangv menggerogoti kecantikannya yang pernah kukagumi. Kubelai rambut yang sudah mulai memutih di tepiannya itu, dia masih sedikit manja. Sifatnya yang kusuka, kadang menjengkelkan aku selama pacaran dulu. Dia nampak mulai berani memelukku lagi.

 

Roswita menemani aku bila dia sudah selesai dengan pekerjaannya, sambil menunggu Lestari pulang sekolah. Dia anak yang cerdas, dia tegas soal pendidikan ke putriku. Sehingga pendidikan putriku berjalan dengan lancar.

 

Ibuku baru mulai mau makan lumayan sejak beliau tahu aku sudah pulang, bahkan bila aku nyuapi Atau cucunya dia mau makan lumayan banyak. Mungkin sudah bosan disuapi Roswota. Pagi itu ibu memanggilku, aku dekati beliau sudah duduk di sofa bambu rumah kami. Air mataku menetes melihat, ibuku sudah mulai berjalan walau hanya beberapa langkah. Ku ajak beliau keluar rumah berjemur di sinar mentari pagi. Beliau senang sekali dan belajar menggerakkan anggota badannya. Keringatnya sudah mulai lancar keluar.

 

Roswita mbawakan ibu secangkir teh hangat manis, dan sepotong kue. Mereka berbincang seperti layaknya ibu dan anaknya. Ibuku selalu membahasakan mantunya dengan anaknya. Aku ikut bangga melihat kedekatan dan obrolan mereka. Sudah mulai tanda tanda kebahagiaan ibu dan istriku di pagi itu. Lestari seperti biasa sekolah berjalan kaki dengan teman temannya motong jalan lewat persawahan sekitar 20 menit dari rumahku ke sekolahnya.

**#**

Pagi sampai siang itu di tengah hujan gerimis mengguyur kampung kami. Aku dan anak anak karang taruna masih memasang (tepatnya) instalasi listrik di rumah mertuaku, sebagai rumah terakhir aku instalasi pagi itu. Kami minta ngajak karang taruna mengerjakan pekerjaan instalasi listrik masuk desa. Uang hasil jasa instalasi rencananya untuk membeli alat musik dan alat olah raga bagi muda mudi di kampung kami.

 

Tinggal dua titik, ada anak memanggil manggil: ”Ayah, ayah.. Ada tamu di rumah”. Seorang pemuda mendekat, Bang itu putrimu memanggil, katanya. Akupun terkaget, putriku sudah memanggilku ayah. Berarti gencatan senjata sudah berakhir. “Tunggu tanggung masih dua titik, tinggal tes jaringan saja” jawabku.  Putriku bergabung dengan neneknya ke dapur. Setelah selesai aku mendekatinya, dan bertanya:”Siapa Les, tamu ayah?”. “Ada orang asing, tak aku kenal. Ayo pulang yah” katanya sambil memegang tanganku, berjalan pulang bersama.

 

Dua tamu ku sudah menunggu, ditemani istriku minum teh hangat siang itu. Mereka kelihatannya orang kota, karena membawa mobil didampingi sopir. Salah satu yang wanita bilang dia anak Pak Surahman, membawa titipan sebuah amplop coklat lumayan tebal titipan ayahnya. Ayahnya meninggalkan pesan sebelum meninggal agar menyampaikan titipan itu ke aku. Aku malas membukanya, bila kuingat Pak Rahman lah yang menyebabkan aku masuk penjara. Dia meminta aku untuk mengambil titipan dari srseorang di sebuah restoran. Saat itulah aku kena OTT, penyerahan uang proyek di kantorku. Aku sangat membenci nya, aku tak mau membukanya. Dia enak saja sebagai dalang malah bebas. Kata istriku menenangkan: “Tak baik mendendam, toh saat ini sudah selesai”.

 

Roswita, mengajak tamunya makan mencicipi masakannya. Kami dan tamu kami makam bersama masakan kampung yang disediakan istriku. Mereka memuji masakannya, enak alami. Hujan sudah reda mereka pamitan pulang, ku antar sampai jalanan.

 

Hatiku sangat bahagia hari itu, Lestari sudah memanggilku ayah. Dia sudah mulai bisa menerima keadaanku. Sore itu kembali aku menservice sebuah mobil Taft Kebo yang lagi ngetrend. Kuminta Roswita membantu menstarter mobilnya, aku cek mesin. Mobil hidup dan suaranya menggelegar. Hati ku cukup senang hari itu sebuah mobil diesel berjalan lagi. Aku coba untuk berkeliling kampung, dan mengitari lapangan bola, sambil melihat rencana muda mudi merapikan lapangan bola.

 

Mobil itu kaya mobil favoritku, Daihatsu Taft Kebo, warna merah marun masih orisinil. Mudah mudah an putriku ada keinginan belajar nyetir, biar kuajari nanti. Aku ingin agar dia ingin b8sa nyioir, minta diajari hingga aku lebih cepat dekat dengannya.

 

Kopi sore dan snack sudah disiapkan Roswita sepulang aku dari lapangan, ibuku ikutan nimbrung minum sore. Hatiku cukup bahagia. Lestari  bergabung kemudian nempel neneknya. Ibuku mengusap usap rambutnya dia manja terhadap neneknya. Aku berkaca kaca menyaksikannya. Lestari usul:”Yah, buka dong amplopnya, siapa tahu itu rezeki kita”. Dengan rasa berat hati, aku suruh Lestari mengambil dan membacanya sendiri. Diapun berlari dan membuka di hadapan kami.

 

Dia membacanya, salah satu isinya adalah permintaan maaf dia yang menyebabkan aku masuk penjara, padahal seharusnya itu tak terjadi bila aku menolaknya. Entah bagaimana kondisi saat itu, kok yang biasa menerima katanya tidak ada di tempat.

 

Kemudian dia mengembalikan rumah peninggalan rumah orang tuaku, yang sudah dibeli rentenir. Almarhum tidak mau bila rumah warisan ku jatuh ke tangan prang lain, makanya ia bebaskan. Anggaplah itu sebagai peringan dosa almarhum, kayanya dalam surat. Dan almarhum menitipkan anak anak beliau untuk ikut diawasi.  Lestari akhirnya mengerti bahwa ayahnya di hukum karena ke tidak tahu annya untuk membantu mengambil titipan.

 

Aku, ibuku dan Roswita kaget mendengar apa yang dibaca Lestari. Melihat sertifikat dan dokumen asli rumah mereka masih utuh atas nama orang tua ku, belum pernah di baluk nama. Roswita mengajak kami untuk menengoknya dulu benar atau tidak, siapa yang menjaga selama ini. Dan aku janji nyari waktu untuk kesana.

 

Begitu asyik menikmati kopi sore, dua mobil tua yang agak batuk batuk dan berdebu diantar sopir ke rumahku. Katanya titipan Pak Muhidin. Kedua sopir itu pun menginap di rumah kami, karena mobil sebelumnya tidak perlu di bawa ke bengkel, untuk aku gunakan saja. Dan yang baru datang besok akan di bawa sopir yang ngantar bila sudah selesai di service.

 

Aku makin bersemangat untuk menyervice mobil yang baru datang, bodi sudah di service kinclong hanya mesinnya menjadi tugasku. Kulihat spare part masih cukup, kucoba dengar gangguan mesin yang ada, akh rata rata dalam kompressi mesin saja perlu di stel, olie disesuaikan. Setengah hari keduanya sudah selesai, kuminta sopir test drive ke lapangan bola. Semua oke. Sehabis makan siang kedua sopir sudah pamitan kembali ke kota.

 

Semua service persenan keuntungan Pak Muhidin. Aku minta dimasukkan saja pada rekening istriku, untuk keperluan sekolah Lestari. Dia bercita cita mau menjadi dokter setelag melihat langsung derita sakit kakek dan neneknya.  

 

Setelah mobil Daihatsu Taft Kebo Merah diberikan kepadaku, aku modif sedikit sedikit menjadi lebih gahar dan keren menurutku. Lestari minta diajari nyopir, ku ajak ke lapangan bola setiap sore, saat istirahat sehabis belajar. Setelah tiga kali ke lapangan dia sudah mampu, menyetir normal, parkir, nanjak maupun di turunan. Dia menjadi lebih dekat denganku. Sore itu dia mau mengajak neneknya keliling desa, aku cuma menemani. Lestari ingin neneknya tahu bahw dia sudah bisa nyetir mobil. Dia tidak mau pamer yang penting bisa nyetir, bila diperlukan emergency dia bisa, misalnya nganter nenek atau keluarga lain ke dokter atau ke rumah sakit. Hari yang lain dia mengajak ibunya untuk ikut duduk di sebelahnya. Aku hanya jadi montir duduk di bangku belakang. Roswita kulihat gemes menahan diri tak mau menunjukkan bahwa dia bisa nyetir. Padahal anaknya lurah, orang yang pertama punya mobil di kampung, dia biasa nyopir. Aku jadi geli, aku sudah bilangin sebelumnya pura pura saja tak bisa nyetir.

 

Untuk ngetes keberanian Lestari ku ajak dia ikutan ke kota menengok rumah kami yang di kembalikan. Kusuruh dia yang nyetir dari rumah, pokoknya sampai mana dia bisa dia yang nyopir. Ternyata mentalnya cukup bagus, dia mampu sampai di tujuan tanpa hambatan yanf berarti. Grogi dikit disalip bus besar ya biasa, dekat truk tronton aku suruh tenang dia bisa.

 

Sebelum ke rumah, ku ajak dia ke bank, melihat rekeningnya yang kubuat khusus untuknya sekolah dari hasil ngebengkel. Aku minta di print kan aktifitas rekeningnya. Diapun menangis memeluk aku. “Yah terima kasih, aku tak menyangka ayah tetap menyiapkan pendidikan aku walau kita tak ngumpul selama ini” bisiknya sambil menangis memeluk aku ayahnya.

 

Bersambung ke part. 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar