Sabtu, 09 September 2023

Cerpen 8. PETUALANGAN CINTA


“PETUALANGAN CINTA”

 

Sore itu dikala aku duduk termenung melihat dua jago sedang bertarung di depan rumah, tiba tiba ada sepucuk telegram datang. Aku terima dari Pak Pos, sambil asyik menonton pertarungan dua jago yang masih seru. Hasil akhirnya si hijau kewalahan, si merah menang dengan sombongnya bersorak kelurukkkkk, kuk kluruk kuk, secara berulang setelah mengibaskan sayapnya.

Aku buka telegram nya dari istri sahabatku di kota Medan yang mengirim, mengabarkan bahwa suaminya masuk Rumah Sakit karena kecelakaan. Aku tahu istrinya pasti panik, apalagi kudengar bahwa dia lagi hamil lima bulan, sudah pasti dia sangat panik. Komunikasi saat itu tidak semudah sekarang, kebesokannya baru aku bisa nelpon menanyakan kondisinya lewat temanku di kantor cabang di kota Medan.

Kalau sekarang tinggal telpon lewat HP, kalau dulu lewat telpon konvensional, yang tidak semua orang mempunyai di rumahnya. Aku menggunakan fasilitas kantor.  Aku hanya bisa berdoa semoga kawan ku Si Patari tertangani dengan baik oleh dokter dan bisa cepat sembuh.

Ku telepon lewat Budi kawanku. Dia mengabarkan bahwa Patari sudah tertangani, kakinya yang patah sudah di operasi di pasang pen. Semoga saja dia cepat sembuh. Budi pun berinisiatif akan mengabari teman seangkatan aku saat menjadi karyawan, untuk solidaritas mendoakan Patari.

Budi sambil tertawa ditelepon mengabarkan bahwa patari saat kecelakaan lagi membonceng cewek cantik. Ceweknya lebih parah dari Patari, namun tidak ada patah tulang. Hanya gegar otak ringan saja  Mungkin ini menyebabkan Lestari istri Patari menjadi lebih marah. Ku minta Budi menenang kan Lestari agar dia tidak stress saat kehamilan nya dalam mengurus Patari.

Aduh Patari kawanku satu ini tak henti hentinya main cewek, nggak tahu istrinya lagi hamil. Budi kuminta membantu Patari menguruskan Asuransi Kesehatannya agar tercover biaya perawatannya. Kejadian itu kemudian kudengar mengguncang rumah tangga Patari, sehingga Lestari keguguran anaknya dalam kandungan. Terus minta cerai dan kembali ke Sidoarjo Jawa Timur. Patari sangat malu dia keluar dari kantorku karena malu, kudengar dia sekarang menjadi Pimpinan sebuah Agent Perjalanan Wisata, menikahi cewek yang kecelakaan dengannya.

**#**

Waktu cepat berlalu, aku masih di Jakarta. Patari di Medan dan Budi pindah ke kantor cabang di Surabaya. Semuanya sudah ada anak, aku sudah hampir anak dua karena istriku lagi hamil, anak pertama baru lari larian. Budi kata Patari sama dengan Patar punya seorang anak yang belum genap setahun.

Asyik memgurus keluarga kami masing masing, sampai lupa saling berjabat sampai Budi menikahpun aku tak tahu, tapi Patari tahu karena masih ada hubungan bisnis masih sering berkomunikasi. Aku janji bila dinas ke Surabaya aku akan mampir ke rumah Budi, anak Tulung Agung yang kukenal sejak pertama kulihah kami satu angkatan satu almamater.

**#**

Kali ini ada dinas ke luar, aku sengaja minta ke Surabaya, ke Medan sudah tahun lalu ketemu Patari saat dia sudah mulai sembuh dan menikah lagi. Saat aku mampir di rumah Budi, benar saja dia punya Agen Perjalanan di depan rumahnya yang di dekat Bandara. Dia melayani tiket bus, kereta api, kapal laut dan pesawat udara. Saat aku dikenalkan Budi ke istrinya aku kaget, kok namanya Astuti, kukira Lestari. Aku sempat bilang:”Mbak Lestari?”. Diapun menggeleng bukan mas. “Mbak Lestari jauh lebih cantik dariku” katanya. Wah aku keliru rupanya, kaya pinang dibelah dua. Kata Budi memang dia menaksir Lestari, namun Lestari tak mau dan menyuruh mendekati adiknya yang masih gadis. Biar lestari nanti nikah dengan yang lebih tua atau sudah duda sekalian, begitu permintaan Lestari.

Budi rupanya gengsi mengundang aku saat menikah, karena dia menikah terakhir. Dia kalah taruhan karena perjanjian yang dia buat diantara kami bertiga, siapa menikah terakhir berkewajiban mengundang dan menanggung beban transportasi dan penginapan. Budi saat menikah kesulitan dengan biaya, karena saat itu kemarau panjang sehingga dia harus mensupport keluarganya di kampung.  “Nah senjata makan tuan” kataku. Budi yang berjanji dia pula yang melanggarnya. Kau yang berjanji kau yang mengingkari Budi, kataku dalam hati.

Kami tertawa berderai berempat saat itu, karena saat itu Lestari juga ada di tempat Budi, ikut bergabung kemudian sehingga kami berempat dengan Budi dan Astuti ngobrol ngalor ngidul sore itu.

Lestari bilang bahwa Budi orang baik, dia menolong Lestari saat terpuruk di Medan keguguran kandungannya kemudian bercerai dengan suaminya kala itu. Lestari meminta Astuti menikah dengan Budi kalau dia mau. Lestari tahu bahwa Astuti juga menaruh hati pada Budi, dan Budi pantas dapat istri gadis. Walau lestari tahu Budi suka padanya. Lestari tak mau Budi menikahi janda seperti dia. Dia mengalah, yang pada akhirnya menikah dengan seorang guru ngaji di kampungnya.

Setelah malam Budi mengajakku mencoba masakan khas Surabaya, makan rujak cingur dan soto tangkar, tapi aku pilih rawon saja karena aku sudah kangen kuahnya itu lho yang gurih dengan keluweknya. Aku nggak habis pikir kamu akhirnya bisa menikah Dengan Astuti, dan dikaruniai seorang Puteri cantik seperti ibunya, dan tinggi seperti ayahnya. Lalu dia bercerita kenapa dia pindah dari Medan. Itu memang karena Astuti disamping karena bisnisnya disana bangkrut kena tipu rekan bisnisnya. Tapi ke keluarga dia bilang kerugian perusahaan yang kalah bersaing.

Kami juga tidak lupa mengunjungi Jembatan Suramadu, kami berhenti di seberang menikmati malam yang mulai beranjak malam. Aku tanya lagi kenapa Budi tidak jadi menikah dengan anak juragan supermarket dari Pamekasan, di Pasar Gembrong itu. Budi bilang hanya masalah dia, Sarah hanya tamatan SMP keluarganya menentang. Lagi pula mahar yang diminta keluarga Sarah sangat tinggi.

Bulan sudah condong ke barat, kami kembali ke penginapan di antar Budi, untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat pagi, mau langsung ke kantor.

**#**

Kembali keseharian di Jakarta, aku sudah melupakan kenangan bersama teman temanku Patari dan Budi. Tak kusangka suatu pagi Patari sudah duluan di kantor menungguku. Dia bilang sudah seminggu di Jakarta. Dia ada urusan pribadi yang dia hadapi bersama istrinya Ariani. Ariani membawa kabur anaknya karena suatu masalah dengannya. Ariani selalu mengungkit pernikahannya yang tanpa modal cinta. Berawal dari iseng kenal, lalu indehoy berdua, kecelakaan sembuh. Orang tua Ariani menganggap Patari membawa petaka ke anak mereka, sehingga memaksa Patari menikahinya. Sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab Patari menerimanya dengan sportif, terlebih saat itu dia baru cerai dengan istrinya Lestari. Bak pucuk dicinta ulam tiba.

Nah sekarang karena tanpa cinta mendasari pernikahan mereka, Ariani kembali menjalin kasih dengan kekasihnya sebelum kecelakaan dulu. Kelihatannya dia belum move on. Cintanya sangat kuat diantaraereka berdua. Dia mengajukan cerai ke Patari. Dengan tidak mengambil pusing Patari setuju cerai dan anak ikut ibunya karena masih kecil.

Dia mengais hidup di Jakarta dengan kerja serabutan. Sebenarnya di kantorku ada lowongan yang pas dengan kualifikasi Patari, tapi aku tidak berani memasukkannya karena Patari biasa tak bertahan lama kerja disebuah tempat. Dia akan selalu mencari peluang lebih baik, menerima kerja yang bayarannya lebih besar. Itu dilema buatku. Tapi aku biarkan dulu dia cerita sambil aku menyelesaikan kerjaku pagi itu.

Akhirnya kami keluar kantor, untuk makan siang disebuah kantor ormas yang cukup besar. Saat muda kami sering makan disana karena terkenal dengan udang asam manisnya, serta sayur daun singkong santannya.

Kata Patari dia merasa terlahir kembali makan di tempat ini. Ternyata banyak teman yang bernostalgia makan pada siang itu. Begitu kami ngopi sehabis makan, ada seorang ‘nona’ apa ‘nyonya’ seakan masih ku kenal. Patari mendekati dan menanyakan kebenaran memorinya. Benar saja dia Nita. Dia alumni Sekolah Bisnis tidak jauh dari rumah makan itu, sekarang mengelola bisnis keluarga dan sampai lupa menikah katanya. Patari sempat saling bertukar kartu nama, walau dia pakai kartu nama saat di Medan. Wah dasar PatarI kebiasaan mudah jatuh cinta tetap saja. Kamipun kembali ke kantor meninggalkan Nita makan bersama seorang ajudannya.

Patari sudah selesai urusan dengan istrinya, dengan perjanjian hitam diatas putih segala setelah proses perceraian, diapun asyik dengan kehidupan Jakarta. Dasar PatarI dimanapun dia bisa hidup, dia seperti pohon singkong bisa hidup dimanapun. Dia bisa menjadi timer pangkalan, calo tiket segala event, memang kelebihan dia.

Tiga bulan berlalu, Patari datang padaku. Dia membawa undangan bahwa dia akan menikah. Kubaca calon penganten perempuannya Dr. Yuanita, aku bilang ke dia: ” mudah mudahan aku bisa datang”. “Betul datang ya biar tambah ramai walau penganten estewe, setengah tua” candanya sambil berlalu. Dia hanya mampir sebentar di kantorku. Tak enak katanya karena banyak yang masih kenal dan tahu kisah cintanya di Medan.

Pernikahan berlangsung anggun, namun tidak ramai. Disebuah hotel di tepian laut di Utara Jakarta. Alunan musik country dan jazz silih berganti. Cocok dengan pengantennya yang sudah estewe. Mereka penganten memakai pakaian penganten kelihatan sederhana namun berkelas. Tetapi tetamu tidak terlalu banyak, kami sempat saling kenalan satu persatu. Ternyata mempelai wanita itu adalah Nita yang kujumpai di rumah makan. Kubisiki Patari:”Awas jangan main main, ini pernikahan terakhir ya”. Jawabnya hanya ngangguk ngangguk saja. Nita pun nyeletuk membisiki aku:”tenang Mas Brow, dia sudah jinak”. Kamipun tertawa aku, istriku dan kedua mempelai. Nita tahu panggilanku Mas Brow berarti dia orang dekat kami juga. Rupanya Nita sudah kenal aku saat masih mahasiswa. Sebelum sekolah bisnis dia sekampus dengan kami  Patari itu pernah naksir Nita, namun Nita fokus sekolah dulu. Terus kerja lupa pacaran dan menikah. Pertemuan dengan kami di rumah makan membangkitkan semangatnya untuk berani menikah. Patari memotivasi Nita untuk menikah, dan Khabar itu Nita khabarkan ke orang tuanya, dan semuanya setuju karena dari dulu sudah kenal Patari.

Lagu country roadnya John Denver mengalun merdu mengiringiku menikmati hidangan yang dihidangkan para pelayan cantik. Kami menjadi tamu yang dilayani malam itu. Semua kulihat hepi terutama Nita yang selalu mengempit tangan Patari. Patari memang temanku itu sangat romantis.  Malam itu milik mereka berdua.

Pernikahan yang ketiga Patari ini sampai ke telinga Lestari. Dia meneleponku, aku jelaskan yang aku tahu. Lestari pun kelihatan ikut berbahagia mendengar berita ini. Dia merasa ikutan bersalah telah cerai dari Patari, karena kemakan emosi , goncangan keguguran dan kecelakaan Patari ia menyesal. Tapi diapun sekarang sudah betbahagia dengan pak guru ngaji. Lestari tahu Patari orang setia dengan istri, hanya mudah digandrungi wanita karena sifatnya yang mudah membantu dan gampang bergaul. “Dia orang setia, seharusnya aku tak nuntut cerai kala itu”, katanya.

Hampir sudah tiga tahun Nita dan Patari menikah, mereka dikaruniai seorang Puteri cantik. Mereka hidup bahagia, Patari rajin dan pandai, menjadi tandem Nita, bukan dalam membangun rumah tangga saja namun memajukan perusahaan juga. Semua kelihatan bahagia ketika Patari dan Nita mengadakan pertemuan keluarga antara keluarga Patari, Lestari, Ariani yang semuanya sudah punya anak. Mereka orang orang baik, akan kembali ke kumpulan orang baik, kaya kawanan burung itu. Dia akan kembali ke kelompoknya. Demikian juga manusia, dia akan baik bila berkumpul orang baik, dan dia bisa melenceng dikawanan orang yang tidak baik. Aku Mas Brow salut buat sahabatku ini semua, karena keluarga kami, keluarga Budi juga hadir pada pertemuan itu. Kuucapkan, “Selamat Sore Mas Bro dan Mbak Sista semuanya semoga hepi di hari ini dan hari esok”.

 

Pakdepudja@Baliselatan, 06092023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar