Cerpen
“KELUAR
DARI KETERASINGAN (1)”
Oleh: Pakde
Pudja
Lestari
sudah mulai bertugas menjadi dokter puskesmas, kebetulan ditempatkan di kampung
mertuaku. Dia kebanggaan keluarga kami. Dia kebanggaan kakeknya yang mantan
kepala desa. Sangat banyak orang yang dibuat bahagia olehnya, karena saudaranya
yabg sakit menjadi sehat kembali. Dia dengan bangga di belakang setir Daihatsu
Taft warna merah antik aku, warna jas dokternya kontras dengan warna mobil
tuanya. Kulihat dia sangat bangga menikmati hari harinya. Dia sudah kembali ke
desa.
**#**
Bulan pun
bersinar redup malam itu, menambah resah hatiku. Aku merasa bersalah berada di
tempat dan waktu yang salah, sehingga aku harus menghabiskan waktuku di balik
jeruji besi hampir sepuluh tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang. Aku tak
sempat menyaksikan pertumbuhan anakku. Dia kutinggalkan masuk penjara sejak
umur 4 tahun.
Jadi wajar
bila dia tidak cukup mengenal aku. Putri tunggal ku masih menganggap aku orang
asing di rumahnya. Aku harus menyesyuaikan diri dengan anakku, aku orang asing
di rumahnya.
Sepanjang
hari sambil menikmati kopi yang sudah lama kehilangan nikmatnya, aku tetap
berkutat dengan mobil mobil ‘tua’ yang digemari masyarakat belakangan ini.
Keterampilan ku saat STM sekarang SMK Mesin masih ada, bisa di praktekkan
sehingga memikat hati Pak Muhidin bengkel mobil tua di kota. Dia seorang pensiunan
polisi yang menangkap aku saat dulu. Dia baik, dan memberikan aku motivasi
hingga bertahan di dalam penjara. Kalau tidak mungkin aku bunuh diri. Saat
asimilasi aku bekerja di bengkelnya. Begitu pula saat aku tak punya bekal untuk
pulang aku bekerja di tempatnya dua minggu.
Pada saat
bekerja di rumah, dikala putriku sekolah aku saling mengenal kembali dengan
istriku yang merasa agak asing. Ya seperti saat pdkt dulu dengan istriku. Aku
bercerita kisahku di ‘dalam’ -maksudnya
di dalam penjara-, dan dia menceritakan cobaan dan perjalanan keluargaku yang aku
tinggal.
Aku
sekarang tinggal di kampung istriku karena dia anak kedua, tidak kumpul dengan
mertuaku namun tetap mereka support. Kakaknya hidup bersama mertuaku. Istriku
hidup bertiga, ketiganya wanita. Ibuku, Roswita istriku dan Lestari anakku. Ibuku
sudah sangat sepuh hanya tiduran saja sepanjang hari.
Siang itu
kutatap wajah Roswita, kulihat masih ada guratan derita yang dalam di wajahnya,
yangv menggerogoti kecantikannya yang pernah kukagumi. Kubelai rambut yang
sudah mulai memutih di tepiannya itu, dia masih sedikit manja. Sifatnya yang
kusuka, kadang menjengkelkan aku selama pacaran dulu. Dia nampak mulai berani
memelukku lagi.
Roswita
menemani aku bila dia sudah selesai dengan pekerjaannya, sambil menunggu Lestari
pulang sekolah. Dia anak yang cerdas, dia tegas soal pendidikan ke putriku.
Sehingga pendidikan putriku berjalan dengan lancar.
Ibuku baru mulai
mau makan lumayan sejak beliau tahu aku sudah pulang, bahkan bila aku nyuapi Atau
cucunya dia mau makan lumayan banyak. Mungkin sudah bosan disuapi Roswota. Pagi
itu ibu memanggilku, aku dekati beliau sudah duduk di sofa bambu rumah kami.
Air mataku menetes melihat, ibuku sudah mulai berjalan walau hanya beberapa
langkah. Ku ajak beliau keluar rumah berjemur di sinar mentari pagi. Beliau
senang sekali dan belajar menggerakkan anggota badannya. Keringatnya sudah
mulai lancar keluar.
Roswita
mbawakan ibu secangkir teh hangat manis, dan sepotong kue. Mereka berbincang
seperti layaknya ibu dan anaknya. Ibuku selalu membahasakan mantunya dengan
anaknya. Aku ikut bangga melihat kedekatan dan obrolan mereka. Sudah mulai
tanda tanda kebahagiaan ibu dan istriku di pagi itu. Lestari seperti biasa
sekolah berjalan kaki dengan teman temannya motong jalan lewat persawahan
sekitar 20 menit dari rumahku ke sekolahnya.
**#**
Pagi sampai
siang itu di tengah hujan gerimis mengguyur kampung kami. Aku dan anak anak
karang taruna masih memasang (tepatnya) instalasi listrik di rumah mertuaku,
sebagai rumah terakhir aku instalasi pagi itu. Kami minta ngajak karang taruna
mengerjakan pekerjaan instalasi listrik masuk desa. Uang hasil jasa instalasi
rencananya untuk membeli alat musik dan alat olah raga bagi muda mudi di
kampung kami.
Tinggal dua
titik, ada anak memanggil manggil: ”Ayah, ayah.. Ada tamu di rumah”. Seorang
pemuda mendekat, Bang itu putrimu memanggil, katanya. Akupun terkaget, putriku
sudah memanggilku ayah. Berarti gencatan senjata sudah berakhir. “Tunggu
tanggung masih dua titik, tinggal tes jaringan saja” jawabku. Putriku bergabung dengan neneknya ke dapur.
Setelah selesai aku mendekatinya, dan bertanya:”Siapa Les, tamu ayah?”. “Ada
orang asing, tak aku kenal. Ayo pulang yah” katanya sambil memegang tanganku, berjalan
pulang bersama.
Dua tamu ku
sudah menunggu, ditemani istriku minum teh hangat siang itu. Mereka
kelihatannya orang kota, karena membawa mobil didampingi sopir. Salah satu yang
wanita bilang dia anak Pak Surahman, membawa titipan sebuah amplop coklat
lumayan tebal titipan ayahnya. Ayahnya meninggalkan pesan sebelum meninggal
agar menyampaikan titipan itu ke aku. Aku malas membukanya, bila kuingat Pak
Rahman lah yang menyebabkan aku masuk penjara. Dia meminta aku untuk mengambil
titipan dari srseorang di sebuah restoran. Saat itulah aku kena OTT, penyerahan
uang proyek di kantorku. Aku sangat membenci nya, aku tak mau membukanya. Dia
enak saja sebagai dalang malah bebas. Kata istriku menenangkan: “Tak baik
mendendam, toh saat ini sudah selesai”.
Roswita, mengajak
tamunya makan mencicipi masakannya. Kami dan tamu kami makam bersama masakan
kampung yang disediakan istriku. Mereka memuji masakannya, enak alami. Hujan
sudah reda mereka pamitan pulang, ku antar sampai jalanan.
Hatiku
sangat bahagia hari itu, Lestari sudah memanggilku ayah. Dia sudah mulai bisa
menerima keadaanku. Sore itu kembali aku menservice sebuah mobil Taft Kebo yang
lagi ngetrend. Kuminta Roswita membantu menstarter mobilnya, aku cek mesin.
Mobil hidup dan suaranya menggelegar. Hati ku cukup senang hari itu sebuah
mobil diesel berjalan lagi. Aku coba untuk berkeliling kampung, dan mengitari
lapangan bola, sambil melihat rencana muda mudi merapikan lapangan bola.
Mobil itu
kaya mobil favoritku, Daihatsu Taft Kebo, warna merah marun masih orisinil. Mudah
mudah an putriku ada keinginan belajar nyetir, biar kuajari nanti. Aku ingin
agar dia ingin b8sa nyioir, minta diajari hingga aku lebih cepat dekat dengannya.
Kopi sore
dan snack sudah disiapkan Roswita sepulang aku dari lapangan, ibuku ikutan
nimbrung minum sore. Hatiku cukup bahagia. Lestari bergabung kemudian nempel neneknya. Ibuku
mengusap usap rambutnya dia manja terhadap neneknya. Aku berkaca kaca
menyaksikannya. Lestari usul:”Yah, buka dong amplopnya, siapa tahu itu rezeki
kita”. Dengan rasa berat hati, aku suruh Lestari mengambil dan membacanya
sendiri. Diapun berlari dan membuka di hadapan kami.
Dia
membacanya, salah satu isinya adalah permintaan maaf dia yang menyebabkan aku
masuk penjara, padahal seharusnya itu tak terjadi bila aku menolaknya. Entah
bagaimana kondisi saat itu, kok yang biasa menerima katanya tidak ada di
tempat.
Kemudian
dia mengembalikan rumah peninggalan rumah orang tuaku, yang sudah dibeli
rentenir. Almarhum tidak mau bila rumah warisan ku jatuh ke tangan prang lain,
makanya ia bebaskan. Anggaplah itu sebagai peringan dosa almarhum, kayanya
dalam surat. Dan almarhum menitipkan anak anak beliau untuk ikut diawasi. Lestari akhirnya mengerti bahwa ayahnya di
hukum karena ke tidak tahu annya untuk membantu mengambil titipan.
Aku, ibuku
dan Roswita kaget mendengar apa yang dibaca Lestari. Melihat sertifikat dan
dokumen asli rumah mereka masih utuh atas nama orang tua ku, belum pernah di
baluk nama. Roswita mengajak kami untuk menengoknya dulu benar atau tidak,
siapa yang menjaga selama ini. Dan aku janji nyari waktu untuk kesana.
Begitu
asyik menikmati kopi sore, dua mobil tua yang agak batuk batuk dan berdebu
diantar sopir ke rumahku. Katanya titipan Pak Muhidin. Kedua sopir itu pun
menginap di rumah kami, karena mobil sebelumnya tidak perlu di bawa ke bengkel,
untuk aku gunakan saja. Dan yang baru datang besok akan di bawa sopir yang
ngantar bila sudah selesai di service.
Aku makin
bersemangat untuk menyervice mobil yang baru datang, bodi sudah di service
kinclong hanya mesinnya menjadi tugasku. Kulihat spare part masih cukup, kucoba
dengar gangguan mesin yang ada, akh rata rata dalam kompressi mesin saja perlu
di stel, olie disesuaikan. Setengah hari keduanya sudah selesai, kuminta sopir
test drive ke lapangan bola. Semua oke. Sehabis makan siang kedua sopir sudah
pamitan kembali ke kota.
Semua
service persenan keuntungan Pak Muhidin. Aku minta dimasukkan saja pada
rekening istriku, untuk keperluan sekolah Lestari. Dia bercita cita mau menjadi
dokter setelag melihat langsung derita sakit kakek dan neneknya.
Setelah
mobil Daihatsu Taft Kebo Merah diberikan kepadaku, aku modif sedikit sedikit
menjadi lebih gahar dan keren menurutku. Lestari minta diajari nyopir, ku ajak
ke lapangan bola setiap sore, saat istirahat sehabis belajar. Setelah tiga kali
ke lapangan dia sudah mampu, menyetir normal, parkir, nanjak maupun di turunan.
Dia menjadi lebih dekat denganku. Sore itu dia mau mengajak neneknya keliling
desa, aku cuma menemani. Lestari ingin neneknya tahu bahw dia sudah bisa nyetir
mobil. Dia tidak mau pamer yang penting bisa nyetir, bila diperlukan emergency
dia bisa, misalnya nganter nenek atau keluarga lain ke dokter atau ke rumah
sakit. Hari yang lain dia mengajak ibunya untuk ikut duduk di sebelahnya. Aku
hanya jadi montir duduk di bangku belakang. Roswita kulihat gemes menahan diri
tak mau menunjukkan bahwa dia bisa nyetir. Padahal anaknya lurah, orang yang pertama
punya mobil di kampung, dia biasa nyopir. Aku jadi geli, aku sudah bilangin
sebelumnya pura pura saja tak bisa nyetir.
Untuk
ngetes keberanian Lestari ku ajak dia ikutan ke kota menengok rumah kami yang
di kembalikan. Kusuruh dia yang nyetir dari rumah, pokoknya sampai mana dia
bisa dia yang nyopir. Ternyata mentalnya cukup bagus, dia mampu sampai di
tujuan tanpa hambatan yanf berarti. Grogi dikit disalip bus besar ya biasa,
dekat truk tronton aku suruh tenang dia bisa.
Sebelum ke
rumah, ku ajak dia ke bank, melihat rekeningnya yang kubuat khusus untuknya
sekolah dari hasil ngebengkel. Aku minta di print kan aktifitas rekeningnya.
Diapun menangis memeluk aku. “Yah terima kasih, aku tak menyangka ayah tetap
menyiapkan pendidikan aku walau kita tak ngumpul selama ini” bisiknya sambil
menangis memeluk aku ayahnya.
Bersambung
ke part. 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar