Selasa, 05 September 2023

Cerpen 6. Kakak Iparku, Ibu Anak anakku.

 

 

Cerpen.

 

“KAKAK IPARKU, IBU ANAK ANAKKU”.

 

Akhirnya Suhendro dan Suherni menikah sesuai dengan amanat almarhum istrinya. Suherni membatalkan keputusannya untuk tidak menikah. Dia dosen yang berhasil, pada akhirnya sampai pada jabatan puncak sebagai Guru Besar. Almarhumah istri Suhendro adik dari Suherni. Almarhum meninggal karena digrogoti kangker sudah cukup lama. Laksmi, Laksamana dan Savitri yang memang dekat dengan tante Herni, mendapatkan kasih sayang mamanya yang hilang. Merekapun hidup rukun dan damai dalam keluarga yang bahagia dan berkecukupan, menikmati hari harinya di tiga tempat, Bandung, Tasikmalaya dan Jakarta.

**#**

Sungguh galau hatiku pagi itu, sangat banyak pertanyaan yang tak mampu kujawab sendiri. Sama dengan hari hari yang lain bahkan jauh lebih sulit dari membawa perusahaan kami saat sulit pandemi ke banding ini. Hari ini aku ke kantor hanya mau mampir main saja sambil mengusir kegalauanku. Aku tak betah berlama lama di ruangan, aku jalan saja dan tak mau di temani sopir atau siapapun, asistenku Aini masih memimpin rapat staff.

 

Aku keluar halaman kantor berjalan menyusuri trotoar, dibawah pohon Sakura yang lagi berbunga menuju sebuah café. Sekitaran pk 10 30 aku tiba dan berhenti disana duduk di pojokan. Aku bilang sama waitres tidak mau diganggu, aku hanya memesan kopi vietnam dan sepotong wafel. Aku pejamkan lagi mataku, pertanyaan itu muncul lagi. Itu tuduhan anak gadis remajaku, Laksmi. Aku dengan istriku mempunyai tiga anak. Pertama Laksmi Dewi, sudah remaja kelas dua SMP, Laksamana kelas 6 SD dan Savitri Dewi baru kelas 4 SD. Yang bontot anakku yang paling cuek, dia hanya dan sangat respek sama kakaknya Laksmi ke banding denganku. Laksamana orang yang paling dekat dengan istriku. Sebenarnya cuma Laksmi yang biasa menghiburku, tapi kali ini tidak. Dia komandan pembenci aku.

 

Baru sebulan istriku meninggal dan dimakamkan di pemakaman keluarga. Aku masih sering mengunjungi makamnya, seakan aku belum ikhlas menerima kepergiannya. Ia aku memang belum bisa ikhlas.  Istriku malah terlihat lebih tabah dan tegar menghadapi kematiannya. Karena dia sudah diberitahu dokter tentang harapan sakitnya. Sejak kematian almarhumah, orang tuaku ikutan menemani aku di rumah.

 

Galau beratku mulai muncul ketika orang tuaku mau pamitan kembali kerumah tempat tinggalnya. Masih sekota tapi berlainan jalan, lebih dekat dengan pasar dan sekolah anak anakku. Terutama yang SD, hanya yang SMP sekolahnya lebih dekat ke tempat tinggal ku.

 

Ketika itu aku ngobrol berdua dengan anakku Laksmi, tiba tiba ia berteriak:”Papa jahat, papa bunuh mamaku dengan halus, papa sekongkol dengan tante Hani”.  “Karena papa jahat, maka biarkan kami tinggal sama kakek dan nenek saja” lanjutnya.

 

Hampir aku kehilangan kendali mau memukul Laksmi, tapi ayahku keburu menahan tanganku. Akhirnya kami rangkulan, dan meminta maaf sama beliau. Ayah memahami ke marahanku. Beliau bilang:”Biarkan anak anak ikut ayah dulu, dia belum bisa mengikhlaskan kepergian mamanya”. “Silahkan yah, aku titip anak anak. Biarkan mereka menenangkan diri dulu”, sambung ku ketika itu.

 

Waitres mempersilah kan aku minum, kopi sudah siap dengan sepotong kue pesanan ku. Aku diberikannya sepotong wafel dan jamm madu serta blueberry menyertai kopi vietnam. Aku seruput kopinya, terasa lebih nikmat dari kopi Bu Irah tadi pagi di rumah. Aku kembali dengan pertanyaan terkait anakku, kenapa dia bisa ngomong begitu. Benarkan aku telah membunuh istriku, benarkan Hani kerjasama denganku membunuhnya?. Siapa yang memberikan dia informasi ini? Dan seterusnya muncul lagi di benakku. Sungguh kejam orang yang meracuni pikiran anakku. Yang tega memfitnahku. Seingatku, aku tak pernah mengkhianati istriku, apa lagi selingkuh dan membunuhnya.

 

Aku seruput kopinya selagi masih hangat dan nikmat. Aku coba melihat HP ku, ternyata masih off. Kucoba hidupkan ternyata sangat banyak pesan dan miss call yang masuk. Saat itu tiba tiba HP ku berdering. “Halo, Selamat Siang, dengan Suhendro disini” sapaku. Dari seberang suara Kepala Sekolah Laksmi menelponku. Meminta aku besok datang ke sekolahnya. Pertanyaan baru muncul menambah pertanyaan di benakku. Ada apa lagi anak gadis remajaku ini. Apa ada masalah di sekolahnya.

 

Aku selesaikan bill kopi ku, terus aku menelpon sopirku untuk datang menjemputku. Aku sudah share lokasi. Aku mau pulang mau tidur, mungkin tidur dapat menyegarkan pikiranku. Itu Obay galau yang paling paten saat ini, tidur.

 

Sesuai undangan Kepala Sekolah aku sampai lima menit lebih awal, aku pergi ke ruang Kepala Sekolah. Aku diminta menunggu sebentar, karena Pak Kepala masih mengajar di kelas. Aku disuguhi kopi dengan kue kue tradisional, ada tiga cangkir kopi lagi dan kue cukup untuk empat orang.

 

Pak Kepala Sekokah datang bersamaan dengan guru BP dan wali kelas Laksmi. Pak Kepala Sekolah (Kepsek) menjelaskan bahwa Laksmi terpilih untuk mewakili pertukaran pelajar ke Canada, itu memerlukan persetujuan orang tua. Aku di panggil karena kemarin Laksmi membawa ayah (kakeknya) untuk memberikan persetujuan, dan sekolah tidak mau. Itu harus tanda tangan dari aku ayah kandungnya.

 

Guru BP menjelaskan bahwa dia menduga antara aku dan Laksmi ada konflik sehingga perlu beliau ketengahi, untuk mediasi, karena tidak baik untuk Laksmi yang masih muda. Guru Wali menjelaskan bahwa Laksmi masih juara kelas semester ini, namun nilainya goncang. Aku diminta ikut mengawasi dan menemukan penyebabnya. Semuanya aku ucapkan terimakasih kepada semuanya. Kepsek dan Guru Wali pamit duluan, aku tetap ngobrol sama Ibu Guru BP. Tak lama berselang Pak Kepsek membawa Laksmi ke tempat aku dengan Bu Guru BP. Pak Kepsek terus pergi ke kelas lagi meninggalkan kami.

 

Laksmi aku tawari pelukan dengan membuka kedua tanganku, dia menabrak aku dan menangis sejadi jadinya. Omelan bahwa aku telah membunuh mamanya, masih sesekali diucapkan. Tapi dia tak menyebut lagi aku selingkuh.

 

Bu Guru BP menyuruh aku untuk diam men dengar dan membiar kan Laksmi bicara. Rupanya dia menganggap aku dengan Tante Hani bersekongkol, agar bisa menikah dengannya. Oh tante Herni maksudnya Itu menyakiti hati mamanya, menurut Laksmi. Aku tetap diam menjadi pendengar setia. Herni itu Suherni, adalah kakak istriku yang belum menikah karena mengejar kariernya sebagai dosen di almanaternya. Istriku adiknya Suwarni menikah denganku, lima belas tahun lalu. Jadi aku faham biang keladinya. Jadi ini mudah solusinya, karena anak anakku sangat respek dengan tantenya.

 

Setelah dia terdiam dan duduk dipangkuan aku papanya. Aku usap usap rambutnya. Bu Guru BP menyilahkan aku ngomong. Aku minta Laksmi duduk di depanku, biar aku bida menatap matanya. Wajah Laksmi mirip wajah mamanya. Aku cuma bilang ini salah faham, ayo besok jumat sore kita temui tantemu di Bandung. Kamu tanya dia langsung apa sebenar nya yang terjadi. Anakku mengangguk, dan dia minta aku ijinkan dia ikut pertukaran pelajar ke Canada. “Oke, kalau memang kemauan kamu, papa setuju” kataku sambil menanda tangani surat persetujuan itu. Aku keluar dari sekolah Laksmi, dia mencium punggung tanganku sepert biasa. Aku lega aku mau pulang, dan siap siap pergi akhir pekan ini.

 

Aku jemput putra putriku, untuk pergi ke Bandung. Kakek dan neneknya ikut juga. Dua mobil meluncur ke Bandung lewat tol Cipularang. Tante Herni tak tahu kedatangan kami sebelumnya. Saat kani tiba masih sore, dia di beranda, masih membaca buku, dan draf thesis masih numpuk kelihatan habis berdiskusi dengan bimbingannya.

 

Anak anakku sangat dekat dengan tantenya. Dia dua bersaudara, orangtuanya mertua ku keduanya menjadi korban letusan Gunung Galunggung. Saat itu mereka lagi menengok kebon teh, mereka lagi nginap disana terus bencana itu datang. Sesekali Harni masih pulang ke Tasikmalaya. Tetapi aku heran kok putriku bisa curiga ke tante nya. Laksmi sambil ngobrol menanyakan kebenaran berita itu, apa benar tantenya bersekongkol membunuh mamanya, karena mau menikah dengan papa. Dasar anak anak nanya nya kok polos amat. Untung tantenya sabar dan mengerti psikologi anak anak ku.

 

Dengan tenang Suherni menjelaskan ke ponakannya bahwa itu tidak benar. Nah Laksmi tetap ngotot tidak bisa dijelasin, akhirnya papanya minta Herni menyuruh Laksmi membaca surat mamanya. Lalu Tante Herni membuka laci, dan menarik tangan Laksmi, menyuruh membaca surat itu. Surat itu surat dari mama, yang dititipkan nya kepada ayah untuk diberikan kakaknya. Yang satu surat wasiat yang mamanya kirimkan via kurir sebulan sebelum kematiannya. Tante memberikan ke Laksmi dan membacanya.

 

Surat pertama, jelas tanggalnya sekitar sebulan setengah sebelum mama meninggal isinya: “Kak, umurku kata dokter tidak lama lagi, sakitku sudah stadium akhir. Aku pingin bertahan mungkin sudah tak bisa. Kalau waktu itu tiba, aku titip anak anakku untuk kakak urus. Kakak anggaplah mereka anak sendiri sebagai pengganti kehadiran aku”.  Kulihat di kertas surat ada bekas tetes air mata. Laksmi terdiam seribu bahasa. Laksmi baru tahu  ternyata mamanya sudah lama sakit. Kok mama tak pernah bilang, mungkin tak mau membebani pikiran kami anak anaknya. Air mata Laksmi juga menetes di surat itu menyatu dengan air mata tanteku yang sudah mengering. Ada kesedihan mendalam di kedua wanita itu.

 

Surat ke dua, mama titipkan ke papa untuk membawa ke Tante Herni, seminggu sebelum kematiannya. Karena didesak mama, maka papaku pergi ke Bandung mengantar amanah itu meninggalkan mama di RS. Aku ingat kakek yang menunggu mama saat itu. Benar Laksmi tahu papanya ke Bandung diantar Om Hadi, sepupu ayahku dari nenekku. Aku tak sanggup membacanya namun untuk menjawab keraguanku kucaba membaca walau dengan derai air mata.

 

Isi surat ke dua lebih pendek, aku yakin itu tulisan tangan mamaku. Tulisannya sudah tak konsisten. Isinya: “Kakakku tercinta, saatnya sudah semakin dekat aku meninggalkan kalian Aku titip anak anak untuk kakak didik seperti mendidik aku dulu. Bila kakak mau, nikahlah dengan Suamiku, dia suami yang baik. Aku serahkan semua keputusannya pada kakak, aku percayakan penuh mereka kepada kakak” Adikmu Suwarni.

 

Tulisannya susah tidak stabil tapi itu tulisan mama, mungkin tangannya sudah gemetaran. Dua hari setelah tanggal itu mama tiada. Kami menangis saling berpelukan dengan Tante Herni. Adik adik Laksmi melihat kakak dan tantenya menangis, merekapun ikutan rangkulan semua dan menangis sesenggukan.

 

Laksmi merasa sudah bersalah besar kepada tantenya, dia tak henti hentinya meminta maaf kepada tantenya. Dia merasa bersalah sama papanya, sehingga semakin menambah duka papanya. Herni tahu psikis anak anaknya -yang dia bahasakan selama ini kepada keponakannya- iapun mengajak anak anak mencuci muka, segera duduk kumpul dengan papanya. Laksmi memeluk ayahnya dia minta maaf sama ayahnya.

 

Malam itu tante Herni menawari mereka untuk meginap saja di Bandung. Kakek dan Neneknya Laksmi lagi mampir ke kerabatnya di Dago diantar sopir mungkin juga menginap disana. Rombongan itu bergerak ke luar untuk mencari makan di Bandung Indah Plaza. Mereka makan pada sebuah restoran Padang, seperti kemauan anak anak. Herni sangat bijaksana sekarang sifatnya kok seperti adiknya.

 

Sehabis makan mereka  pergi menonton kebetulan ada pemutaran film warkop reborn. Laksamana terus gelayutan sama tantenya. Aku terpaksa ikutan nonton. Tapi pikiranku tidak bisa berhenti Adi kok tega memfitnah aku di kala begini dikala aku berduka. Aku kasihan psikis anak anakku terganggu.

 

Anak anakku kelihatan senang sekali bersama tantenya malam itu. Laksamana tidur dengan tantenya malam itu, Laksmi, Savitri dan aku tidur di kamar yang lain. Keesokan harinya setelah sarapan kami pamitan pulang, sedangkan anak anak yang pas libur long week end, oleh tantenya tetap diminta tinggal oleh menemaninya. Biar belajar naik kereta nanti pulang ke Jakarta katanya.

 

Di Bandung rupanya Laksmi dipersiapkan tantenya untuk mandiri karena mau ikut pertukaran pelajar. Dia merasa terlalu berat tantenya mentraining dia. Tapi Laksmi asyik saja karena dia ingat didikan tante Herni mirip dengan didikan ibu.

 

Laksmi menjadi lebih semangat dan lebih mandiri menjalani hari harinya. Ayah nya pun sangat berterima kasih pada Herni. Laksmi sudah bisa mengomando adik adiknya balik ke Jakarta naik Kereta Api saat itu. Di sekolah juga dia sudah kembali ke gaya aslinya. Laksmi bisa menyetrika pakaiannya sendiri, dia pingin selalu perfect. Adik adiknya pun sangat respek padanya. Ini kata tantenya biar dia bisa mandiri saat pertukaran pelajar nanti.

 

Akhirnya sejalan dengan semakin lengketnya Laksmi dengan Herni, serta Laksamana diminta pindah sekolah ke Bandung agar bisa lebih diawasi Herni. Rayuan Laksmi ke Tantenya agar Herni mau menikah dengan aku ayahnya, luluh juga hatinya. Kata Herni: ”untuk meredam omongan  orang” dengan seringnya aku datang ke rumah Herni, dan anak anak sudah menganggap Herni mamanya, aku menikah dengan sederhana disaksikan kerabat terdekat,  teman kerja dan anak anakku. Permintaan Laksmi agar kami menikah mengabulkan permintaan almarhum mama, sebelum Laksmi berangkat pertukaran pelajar.

 

Dengan pertimbangan kampus tempat tante Herni mengajar di Bandung, Laksamana dan Savitri dipindahkan ke Bandung, ayah masih wira wiri Bandung Jakarta, karena usahanya ada di Jakarta. Keluarga itupun mencapai kebahagiaan, seperti kalimat dalam Sloka di Bagawad Gita. “Ku ciptakan engkau saling berpasang pasangan untuk menyatu membangun keluarga, berkembang biak untuk mencapai kebahagiaan”. Maknanya sangat dalam, orang berkeluarga itu untuk melengkapi hidup, melahirkan keturunan, dan untuk teman mencapai kebahagiaan lahir bathin, dunia akhirat. ‘Swargo katut, neroko nunut’. Ungkapan kuno itu rupanya relevan dengan sloka BG.

 

Pakdepudja@puri_gading, 08082023.

Senin, 04 September 2023

Suster Nike Eps 2


Perjalanan Panjang Suster Nike.

“KEBAHAGIAAN SEMU NIKE”

 


Hujan masih cukup deras, Suster Nike sudah selesai merawat luka bekas operasi istriku. Katanya sudah sembuh, sehingga hari itu merupakan hari terakhir dia datang kerumahku. Lukanyapun sudah dinyatakan sembuh.

Sementara  istriku sedang menyusui bayiku, Suster Nike, ku temani ngobrol di ruang tamu sambil nonton tv. Seperti biasa sambil menikmati teh poci. Kali ini ditemani dengan martabak manis pandan yang kubeli di jalan raya Tanah Kusir saat pulang tadi.

Suster Nike rupanya enak diajak ngobrol. Dia menceritakan keluarga kecilnya yang sudah dikaruniai seorang anak lelaki, sudah hampir dua tahun umurnya.

Jadi sebaya anakku yang pertama,  “Gemamora namanya”, kata Suster Nike. Pantesan suster Nike sangat dekat pula dengan putra sulungku. Rupanya anakku seumuran anaknya. Kata istriku dua hari lalu bahkan putraku itu sempat dimandikan Suster Nike. Beliau sangat dekat dengan anak anak, bahkan sempat main main dengan anakku.

Suami beliau seorang karyawan swasta, bekerja pada salah satu BUMN infrastruktur, yang sering mengerjakan proyek di seluruh wilayah Indonesia, bahkan kudengar saat ini menjadi kontraktor sampai ke Timor Leste.

Kata Suster Nike, suaminya sangat romantis, jarang marah dan kalau sedang di rumah sangat aware dengan putranya. Bahkan menidurkan putranya pun saat beliau  dirumah sangat terampil, terlebih ketika Suster Nike dinas malam.

Pernikahannya saat menolong istriku sudah berjalan tiga tahun. Kalau kudengar keluarga yang sangat harmonis. Tinggal di sebuah rumah tidak besar di daerah Grogol, tidak jauh dari tempat Suster Nike bertugas. Katanya rumah sendiri. “Tidak lagi mikirin kontrakan tiap tahun dong, bu”, kataku.

Suami Suster Nike sering ditugaskan mengawal logistik ke lokasi proyek di luar kota, sehingga mereka sering berpisah. Bahkan cukup lama, karena logistik di angkut lewat laut.

Selorohku ke Suster Nike:”Mungkin karena sering ditinggal, menjadikan keluarga ibu begitu harmonis, sehingga terus terasa seperti penganten baru saja ya bu”.

Kala itu Suster Nike ketawa lepas. Tetapi di dalam ketawa lepas nya, aku menduga dihati kecilnya malah mengkhawatirkan suaminya tergoda dalam perjalanan dinasnya. Sama seperti ibu ibu umumnya.

Itu kuduga karena ketawanya tak tulus. Kedengaran ada kekhawatiran. Akh … itu urusan Suster Nike fikirku. Aku tak boleh terlalu ikut campur.

“Akh tak usah terlalu berlebihan curiga sama suami, nanti suaminya tak tenang dalam tugas”, kataku menenangkan. Sesuatu yang wajar bila seorang istri khawatirkan suaminya saat dinas ke luar kota.

Lebih lanjut kubilang, ibu pasrahkan saja yang penting suami ibu setia. Masalah nyeleweng itu masalah bakat dimiliki semua orang laki atau perempuan, tinggal dikembangkan atau tidak. Itupun dimiliki oleh semua suami.

‘Kata Bang Napi, kejahatan itu timbul tidak semata karena niat pelakunya, tapi lebih banyak datang karena ada kesempatan, ada penggodanya. Begitu bu”, kataku.

Jangankan di luar kota, kalau mau di rumah pun orang bisa selingkuh. Di kantor istrinyapun suami bisa selingkuh. Tergantung iman dari suami ibu. Sering kita dengar suami selingkuh dengan pembantu, ipar dan lain lain. Begitu pula banyak suami selingkuh dengan teman seruangan istrinya di kantor.  Akh perumpamaan ku ke Suster Nike berlebihan. Jangan jangan aku memprovokasinya. Seharusnya tidak karena Suster Nike sangat dewasa dalam pemikirannya dan pengalaman.

“Kalau masalah iman, mudah2 an, puji Tuhan suami saya bagus pak, dia masih taat beribadah. Setiap ibadah biasanya kami pergi bersama. Sekalian untuk rekreasi”, jelas Suster Nike.  Akh orang yang rajin beribadah tidak berarti bebas selingkuh. Tak ada korelasinya, apalagi berbanding lurus, gumanku dalam hati.

“Jesempatan ibadah juga  selanjutnya sering ku gunakan untuk mengunjungi teman sejawat, sepulang beribadah”, urai Suster Nike.

Kebetulan keluarga Suster Nike beribadah tak jauh dari rumahnya. Di tempat ibadah pada tempat yang disediakan Pemda DKI untuk umat beribadah. Aku tahu tempat itu, disana satu komplek ada Mesjid, Gereja, Pura, Wihara. Yang dibangun saat Gubernur Ali Sadikin. Kutahu karena aku beberapa kali ibadah disana, di Pura Jelambar.

Ya rupanya keluarga Suster Nike, keluarga bahagia dengan satu putra. Suami istri kerja sudah memiliki tempat tinggal sehingga sama seperti kami sudah tidak dikejar kejar kontrakan.

Hujan berhenti kami terus mengantarkan pulang Suster Nike. Seperti biasa kami menyusuri Jalan Tanah Kusir, Pesanggrahan, Kembangan, Kebon Jeruk, Tanjung Duren sampai Grogol tempat tinggal Suster Nike, dengan memacu motorku.

Rupanya suami Suster Nike sedang bercengkerema dengan putranya di teras rumahnya. Aku berhenti dan mengantarkan Suster Nike masuk ke rumahnya. Aku salaman memperkenalkan diri Yansarja.

“Mohon maaf, suster Nike pulang agak telat sedikit, karena di tempat kami tadi hujan lebat”, ujarku kepada Suaminya Suster Nike.

“Lenda, Johannes Lenda, saya suaminya Nike”, jawabnya. Dengan basa basi karena sudah cukup gelap, akupun pamitan kepada Pak Lenda dan Suster Nike.

Ku starter motorku, eh rupanya gadis yang semalam menyetop aku ada lagi.  Batas satu pintu dari rumah Suster Nike. Dia menyangka aku tukang ojek pangkalan.

Ku tanyakan kepadanya. “Nona mau ke mana?” tanyaku.

“Aku mau ke Tanamur”, jawabnya.

“Akh kita nggak sejalan, aku bukan ojek. Kalau arah selatan, Palmerah atau Senayan, ayo, kuanter sekalian pulang” jawabku.

Ya reken reken ngojek, sambil pulang dapat ongkos ojek lumayan buat beli pecell lele, Bang Udin.

Malam itu bulan meremang, disertai renai gerimis. Ku pacu pelan motorku sambil mengingat gaya gadis yang mau ke Tanamur Tanah Abang Timur itu. Kusenandungkan lagu Ebiet G Ade dan Lagunya Mukhsin Alatas berikut:

Ingin berjalan berdua, denganmu kekasih. Lewati malam telah usai renai gerimis….

Lelawa jadi luruh dengan rumput hijau

Jemari tangan kita lengket jadi satu

Dan seterusnya…..

Lagunya Hostes Tanamur Mukhsin Alatas ini.

 

 …Dia menghampiri dengan senyum mesra

Mengajakku turun melantai, mengikuti irama…….. Dst nya

Dalam senandung kecilku, akupun sampai di rumah, dengan sedikit kedinginan, rambut lusuh -karena saat itu belum wajib helm-, istriku pun sudah tidur ngeloni bayi kami. Pelan pelan kubangunkan. Ku genggam tangannya kutuntun ke ruang tamu. Kuajak menikmati Nasi Pecel Lele yang kubeli di Tenda Biru Pecel Lele Udin, di pojokan Komplek Kodam.

Malam itu walau tidak terlalu pedas sambelnya, ku nikmati Nasi pecel lele lengkap dengan soto ayam dan kerupuk kaleng berdua di ruang tamu, sambil nonton Aneka Ria Safari nya Eddy Sud.

Adikku membawa bungkusannya ke kamarnya menikmatinya sambil belajar.

Malam pun semakin larut, kuanterkan istriku ke tempat bayi kami tidur. Akupun melanjutkan nonton TV, dan ketiduran di depan TV.

Rupanya tidurku terlalu pulas, terbangun karena suara azan subuh di mesjid dekat rumahku.

Selamat pagi.

 

Jimbaran, awal Agustus 2022.

 

Suster Nike. Eps 1


Perjalanan Panjang Suster Nike.

 

SUSTER NIKE

 

Sore itu aku baru saja sampai rumah. Rumahku di BSD, bukan di Bumi Serpong Damai, tapi di Bintaro Sanaan Dikit. Aku bersyukur bisa punya rumah walau di pinggiran Jakarta. Sudah tidak di kejar2 kontrakan.

Aku sedang menunggu Suster Nike yang dikirim Dr Yahyana untuk membantu merawat luka istriku bekas operasi Cesar anakku yang ke dua.

Adikku yang ikut dengan kami sudah selesai menyiram kebun kecil disamping rumah. Kebun bunga,  hasil minta minta bibitnya di tetangga.

Dia menyuguhkan teh hangat padaku yang sedang duduk di teras. “Nungguin siapa mas, tumben duduk di luar”, tanyanya.

“Lagi nungguin tamu, Suster yang akan merawat luka operasi mbakmu, yang sedikit ada masalah”, jawabku.

Kuteguk teh hangat yang dibuatkan adik. Sungguh nikmat teh poci sore ini. Teh poci dihidangkannya dalam pot sedang, dengan gula batu di cangkir. Teh poci ada seni dalam menikmatinya.

Gula batu di taruh di cangkir di grojog dengan seduhan teh, sehingga ampas yang terbawa sampai ikut dengan tumpahan tehnya. Groosst ku teguk sangat nikmat. Mengingatkan aku saat pendidikan di Diklat Transjaya Tegal beberapa tahun lalu, sering menikmati teh poci, di warung dekat alun alun.

Sedang asyiknya menyeruput kopi, tiba tiba ada suara, yang mengucapkan salam.

“Selamat Sore Bapak, suara wanita.

“Selamat Sore Bu”. Jawabku.

Rupanya Suster Nike, dengan seragam putihnya menjulurkan tangannya memberikan salam. Suster ini seperti aku tahu, asalnya bila kuperhatikan tengkuk, serta cara bersalaman denganku dan  juga cara jalannya.

“Ya silahkan masuk Suster, istri saya sudah siap di kamar”. Jawabku sambil mengantarkan Suster ke kamar istriku. Silahkan saya mau meneruskan nge teh didepan suster.

Aku kembali ke depan menikmati teh poci yang belum selesai ku nikmati

“Ti Roti...Ti Roti” begitu teriak tukang roti yang biasa lewat depan rumahku. “Stop Bang”, teriakku. Aku membeli beberapa varian roti, roti cempedak, roti gambang dan roti moka.  Roti Tan Ek Tjoan yang memang menjadi kesukaanku sejak kuliah dulu. Mantap satu bisa kenyang.

Oleh anakku roti Tan Ek Tjoan sering dipelesetkan menjadi roti Tante Coan. Akh dasar anak2 yang belum bisa membaca.

Roti cempedak ku nikmati sambil meneruskan minum teh pociku. Kupanggil adik untuk mengantarkan teh juga ke kamar istriku untuk mereka berdua bersama Suster Nike.

Kutahu suster Nike rumahnya cukup jauh dari rumahku. Disamping membantu merawat luka operasi istriku, dia juga pinter memberikan motivasi ibu yang habis melahirkan biar tegar, tak terjangkit baby blue.

Angin semilir sore itu, di tambah pekerjaan yang cukup padat rupanya membuat aku ketiduran di kursi teras rumahku. Maklum PNS abdi negara. Masih bawahan disuruh kesana kemari.

“Pak ..Pak..Pak,Pak bangun”, istriku menepuk pundak ku, aku terkaget dia sudah berani jalan keluar. Aku terkaget bangun sambil usap usap mata.

“Itu Suster Nike sudah selesai, mau pamitan”, lanjut istriku.

“Terimakasih rotinya Pak”, kata Suster Nike.

“Oh sama sama Suster, maaf roti grobak pas lewat” kataku.

Istriku meminta aku, untuk mengantarkan Suster Nike ke rumahnya di daerah Grogol. Saat itu jalan masih sepi, ku antar kan suster lewat Jalan Panjang, Tanjung Duren, terus bunderan Grogol. Saat ini jalanan itu cukup macet. Sepanjang jalan aku ngobrol dengan Suster Nike.

Suster Nike dinas di RS Pemerintah Daerah, katanya setelah lulus sekolah di RS Erkaset (RKZ),  Surabaya, dia mengabdi di almamaternya setahun setengah terus pindah ke Jakarta karena tawaran temannya untuk kerja di RS itu. Jadi keterusan sampai kini.

Singkat cerita dia menikah dengan suaminya sekarang. Sehabis patah hati ditinggal nikah pacarnya seorang mahasiswa di Sekolah Penilik Kesehatan Surabaya. Pacarnya pemuda satu daerah. Jadi sama sama merantau. Bahkan selama pacaran mereka sudah biasa sharing biaya. Kedua orang tua mereka sudah pada tahu dan kelihatannya saling setuju.

Eh ternyata setelah tamat sang pacar menikah dengan seorang penari, tamatan sekolah karawitan. Nah saat itu hatinya gundah gulana, ada tawaran kerja di Jakarta,  tanpa pikir panjang serta sebagai pelarian dia terima tawaran itu. Siapa tahu luka hati ini cepat sembuh kalau jauh dari tempat berdua dahulu.

Dia menikah berdasarkan cinta, dengan orang yang dia bilang sangat mencintainya. Pernikahan dilakukan secara Adat dan Agama di Timor sana.

Kata Suster pernikahannya sangat ramai dan meriah. Dengan dansa dansi di lapangan sebelah rumah mempelai pria. Tenda di pasang sangat besar.

Suster Nike bilang pernikahannya dilakukan juga, walau tidak mulus. Ditentang orang tuanya. Orang tuanya bilang kita nikah beda desa saja kadang beda adatnya. Apalagi kamu menikah beda suku dan beda lainnya. Tentu banyak masalahnya. Begitu pendapat ayah. Rupanya panah asmara sudah terlanjur menusuk kedua insan ini. Mereka nekat melakukan pernikahan. Suster pamit pada orang tuanya, aku Cuma minta restu bukan minta persetujuan. Wah orang tuanya setengah ikhlas merelakan dan membekalinya untuk menikah.

Mendengar cerita pernikahan suster Nike, aku teringat saat dinas ke kantor perwakilan di Kupang.  Kebetulan ada pegawai ya nikah, aku diajak hadir saat pesta pernikahan. Memang sangat ramai. Muda mudi turun badansa. Lagunya ya sangat asyik dinyanyikan group band lokal.

Lagu yang masih kuingat sampai saat ini, lagu Kaos Kuning Nomor 8. Kira2 sayairnya begini -eh maaf bila tidak pas-.

Ade nona zaman sekarang punya mas kawin mahal sekali (2x)

Piring gantung, mobil kijang itu kadang. Buah manis, kulit pala tambah lagi sebilah parang

Siyo nona siyo nona saya dengar kau mau kawin tinggalkan saya(2x)

Kalaulah begitu (2x)

Kembalikan baju kaos kuning nomor delapan ....dst.

Hai hai si nona montok hei, baju kaosnya nomor delapan kataku. Saat mendengarkan cerita Suster Nike. Diapun tertawa... Rupanya Suster Nike tahu lagu itu. Malah janji kasih aku pinjam compack disk nya, khusus berisi lagu untuk badansa khas Timor.

Sampailah aku ke tempa tinggal Suster Nike. Rumah yang indah untuk keluarga,kecilnya.

Aku langsung pamitan. Putar balik pacu motor lewat pinggiran Tol. Sambil menyenandungkan lagu baju kaor kuning nomor delapan. Tak kurasa aku sudah hampir melewati Bebek Bakar Yogi di Kebon Jeruk. Aku mampir sebentar membeli nasi bungkus untuk istriku, aku dan adik di Warung Bebek Bakar Yogi.

Nasi dengan bebek bakar sambel hijau untukku. Nasi bebek bakar madu kecap untuk istriku dan seporsi lagi satu porsi bebek bakar sambel merah untuk adikku.

Aku melanjutkan menyusuri jalan Pesanggrahan, Tanah Kusir hingga sampai rumahku.

Ku bangun kan istriku yang ketiduran habis nyusui bayi kami, ku ajak menikmati nasi bebek Yogi, sebagai penambah gizinya sehabis melahirkan. Kami tak punya ruang makan, kami makan di ruang tamu sambil nonton tv.

Bebek Yogi sangat bersejarah, karena saat ngidam anakku yang sulung istriku ngidamnya nasi bebek Yogi. Hampir rutin kami mampir, kebetulan kalau pulang kerja kami lewat depan bebek Yogi.

Disana pula kami pernah dating saat pacaran eh ketemu bekas muridku yang sudah jadi Arsitek. Malah istriku  jadi akrab dengan muridku, karena mereka pernah saling bertetangga.

Malam itu sambil menunggu kantuk, ku habis kan waktu berdua sama istri bernostalgia kenangan di saat pacaran dulu. Yang kelihatannya mirip dengan cerita Suster Nike. Cerita RS RKZ pun menggelitik ingatanku karena pernah mampir kesana saat masih muda. Ngapain lagi kalau bukan lihat-lihat perawat yang ada disana, siapa tahu ada yang cocok. Ya Rumah Sakit yang di Jalan Diponegoro Surabaya itu.

Disamping tempat mengabdi, sekolah RKZ juga tempat mencari pacar suster atau bidan yang masih singel.

Bukit Jimbaran, 1 Syuro, akhir Juli 2022.

 

 

 

 

 

 

Jumat, 01 September 2023

Cerpen 5. Keluar dari Keterasingan (2)


“KELUAR DARI KETERASINGAN (2)”.

 

Oleh: Pakde Pudja.

 

Lestari kulihat sangat senang, dia sangat bangga dengan dirinya, dia sudah aku percaya nyopir dari kampung ku sampai di kota, hampir seratus kilometer. Dia rajin mengambil foto lingkungan rumah warisan kami, yang terawat dengan baik walau cat nya sangat kusam. Saat SMA nanti Lestari pingin sekolah di kota, atau tetap di desa saja belum dia putuskan. Foto hasil jepretannya di lihat di laptopnya, sehingga nenek dan ibunya bisa ikut nimbrung melihatnya. Semua pada berbisik komentar.

 

Aku tetap asyik dengan mobil antik yang perlu service mesin, yang dikirim Pak Muhidin. Terlihat ada VW Safari,  Daihatsu Taft, Suzuki Jimni. Memang hobi dan kerja ayah nyambung. Sehingga seakan tak kenal lelah dalam kerjanya. Setelah aku bisa nyetir sering diminta ayah test drive menemani ayah keliling kampung. Karena mobil antik tak banyak yang memperhatikan Lestari.

 

Namun kebahagiaan yang dialami anak, mantu, bedan dan cucunya, banyak yang menggunjingkan. Maklum saja karena hidup di kampung. Gunjingan itu sampai ke Pak Mantan Lurah, Sumarno. Sumarno ayah dari Roswita, memanggil mantunya untuk datang ke rumahnya.

 

Pada pertemuan itu ayah mertuaku menyampaikan berbagai gunjingan yang muncul belakangan ini, karena aku berhasil menggalang muda mudi menjadi pelopor dan produktif di kampung, aku gonta ganti mobil walau mobil tua. Pada saat itupun aku sekalian ceritakan bahwa rumah warisan di kota sudah kembali, sehingga memang kami sudah merencanakan memboyong keluarga kami ke kota. Bapak mertuaku minta maaf, dan meminta kami tak tersinggung. Beliau tak mau kesehatan mental keluarga kami terganggu akibat gunjingan di kkampung Hanya itu tujuan mertuaku.

 

Berita ini kusampaikan ke Roswita, dia malah berfikiran kakaknya iri melihat keluarga kami, sehingga memfitnah dan ngadu ke ayah. Aku bilang fikirkan dengan tenang bahwa Lestari sebentar lagi SMA dia perlu sekolah yang lebih baik, rumah keluarga harus diurus, pekerjaanku dengan Pak Muhidin bisa lebih lancar. Akhirnya Roswita merencana kan habis kenaikan kelas ini kami akan pindah. Rumah harus di cek dan diservis dulu. Mendengar rencana ini, Ibuku kelihatannya sangat bersemangat. Beliau cepat sekali pemulihan nya. Mungkin berita tentang rumah memotivasi ibu cepat sembuh.

 

Setiap pagi beliau sudah mampu jalan jalan keliling desa ditemani istriku sambil ke pasar. Ibu bercerita ketemu langganan pedagang telur yang rutin mengambil telur itik dan telur ayam ke rumah. Produksi telur itik sekitar 60 butir seminggu, dan telur ayam sekitar 30 butir per dua minggu. Hasilnya dikelola oleh Roswita untuk keperluan keluarga bersama hasil panen dan ternak yang lain.

 

Secara bertahap kami pindah ke kota, pertama aku dan ibu pindah sambil mengawasi orang kerja, serta ngebengkel mobil antik. Ibu masih dikenal tetangga kami. Sehingga banyak teman bersosialisasi membantu penyembuhan ibuku. Lestari dan Roswita tetap sementara di kampung menyelesaikan SMP nya. Setiap akhir pekan aku ke kampung, atau Roswita dan Lestari yang ke kota.

 

Semua berjalan sesuai rencana, bapak mertua dan saudara Roswita sangat membantu kami. Lestari mendapat sekolah yang dia inginkan di kota, Roswita hanya menemani aku dan merawat ibu sehari hari. Bengkel kami berjalan dengan lancar tetap bekerja sama dengan bengkel Pak Muhidin.

 

Sudah cukup lama ibu minta kami bersama ziarah ke makam ayah, di Cirebon, dekat Gunung Ciremai di sebuah pemakaman keluarga. Bayanganmu itu tempat yang indah yang dipulihkan untuk peristirahatan terakhir ayah. Semoga beliau senang disana.

 

Sepucuk surat berlogo PT Taspen ku terima, untuk datang ke cabang di kotaku. Aku fikir ada kelebihan bayar gaji padaku saat di dalam. Aku datang dengan dokumen yang ada.  Ternyata aku telah dipensiun sebelum perkaraku inkrah. Aku punya rapelan pensiun. Surat Pensiun rupanya tidak dikirim padaku. Untung ada seorang bawahan ayah dulu di Dinas Pendapatan Daerah sekarang di PT Taspen, yang melihat nama ku ada di takah tak berkembang, dia uruslah pensiun ku. Lumayan aku mendapatkannya karena hampir 15 tahun aku tak terima.

 

Begitu juga uang pensiun janda nya ibu rupanya tidak beliau ambil semenjak sakit dan pindah ke kampung. Kuterima semuanya, kuserahkan uang pensiun beliau. Ibuku sangat gembira, di bagi bagilah ke Roswita, ke Lestari untuk membeli pakaian, sebagai hadiah mereka yang merawat ibu selama sakitnya.

 

Ibu bersemangat saat kami antar berziarah ke makam ayah. Kami memanjatkan doa dan mohon maaf karena sangat mungkin masalah ku ikut memicu sakit dan wafatnya beliau. Beliau kena serangan jantung saat kami masih di tahanan, belum diadili. Jadi kami tak bisa menyaksikan. Jenazah ayah di bawa keluarga pulang ke Cirebon.

 

Ibu terlihat sangat khusuk berdoa, demikian juga Roswita dan Lestari ikut berdoa mendoakan almarhum. Taburan bunga kamboja, mawar dan melati, air kembang mengguyur pusara ayah. Begitu selesai Berdoa hujan gerimis mengguyur kami. Mungkin itu pertanda doa kami sampai dan ‘didengar’ permohonan maaf kami.

 

Saat mampir pada keluarga besar di Cirebon, suasana berlangsung kurang enak. Mungkin perasaan kami saja, terutama aku yang lama di pengasingan di dalam. Kami hanya menginap semalam dan terus kembali keesokan harinya.

 

Kami sempat berhenti di Cikampek, mobil yang kubawa sebuah Datsun E2000 antik pinjam Pak Muhidin, terlihat gagah dan antik terawat di deretan parkiran Warung Sate Maranggi. Banyak yang tertarik melihat lihat mobilku di parkiran. Semua menikmati makan sate dan sop sesuai selera. Ibu minta sate ayam lontong, Roswita dan Lestari memesan Sate Sapi dan Gulai, aku memesan Sate dan Sop Kambing, dengan nasi saja. Minumnya kompak semua minum es air kelapa muda. Kami sampai di kota sudah hampir malam.

 

Malam itu ibuku meminta Lestari tidur dengannya. Biasa pulang dari bepergian jauh dia biasanya minta dipijitin kakinya oleh Lestari. Lestari sangat senang karena baru diberikan hadiah neneknya. Tidur kamipun pulas dibuai hujan gerimis malam itu. Pagi pagi Roswita biasa ke dapur membuat sarapan, aku ngontrol mobil di grasi bengkel. Ada mobil gazz tua dan sebuah VW combi yang bodynya sudah di modif. Sambil nyeruput kopi aku dan Roswota ngobrol ngalor ngidul tentang perjalanan ziarah sebelumnya.

 

Istriku mengusulkan kepadaku untuk memperbaiki nisan makam ayah dengan yang lebih pantas, sebelum lebaran nanti. Ibu kelihatan tak berkenan melihatnya. Sampai sampai ibu bilang tidak mau di makamkan disana. Beliau malah minta dimakamkan di makamkan di dekat kota saja agar kami yang ditinggalkan lebih mudah ziarah. Kami meneruskan mengutak atik mesin Gazz, ternyata banyak bagian mesin yang sempat kering dan karatan. Harus aku bongkar. Biasanya head mesin saja dibuka cukup. Sedangkan VW Combi minta dimodif biar aman dari kebakaran mesin.

 

Karena pagi itu kulihat Lestari sudah bangun dan susah rapi, aku suruh test drive mutar sekitar komplek rumah kami. Komentarnya Gazz ini asyik yah, gagah kalau nyopirnya. Harusnya modif sekalian klaksonnya biar lebih modern, diresto begitu. Aku diskusi dengan Lestari, kalau VW dia bilang asyik dan halus sekal8 mesinnya. “Siapa dulu bengkelnya” ujar Lestari. “Ayah” jawabku,  sambil toos berdua.

 

Istriku minta Lestari membangunkan neneknya, tak lama berselang Lestari berteriak....:”nenek,  nenek...” sambil nangis. Aku dekati, dia bersimpuh disamping tempat tidur ibu. Aku pegang nadinya, aku test nafasnya dengan punggung tanganku. “Innalilahi Wainnalilahi Rojiun”. Kami ajak Roswita dan Lestari mendoakan agar jalan ibu dilapangkan, diampuni dosanya serta diberikan oleh Nya ketabahan untuk kami semua. “Semoga ibu husnul khotimah”.

 

Aku panik atas kepergian ibu yang tiba tiba, seakan beliau neninggal dalam sehatnya. Atau mungkin Sakit yang terselubung rasa ingin sehat, untuk kembali ke rumah serta sempat menziarahi makam ayah.

 

Semua serba berjalan sangat cepat. Mertua dan keluarga di kampung tak berselang lama sudah tiba, kelancaran dibantu Pak Muhidin dengan semua anak buahnya, sampai almarhumah di makamkan di pemakaman Kober, tidak jauh dari tempat tinggal ku. Keluarga pada menginap sampai hari ke tiga menemani kami berduka. Ibu kulihat pergi dengan senyum, apa mungkin saat ziarah beliau bilang akan segera menyusul ayah. Akh semua berkecamuk dalam pikiranku, tapi kami berusaha ikhlas.

 

Dalam lamunanku banyak tanda tanya. Mungkin ibu lebih memilih meninggal di rumahnya sendiri, padahal di kala di kampung sakitnya sering sangat parah. Atau mungkin menunggu bebasnya aku. Akh macam macam. Tapi dalam duka aku masih beruntung bisa mengurus jenazah ibuku. Tidak seperti saat ayah meninggal, jangankan mengurus, menengok untuk yang terakhir pun aku tak bisa.

 

Kepergian ibuku memicu Lestari lebih giat belajar, dia bertekad akan sekolah untuk menolong keluarga dan kemanusiaan. Dia sangat ingin masuk Fakultas Kedokteran, aku dan Roswita hanya bisa menyemangati dan mengusahakan biayanya serta membantunya dengan doa.

 

Rumah kami kembali sepi dengan kepergian ibu. Kucoba tidak mengurangi semangat ku memajukan bengkel. Roswita membantuku dalam mengurus keuangan. Aku sudah punya tiga anak buah yang kuambil lulusan STM dari kampung Roswita, anak Karang Taruna yang sudah ku kenal. Aku ingin buktikan aku bisa ikut memajukan kampung Roswita.

 

Terkadang aku ngelamun di samping mobil mobil yang aku servis, kenapa himpitan masalah, himpitan hidup terus menggencet kehidupanku. Aku terpuruk saat baru menikah, Roswita hamil. Dalam kehamilannya aku kena OTT masuk penjara, padahal aku cuma seorang kurir disuruh atasanku mengambil titipan. Dia bisa mengelak, aku masuk penjara, kemudian aku tak tahu sampai istriku pulang kampung dan anakku sudah SMP. Saat senang senangnya di kampung kami harus balik ke kota. Di kota ibuku terus tiada. Kenapa sejarah kesedihanku sambung menyambung.

 

Semoga saja Lestari tidak terganggu oleh kondisi ini. Kasihan dia baru remaja. Tiba tiba istriku menghampiri membawakan minum dan rebusan singkong dan kacang edamame dan lempog yang dia beli di pasar. “Jangan ngelamun saja” goda Roswita. Aku Cuma bilang:”Kenapa dalam kisah ini kesedihan dan masalah datang silih berganti” keluhku. Istriku menenangkan aku dengan berkata:”Itulah kehidupan, kita harus jalani dengan suka cita, cobalah bersyukur dengan apa yang kita peroleh”, sambungnya sambil memeluk aku.

 

Usahaku lumayan berkembang, sampai aku bisa menyekolah kan Lestari sesuai cita citanya. Dia kuliah di kota gambang Semarang, di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Kudengar dari temannya dia akan segera di wisuda, diambil sumpah dokternya. Aku memang tidak tahu, mungkin Roswita tahu nanti aku coba tanyakan. Aku ingin ngajak Roswita naik mobil Taft Kebo merah kesayanganku pergi ke Semarang. Semoga kelulusan Lestari menghibur diriku dan melepas belenggu kesedihan dan ‘kesialan’ perjalanan hidupku.

 

“Tin tin tinnnnn” suara mobil yang dihantar sopir Muhidin di sampingku. Aku terkaget dan terbangun. Kudengar kan ‘keluhan’ dari deru mesin yang ada, kusuruh tinggalkan saja, sambil membawa mobil Jeep Willis, VW Kodok dan sebuah Austin mobilnya Si Doel. Aku dengar ramai di dalam rumah. Ternyata putriku lagi mencoba coba kebaya dengan istriku. Dia memadu padankan kebaya dan batik yang akan di pakai saat wisuda. Aku sih ngikut saja Roswita pasti sudah menyiapkan pakaian untukku.

 

Roswita menyuruh aku segera mandi. Mereka mau ngajak makan makan sebagai ucapan syukur atas kelulusan Lestari, dr. Lestari Karya Ciptanagara. Rupanya dia tak malu menuliskan namaku Ciptanagara di belakang namanya, walau aku seorang yang di vonis ‘koruptor’. Tapi anakku menganggapnya itu risiko kerja, karena menurutnya semua kerja membawa risiko. Obatpun yang diyakini dokter menyembuh kan, terkadang berefek samping negatif,membawa risiko kata Lestari sambil memeluk dan mencium aku.

 

Roswitapun tersenyum menyaksikan adegan putriku memelukku. Dan berteriak “Merdeka....Merdeka... merdeka”. Aku sungguh bahagia sore itu, dan dari mulutkupun bergumam. Kembali dari keterasingan, ke bumi berada.... Masih terasa  menyakitkan. Akh sekarang sudah membahagiakan batinku, gumanku di hati. Apakah dalam sejarah prang mesti jadi pahlawan....?

 

Iya, ayahlah pahlawan ku kata Lestari, ayah pahlawan keluarga, ayah telah mengembalikan kepercayaan diri, kepercayaan hidup kami, kata Lestari memelukku, dan Roswitapun ikut memelukku. Tak pernah se bahagia ini hatiku. Seakan melayang ke langit ke tujuh.

 

Pakdepudja@Puri_Gading, 17082023.

Cerpen 4. "Keluat dari Keterasingan (1)

 

Cerpen

“KELUAR DARI KETERASINGAN (1)”

 

Oleh: Pakde Pudja

 

Lestari sudah mulai bertugas menjadi dokter puskesmas, kebetulan ditempatkan di kampung mertuaku. Dia kebanggaan keluarga kami. Dia kebanggaan kakeknya yang mantan kepala desa. Sangat banyak orang yang dibuat bahagia olehnya, karena saudaranya yabg sakit menjadi sehat kembali. Dia dengan bangga di belakang setir Daihatsu Taft warna merah antik aku, warna jas dokternya kontras dengan warna mobil tuanya. Kulihat dia sangat bangga menikmati hari harinya. Dia sudah kembali ke desa.

**#**

Bulan pun bersinar redup malam itu, menambah resah hatiku. Aku merasa bersalah berada di tempat dan waktu yang salah, sehingga aku harus menghabiskan waktuku di balik jeruji besi hampir sepuluh tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang. Aku tak sempat menyaksikan pertumbuhan anakku. Dia kutinggalkan masuk penjara sejak umur 4 tahun.

 

Jadi wajar bila dia tidak cukup mengenal aku. Putri tunggal ku masih menganggap aku orang asing di rumahnya. Aku harus menyesyuaikan diri dengan anakku, aku orang asing di rumahnya.

 

Sepanjang hari sambil menikmati kopi yang sudah lama kehilangan nikmatnya, aku tetap berkutat dengan mobil mobil ‘tua’ yang digemari masyarakat belakangan ini. Keterampilan ku saat STM sekarang SMK Mesin masih ada, bisa di praktekkan sehingga memikat hati Pak Muhidin bengkel mobil tua di kota. Dia seorang pensiunan polisi yang menangkap aku saat dulu. Dia baik, dan memberikan aku motivasi hingga bertahan di dalam penjara. Kalau tidak mungkin aku bunuh diri. Saat asimilasi aku bekerja di bengkelnya. Begitu pula saat aku tak punya bekal untuk pulang aku bekerja di tempatnya dua minggu.

 

Pada saat bekerja di rumah, dikala putriku sekolah aku saling mengenal kembali dengan istriku yang merasa agak asing. Ya seperti saat pdkt dulu dengan istriku. Aku bercerita kisahku  di ‘dalam’ -maksudnya di dalam penjara-, dan dia menceritakan cobaan dan perjalanan keluargaku yang aku tinggal.

 

Aku sekarang tinggal di kampung istriku karena dia anak kedua, tidak kumpul dengan mertuaku namun tetap mereka support. Kakaknya hidup bersama mertuaku. Istriku hidup bertiga, ketiganya wanita. Ibuku, Roswita istriku dan Lestari anakku. Ibuku sudah sangat sepuh hanya tiduran saja sepanjang hari.

 

Siang itu kutatap wajah Roswita, kulihat masih ada guratan derita yang dalam di wajahnya, yangv menggerogoti kecantikannya yang pernah kukagumi. Kubelai rambut yang sudah mulai memutih di tepiannya itu, dia masih sedikit manja. Sifatnya yang kusuka, kadang menjengkelkan aku selama pacaran dulu. Dia nampak mulai berani memelukku lagi.

 

Roswita menemani aku bila dia sudah selesai dengan pekerjaannya, sambil menunggu Lestari pulang sekolah. Dia anak yang cerdas, dia tegas soal pendidikan ke putriku. Sehingga pendidikan putriku berjalan dengan lancar.

 

Ibuku baru mulai mau makan lumayan sejak beliau tahu aku sudah pulang, bahkan bila aku nyuapi Atau cucunya dia mau makan lumayan banyak. Mungkin sudah bosan disuapi Roswota. Pagi itu ibu memanggilku, aku dekati beliau sudah duduk di sofa bambu rumah kami. Air mataku menetes melihat, ibuku sudah mulai berjalan walau hanya beberapa langkah. Ku ajak beliau keluar rumah berjemur di sinar mentari pagi. Beliau senang sekali dan belajar menggerakkan anggota badannya. Keringatnya sudah mulai lancar keluar.

 

Roswita mbawakan ibu secangkir teh hangat manis, dan sepotong kue. Mereka berbincang seperti layaknya ibu dan anaknya. Ibuku selalu membahasakan mantunya dengan anaknya. Aku ikut bangga melihat kedekatan dan obrolan mereka. Sudah mulai tanda tanda kebahagiaan ibu dan istriku di pagi itu. Lestari seperti biasa sekolah berjalan kaki dengan teman temannya motong jalan lewat persawahan sekitar 20 menit dari rumahku ke sekolahnya.

**#**

Pagi sampai siang itu di tengah hujan gerimis mengguyur kampung kami. Aku dan anak anak karang taruna masih memasang (tepatnya) instalasi listrik di rumah mertuaku, sebagai rumah terakhir aku instalasi pagi itu. Kami minta ngajak karang taruna mengerjakan pekerjaan instalasi listrik masuk desa. Uang hasil jasa instalasi rencananya untuk membeli alat musik dan alat olah raga bagi muda mudi di kampung kami.

 

Tinggal dua titik, ada anak memanggil manggil: ”Ayah, ayah.. Ada tamu di rumah”. Seorang pemuda mendekat, Bang itu putrimu memanggil, katanya. Akupun terkaget, putriku sudah memanggilku ayah. Berarti gencatan senjata sudah berakhir. “Tunggu tanggung masih dua titik, tinggal tes jaringan saja” jawabku.  Putriku bergabung dengan neneknya ke dapur. Setelah selesai aku mendekatinya, dan bertanya:”Siapa Les, tamu ayah?”. “Ada orang asing, tak aku kenal. Ayo pulang yah” katanya sambil memegang tanganku, berjalan pulang bersama.

 

Dua tamu ku sudah menunggu, ditemani istriku minum teh hangat siang itu. Mereka kelihatannya orang kota, karena membawa mobil didampingi sopir. Salah satu yang wanita bilang dia anak Pak Surahman, membawa titipan sebuah amplop coklat lumayan tebal titipan ayahnya. Ayahnya meninggalkan pesan sebelum meninggal agar menyampaikan titipan itu ke aku. Aku malas membukanya, bila kuingat Pak Rahman lah yang menyebabkan aku masuk penjara. Dia meminta aku untuk mengambil titipan dari srseorang di sebuah restoran. Saat itulah aku kena OTT, penyerahan uang proyek di kantorku. Aku sangat membenci nya, aku tak mau membukanya. Dia enak saja sebagai dalang malah bebas. Kata istriku menenangkan: “Tak baik mendendam, toh saat ini sudah selesai”.

 

Roswita, mengajak tamunya makan mencicipi masakannya. Kami dan tamu kami makam bersama masakan kampung yang disediakan istriku. Mereka memuji masakannya, enak alami. Hujan sudah reda mereka pamitan pulang, ku antar sampai jalanan.

 

Hatiku sangat bahagia hari itu, Lestari sudah memanggilku ayah. Dia sudah mulai bisa menerima keadaanku. Sore itu kembali aku menservice sebuah mobil Taft Kebo yang lagi ngetrend. Kuminta Roswita membantu menstarter mobilnya, aku cek mesin. Mobil hidup dan suaranya menggelegar. Hati ku cukup senang hari itu sebuah mobil diesel berjalan lagi. Aku coba untuk berkeliling kampung, dan mengitari lapangan bola, sambil melihat rencana muda mudi merapikan lapangan bola.

 

Mobil itu kaya mobil favoritku, Daihatsu Taft Kebo, warna merah marun masih orisinil. Mudah mudah an putriku ada keinginan belajar nyetir, biar kuajari nanti. Aku ingin agar dia ingin b8sa nyioir, minta diajari hingga aku lebih cepat dekat dengannya.

 

Kopi sore dan snack sudah disiapkan Roswita sepulang aku dari lapangan, ibuku ikutan nimbrung minum sore. Hatiku cukup bahagia. Lestari  bergabung kemudian nempel neneknya. Ibuku mengusap usap rambutnya dia manja terhadap neneknya. Aku berkaca kaca menyaksikannya. Lestari usul:”Yah, buka dong amplopnya, siapa tahu itu rezeki kita”. Dengan rasa berat hati, aku suruh Lestari mengambil dan membacanya sendiri. Diapun berlari dan membuka di hadapan kami.

 

Dia membacanya, salah satu isinya adalah permintaan maaf dia yang menyebabkan aku masuk penjara, padahal seharusnya itu tak terjadi bila aku menolaknya. Entah bagaimana kondisi saat itu, kok yang biasa menerima katanya tidak ada di tempat.

 

Kemudian dia mengembalikan rumah peninggalan rumah orang tuaku, yang sudah dibeli rentenir. Almarhum tidak mau bila rumah warisan ku jatuh ke tangan prang lain, makanya ia bebaskan. Anggaplah itu sebagai peringan dosa almarhum, kayanya dalam surat. Dan almarhum menitipkan anak anak beliau untuk ikut diawasi.  Lestari akhirnya mengerti bahwa ayahnya di hukum karena ke tidak tahu annya untuk membantu mengambil titipan.

 

Aku, ibuku dan Roswita kaget mendengar apa yang dibaca Lestari. Melihat sertifikat dan dokumen asli rumah mereka masih utuh atas nama orang tua ku, belum pernah di baluk nama. Roswita mengajak kami untuk menengoknya dulu benar atau tidak, siapa yang menjaga selama ini. Dan aku janji nyari waktu untuk kesana.

 

Begitu asyik menikmati kopi sore, dua mobil tua yang agak batuk batuk dan berdebu diantar sopir ke rumahku. Katanya titipan Pak Muhidin. Kedua sopir itu pun menginap di rumah kami, karena mobil sebelumnya tidak perlu di bawa ke bengkel, untuk aku gunakan saja. Dan yang baru datang besok akan di bawa sopir yang ngantar bila sudah selesai di service.

 

Aku makin bersemangat untuk menyervice mobil yang baru datang, bodi sudah di service kinclong hanya mesinnya menjadi tugasku. Kulihat spare part masih cukup, kucoba dengar gangguan mesin yang ada, akh rata rata dalam kompressi mesin saja perlu di stel, olie disesuaikan. Setengah hari keduanya sudah selesai, kuminta sopir test drive ke lapangan bola. Semua oke. Sehabis makan siang kedua sopir sudah pamitan kembali ke kota.

 

Semua service persenan keuntungan Pak Muhidin. Aku minta dimasukkan saja pada rekening istriku, untuk keperluan sekolah Lestari. Dia bercita cita mau menjadi dokter setelag melihat langsung derita sakit kakek dan neneknya.  

 

Setelah mobil Daihatsu Taft Kebo Merah diberikan kepadaku, aku modif sedikit sedikit menjadi lebih gahar dan keren menurutku. Lestari minta diajari nyopir, ku ajak ke lapangan bola setiap sore, saat istirahat sehabis belajar. Setelah tiga kali ke lapangan dia sudah mampu, menyetir normal, parkir, nanjak maupun di turunan. Dia menjadi lebih dekat denganku. Sore itu dia mau mengajak neneknya keliling desa, aku cuma menemani. Lestari ingin neneknya tahu bahw dia sudah bisa nyetir mobil. Dia tidak mau pamer yang penting bisa nyetir, bila diperlukan emergency dia bisa, misalnya nganter nenek atau keluarga lain ke dokter atau ke rumah sakit. Hari yang lain dia mengajak ibunya untuk ikut duduk di sebelahnya. Aku hanya jadi montir duduk di bangku belakang. Roswita kulihat gemes menahan diri tak mau menunjukkan bahwa dia bisa nyetir. Padahal anaknya lurah, orang yang pertama punya mobil di kampung, dia biasa nyopir. Aku jadi geli, aku sudah bilangin sebelumnya pura pura saja tak bisa nyetir.

 

Untuk ngetes keberanian Lestari ku ajak dia ikutan ke kota menengok rumah kami yang di kembalikan. Kusuruh dia yang nyetir dari rumah, pokoknya sampai mana dia bisa dia yang nyopir. Ternyata mentalnya cukup bagus, dia mampu sampai di tujuan tanpa hambatan yanf berarti. Grogi dikit disalip bus besar ya biasa, dekat truk tronton aku suruh tenang dia bisa.

 

Sebelum ke rumah, ku ajak dia ke bank, melihat rekeningnya yang kubuat khusus untuknya sekolah dari hasil ngebengkel. Aku minta di print kan aktifitas rekeningnya. Diapun menangis memeluk aku. “Yah terima kasih, aku tak menyangka ayah tetap menyiapkan pendidikan aku walau kita tak ngumpul selama ini” bisiknya sambil menangis memeluk aku ayahnya.

 

Bersambung ke part. 2

Senin, 28 Agustus 2023

Cerpen 3. "KAPTEN HESTI"


“Kapten Hesti”

 

Oleh : Pakde Pudja.

 

Aku sudah mulai menyenangi pekerjaanku menjadi pilot. Aku kapten “Margareta Wono Saputro”. Kalau tidak menerbangi hutan belantara dan melintas puncak puncak pegunungan tengah, kerjaku paling rekreasi di Danau Sentani, atau hanya istirahat di mess. Aku menerbangkan pesawat dari maskapai “SMAC”. Aku terbang ke pelosok Papua, mendrop logistik, mengangkut penumpang.  Aku jadi teringat sebuah buku yang kuambil di laci meja papa, di kamar tidurnya. Aku biasa tidur di kamar papa bila pulang ke BSD. Buku itu sebuah buku Agenda multi tahun, aku ambil yang merupakan tahun tahun awal papa kenal mama sampai aku lahir. Aku baca terkadang tersenyum, kadang sedih, kadang tertawa. Papaku sangat rapi catatan hariannya di Agenda. Diantara catatannya aku rangkum seperti berikut.

Aku sering teringat dengan pertemuan ku pertama kalinya. Saat itu aku transit di Ujung Pandang sekarang lebih dikenal Makassar, tepatnya di Bandara Internasional Hasanuddin, kala mendengar lagunya Alfian, Senja di Kaimana di sound sistem bandara.

Senja di Kaimana, kan kuingat selalu senja indah senja di Kaimana.

Seiring surya meredupkan sinar di kau datang ke hati berdebar.

Kau usapkan tangan halus mulus, ke luka yang parah penuh debu.

Senja di Kaimana kan kuingat slalu, dalam sukma sampai akhir masa.

Ya kira kira begitulah liriknya. Hatiku berdebar lagi seperti saat itu, dikala dia duduk di sebelah ku. Bibirnya yang seksi, kulit eksotik perpaduan Manado – Papua, hidung mancung, rambut kribo. Dia kala itu mau berangkat ke Curug Tangerang Banten, akan mengikuti sekolah pilot, di sekolah pilot terbesar di Tanah Air, PLP, sekarang dikenal dengan STPI Curug. Namanya Hesti Ashari.

Kenangan itu sudah lima tahun berlalu, dikala aku juga mau kembali ke kampusku di Salemba Raya. Aku mahasiswa jaket kuning, sekarang kampus utamanya pindah ke Depok Jawa Barat. Ketika itu kuberanikan diriku untuk berkenalan. “Selamat Siang Nona, mau pergi kemanakah, aku Jumhara, boleh kita kenalan” sapaku. Dia menjawab dengan sopan, sesopan pakaiannya, dengan kemeja dan celana jean biru, dimasukkan lagi bajunya. “Aku Hesti, Hesti Ashari. Aku mau ke Curug, ikut sekolah pilot kakak” jawabnya. Dia memperkenalkan ibunya. Sonya Londong. Dia di antar ibunya pergi, sedangkan ayahnya dinas di bandara Kaimana. Jadi sejak pagi dia sudah berangkat dari Kaimana, ke Sorong terus ke Ujungpandang. Rupanya aku satu penerbangan dengannya dengan pesawat Garuda ke Jakarta.

Dia anak Papua blasteran , hebat, dia berhasil masuk sekolah pilot yang terkenal ketat persaingannya. Kami boarding dan terus berpisah di Bandara Sukarno Hatta. Hari sudah mulai sore. Mereka di jemput teman ayahnya, dan aku terus ke kosan ku di Salemba Tengah. Aku naik bus Damri ke Rawamangun dari bandara.

Hari cepat berlalu, akupun lulus dan bekerja di sebuah dealer mobil terluas pangsa pasarnya di Indonesia. Aku sering bepergian urusan bisnis ke banyak kota di Indonesia, yang mungkin sudah hampir seluruh provinsi ada sub dealer perusahaan kami.

Dalam perjalanan Bisnisku ke kota Medan aku dengar lagu yang distel sopir di taxinya. Lagunya Oh Hesti.

 “Oh Hesti, mengapa wajahmu mirip dia, dia yang meninggalkan daku, pergi entah kemana” ..... Dst

Lagu ini mengingatkan aku kepada seorang gadis yang sudah lama aku kenal diperjalanan dia Hesti Ashari. Kenapa aku teringat dia ya. Badan semampainya, mata dan gigi yang sangat putih, berkumis tipis. Aku tak bia melupakannya. Sehingga saat tidurpun aku teringat pada nya. Sehingga terbayang bayang terus, bayangannya selalu menggoda benakku. Aku coba fokus kerja, tapi namanya hati, perasaan tak bisa diajak damai. Walau banyak gadis medan, kenapa hati ku tertambat padanya.

Sejak itu aku sering memperhatikan pada setiap penerbangan, nama pilot nya. Siapa tahu ada, Hesti tambatan hatiku. Oh Hesti... Mengapa hati aku sering kacau. Nyaris beberapa bulan belakangan wajahnya sering datang pergi di pelupuk mataku.

Aku duduk di Lounge Garuda Bandara Ngurah Rai sore itu, aku sibuk dengan gadgetku melihat lihat WA, email ataupun medsos lainnya. Serombongan crew duduk di meja sebelahku. Dari obrolannya mereka crew yang habis berdinas dan mau kembali ke Jakarta. Sepintas kuperhatikan seorang pilot wanita. Dia kah Hesti, aku kucek kucek mataku. Ternyata benar dia Hesti. Aku dekati dan mohon ikutan bergabung, dengan ramah mereka mempersilahkan aku ikutan. Lalu aku salaman dengan Capten Hesti, “Selamat Sore Nona, apa ingat saya kah?” tanyaku dengan logat Papua. Hesti kelihatan sedikit kikuk sambil mengingat, “Iya, iya sekitar 6 tahun lebih kita bertemu kakak, kakak Jumhara kan, di Bandara Internasional Hasanudin kah?” jawabnya. “Iya kala itu nona hendak berangkat ke Curug, kita satu pesawat” lanjut ku.

Banyak aku ngobrol karena kebetulan pesawat kami cansel satu jam, karena hujan lebat di Bandara Ngurah Rai. Aku memujinya: “Dengan kostum pilot ini, nona tambah cantik hei”. “Akh kakak bisa saja. Kalau cantik tentu aku tidak jomblo kakak” jawabnya. Obrolan kami nyambung, terlebih krew yang lain yang umumnya pramugari pada pindah ke meja lain. Mungkin sudah etika mereka begitu.

Dia tinggal di Perumahan Alam Sutera, hanya dengan mamanya, karena papanya meninggal saat dia baru lulus pendidikan di Curug. Beliau di makamkan di Pemakaman Umum Tangerang. Kamipun saling tukaran  kartu nama. Aku janji akan main ke rumahnya, bila dia tidak terbang. “Akh kenapa tunggu hari kakak, minggu ini aku ada kosong, silahkan datang” katanya. “Wah boleh juga, coba kakak lihat skedul dulu siapa tahu kakak ada dinas luar. Nanti kakak hubungi” kataku.  Panggilan boarding untuk pesawat ku, aku pamitan ke mereka, dan berjanji akan menghubunginya.

Sejak itu kami sering ketemu. Keluarga Hesti sangat rajin ibadah, menjadikan aku malu. Aku diajak mereka ibadah bersama, demi Hesti aku jadi sering dan semangat beribadah bersama di kala hari minggu. Kami sering nonton bersama bila ada film baru, tak jauh dari rumahnya. Paling jauh sampai AEON BSD. Ibunya sangat modern, tidak pernah mau tahu urusan puterinya bila bersamaku. Namun didikan pilot memang sangat disiplin.  Hesti menjadi ada di habitat yang modern tapi disiplin.

Seiring berjalannya waktu cinta kami tumbuh dengan subur. Bahkan aku pernah dikeroyok teman teman pilot yang juga naksir sama Hesti. Namun dengan tegas Hesti bilang dia boleh berteman dengan siapa saja, tapi pacar cuma satu, ya Jumhara. Siapa mau menggoda dia bilang siap akan aku ladeni. Bila perlu dia hadapi sendiri, katanya. Hesti memang seorang karateka sejak SD nya di Kaimana.

Sang pilot yang ‘bar’ nya lebih banyak dari Hesti akhirnya minta maaf dan mundur teratur. Banyak hambatan hubunganku dengan Hesti justru dari pihak keluargaku. Lama kelamaan luluh juga hati mereka dengan pendekatan ku, maupun pendekatan Hesti. Hesti memang sangat supel bergaul, walau dia tegas sebagai pilot. Dia sangat hormat ke keluargaku, terutama ayah ibuku.

Pernikahan kami dilakukan di Gereja dengan acara yang sangat khidmat. Seluruh keluarga besar ku datang, demikian juga dengan keluarga Hesti. Adik lelaki Hesti, Petrus Ashari rupanya meneruskan karier bapaknya. Dia bekerja di Bandara Utarom Kaimana, setelah mengikuti Pendidikan Teknik Radio di Balai Diklat Penerbangan Jayapura selama dua tahun. Dia tidak mau meninggalkan Kaimana, dia kasihan dengan rumah peninggalan orang tuanya tak ada yang ngurus. Itu yang mengikat kami, untuk secara berkala pulang ke Kaimana, sambil menikmati kota Senja yang semakin Asri saja.

Anak kami cuma dua, Lukas dan Margareta. Dia tumbuh sehat dengan semakin bhineka tunggal ika di darahnya, Papua, Manado dan Jawa. Margareta ingin seperti ibunya kalau besar nanti mau sekolah pilot, sedangkan Lukas mau meneruskan bisnis keluarga. Sehingga dia akan belajar Ekonomi di Jakarta, yang sangat banyak pilihan. Ayah dan ibunya mendukung semua kemauannya.

**#**

Waktu sangat cepat berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Margareta baru saja lulus sekolah pilot di New Zealand, dia mendapat beasiswa dari dana Otsus Pemda Papua. Kelulusannya di New Zealand, mama dan Oma  datang tapi kakakku Lukas tidak bisa meninggalkan tugasnya.  Sesampainya di Tanah air aku -Margareta-langsung ziarah ke makan opaku di Pemakaman Umum Tangerang, seminggu kemudian aku mau nyekar ke makam papa di Magelang.

Papaku sudah meninggal ikut dalam kecelakaan, di Teluk Kaimana. Kala itu almarhum ada bisnis dari kantornya di kota Sorong, dan Adik mama menikah di Kaimana. Ayahku dari Sorong naik pesawat ke Kaimana menghadiri pernikahan Om ku. Ayah ikut dalam kecelakaan pesawat Merpati di Perairan Kaimana, ini tahun ke tujuh kecelakaan itu. Di nisan pusaranya tegas tertulis, Jumhara Wono Saputro SE Ak. Nama itu kupakai di belakang namaku: Margareta Wono Saputro, dan kakakku Lukas Wono Saputro.

Aku sempat merenung dalam, di rumah kakekku di lintas Magelang Semarang, daerah Secang. Dari sana terlihat hamparan kebun teh, di kejauhan candi Borobudur menjulang dengan megahnya, dan beberapa puncak gunung, dengan indah nya. Aku ditemani dua janda cantik saat ziarah makam papa. Mereka itu oma dan mamaku. Mamaku sudah memutuskan tidak akan menikah lagi, dan sudah  kembali menjadi pilot lagi, Kapten Hesti. Aku sering ledek mamaku, kapten yang tak pernah naik pangkat. Demikian juga aku... Ha ha ha haiii.

Abangku Lukas meneruskan usaha yang telah dirintis ayah menjelang pensiunnya di perusahaan otomotif terbesar. Beliau telah diberikan sebuah sub keagenan di kota Solo dan Sorong. Itu perusahaan keluarga kami. Sekarang abangku yang mengurusnya, sampai sampai dia lupa menikah. Mungkin saking ayik dan repot dalam kerjanya.

Hatiku cukup gelisah saat harus berpisah dengan mama dan omaku. Aku akan berkarier di sebuah maskapai penerbangan “SMAC” yang operasionalnya membelah pedalaman Papua. Kulakukan sebagai tanda terima kasih ku ke Tanah Papua dan Pemda Papua yang menyekolahkan aku. Aku  mendrop logistik ke pedalaman Papua. Aku bisa berbakti di tanah kelahiran opa dan mamaku. Aku bisa sesekali mampir ke kotaku leluhurku kota Senja, Kaimana. Juga bisa sesekali ke rumah keluarga Oma di Minahasa sana.

Aku sangat bangga duduk di kockpit menyaksikan keindahan bumi cendrawasih, sorga kecil yang jatuh  ke bumi. Hampir semua kota di Papua sudah kudarati, dari kota Provinsi sampai ke distrik, atau kecamatan. Dari jenis landasan beraspal, landasan berbatu, landasan tanah hingga landasan rumput, sudah kudarati.

Setelah empat tahun menjadi pilot lagi, sehabis berhenti kerja ketika mendampingi papa, mama memutuskan untuk pulang kampung. Dia mau tinggal di kampung ayah, sehingga dekat dengan makam ayah kami. Mama membuka sebuah cafe dengan menu masakan Manado, Papua dan Jawa, serta beraneka minuman dan jus. Diberi nama “Cafe Senja di Kaimana”.

Cafe mama cukup ramai sebagai tempat istirahat kendaraan yang melintas Yogyakarta – Semarang lewat Magelang. Mama ditemani oma, dan beberapa sepupuku dari ayah. Cafe nya cukup ramai. Tempat itu tempat pertistirahatan aku kalau lagi cuti terbang, kalau bukan di BSD.

Seperti pagi itu aku menikmati udara sejuk Secang, kabut turun menambah sejuk pagi itu. Aku ingin rembugan dengan mamaku, karena dalam liburan ku kali ini pacarku akan datang untuk langsung bilang niatnya akan melamarku ke mama. Oma sudah aku boyong ke Secang dari Tangerang. Calonku seorang pilot juga berkebangsaan Canada, yang menjadi pilot di maskapai Susi Air. Kami sama sama terbang di Papua. Semoga mamaku berkenan semua rencanaku berjalan lancar. Abangku mudah mudahan tak keberatan aku dahului dia. Dia sudah janji pulang kali ini.

 

Catatan: cerita ini fiktif belaka, hasil lamunan penulis. Nama perusahaan mohon maaf di pakai di tulisan ini. Tks (penulis)

Pakdepudja@Puri_Gading, 25/07/2023.

 

Sabtu, 26 Agustus 2023

Cerpen 2. PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN"

 

Cerpen

 

“PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN”

 

Oleh: Pakde Pudja.


 

Awan tipis menghiasi langit membuat keindahan siang itu di sebuah perkampungan di Solok lebih terik. Anak anak Monang dan anak anak Gunawan masih main layang layang. Setelah seharian sebelumnya mereka ke Danau Singkarak berekreasi sambil mencari ikan biliah. Monang geleng  geleng kepala melihat dua anak lelakinya berlari menarik benang layang layang bersama dua anak gadis Gunawan. Monang ingat dengan kampungnya di Siantar sana. Dia ingat dulu juga seperti anaknya.

Rambut mereka satu dua sudah putih, Gunawan selalu berpeci menambah religius dia yang memang alim. Monang dan keluarganya disambut hangat keluarga Latifah, yang sudah kenal mereka sejak masih di Jl Sentiong. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri saja.

Latifah dan Gunawan saat ini hanya menjadi konsultan. Latifah sesekali masih ke kantor memeriksa pembukuan keuangan bila ada masalah saja, namun Gunawan rutin berkeliling ke beberapa pabrik dan service center di Padang selalu memastikan mesin berjalan baik.  Mereka lebih banyak di Solok mengawasi dua putri mereka. Sedangkan Monang masih punya karier yang bagus di Biro Hukum Kemenlu, dan Siwi, menjadi dosen di Fakultas Sastera Universitas Sriwijaya. Dia lebih banyak membimbing mahasiswa nya. Sehingga dia bisa bolak balik Kertapati – Pagar Alam, sambil mengawasi pabrik kopinya yang memasok kopi luwak ke beberapa cafe di Palembang dan Jakarta.

Kedua keluarga itu terlihat masih sangat solid saling membantu baik ide maupun permodalan sehingga mereka bisa maju bersama. Mereka rasakan masalah sulit saat kuliah. Rumah numpang di rumah Gunawan, listrik dan air dibayar patungan. Saat perekonomian Gunawan anjlok Latifah sudah mulai kerja sehingga dia lebih banyak membantu. Siwi yang paling lancar dananya karena orang tuanya petani kopi yang lumayan berhasil kala itu. Monang membiayai diri sendiri sambil ‘nyalo’ kerennya brooker tiket bioskop dan tiket bola buat tambahan. Itupun sering di bantu Siwi. Itu kisah saat mereka kuliah.

Saat itu mereka sedang menikmati kopi sore dengan pisang goreng di beranda Rumah Gadang keluarga Latifah, sebuah taxi masuk halaman rumahnya. Anindia turun dari taxi, langsung salaman dengan bundanya, ayah dan ke dua tamunya. Dia mengabarkan bahwa dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Wah jadi penerus kita dong kata Monang sambil memeluk erat Anindia. Sore itupun menjadi lebih ramai, nenek kakek Anindia ikutan nimbrung karena senang mendengar berita itu. Monang pun bercerita tentang persahabatan mereka sejak pertama kali mengikuti Ospek di Universitas Indonesia, hingga saat ini.

**#**

Aku Latifah, baru saja bubaran rapat konsolidasi keuangan perusahaan di Kantorku di kawasan industri Cikarang. Hari masih tanggung, belum begitu sore. Aku teringat dengan Gunawan temanku yang banyak membantu aku yang rumahnya masih kutempatu. Sudah dua tahun hampir aku tak bertemu dengannya karena kesibukanku menyusun skripsi dan meniti awal karierku sebagai seorang akuntan di perusahaan multinasional. Karierku lumayan melesat, tetapi aku tetap Latifah, yang rapuh karena memikirkan Gunawan, orang yang telah mensupport aku selama kuliah, bahkan dia sebagai sponsor aku lebih dari tiga tahun. Kami bertiga tinggal di rumahnya di Gang Sentiong, cukup dekat dengan kampusku di Jl Salemba 4. Kami bertiga, aku Latifah, Monang dan Siwi, serta sang empunya rumah Gunawan. Perekonomian keluargaku kurang baik saat itu, ayah pegawai negeri sering sakit sakitan dan ibu ku hanya guru SD di kampung, jelas hidup pas pasan ketambahan ada dua adikku juga butuh biaya.

Aku lupa lupa ingat dengan kampungnya tapi aku ingat tak jauh dari stasiun Kereta Api. Rumahnya tak jauh dari penyosohan gabah atau pemggilingan padi “Makmur Sejahtera” (MS).  Aku berhenti di pinggir jalan yang masuk kampung itu. Dengan pakaian kerjaku banyak yang menyangka aku dari sebuah perusahaan pengembang perumahan. Mereka pada menawarkan tanah untuk dibebaskan. Aku bertanya ke salah satunya, dumana lokasi Pabrik Penggilingan padi MS. Mereka malah menawarkan pabrik tersebut, karena sang empunya tak berpengalaman mengoperasikannya, sehingga saat ini terlantar tidak beroperasi. Mereka ku ajak naik ke mobilku menemui pemiliknya. Pak Paulus namanya, dia mengatakan tidak biasa mengoperasikan nya hingga merugi. Dia tak sengaja membeli nya, membelinya karena sebagai jaminan utang. Padahal hanya 200 juta saat itu. Aku sempat menanyakan bahwa itu pabrik dan tanah masih atas nama pemilik lama Guan Gunawan. “Dari pada merugi kenapa tidak dijual saja” kataku kepada Pak Paulus.

Diapun keceplosan dia akan jual segera kurang kurang dikit juga dilepasnya. Pak Paulus banyak bercerita bangkrut nya pemilik lama yang merupakan saingan bisnisnya di kampung itu. Dia iri dengan luasnya pergaulan Pak Guan sampai kalangan pemerintah, bahkan ikut rapat bila terjadi krisis atau gejolak pasar beras.

Aku minta nomor hp yang bisa ku hubungi kalau ada pembeli. Aku berjanji segera mengontaknya. Bila kuingat cerita Wawan, Gunawan, pabrik itu kebanggaan keluarganya.  Keluarganya saat itu pernah menjadi saudagar beras nasional, yang ikut Menstabilkan stok nasional sejak zaman orba.

Sampai di rumah ku lihat Monang lagi bersenandung, aku tebak pasti hatinya lagi senang. “Ada apa Nang tumben kau bernyanyi lagi” tanyaku. Dia dapat kabar bahwa dirinya termasuk Gunawan mendapat surat untuk segera maju ujian, revisi skripsi tinggal revisi sedikit, draft skripsi Gunawan belum bisa kuambil, karena belum menyelesaikan administrasi yang tertinggal, kata Monang. Aku minta diantar ke kampus besok pagi. Aku mau beresin administrasi kuliahnya Gunawan. Karena dia kuliahku lancar, dan bisa segera lulus. Aku lulus dalam 3 tahun setengah. Mereka masuk semester sepuluh. Monang dan Gunawan yang tertinggal. Siwi semester lalu sudah di wisuda dari Fakultas Sastra. Gunawan di Teknik Mesin, sedang Monang di Fakultas Hukum. Kami berempat sangat solid, tapi banyak kendala kuliah kami. Maklum orang kampung kalah modal hanya menang semangat.

Setelah menyelesaikan administrasi Gunawan, draft skripsi nya pun sudah kuambil. Monang mengajakku mampir di kantin Fakultas. Kami bernostalgia makan nasi uduk dan kopi susu di kantin sambil aku susun rencana bersama Monang. Bagaimana merayu Gunawan untuk segera ujian, dia pasti siap. Dia Mahasiswa yang cerdas. Harusnya dia bareng aku di wisuda, namun masalah keluarga yang membuatnya melupakan kuliahnya yang sudah jalan skripsi, tinggal finishing. Monang setuju termasuk akan kuutus ke Karawang nego penggilingan padi MS. Dia kalau masalah bisnis lancar asal ada ‘epeng’ katanya. Aku kasih ancer ancer harga 175 Juta, terserah dia bila bisa kurang itu keuntungan dia. “Akh itu masalah kecil, mudah kubereskan” kata Monang.

Monang tetap merahasiakan lokasi kerja Gunawan ke Latifah. Dia akan datangi siang itu setelah ke pengetikan revisi skripsinya dulu di Jl Pramuka. Dia bilang padaku nanti malam aku akan dikabari di rumah. Aku pamitan untuk ke kantor.  Kami berempat kaya saudara saling bantu. Kebetulan aku lulus duluan, Siwi baru semester lalu, kayanya masih betah di kampung nya di Pagar Alam atau Kertapati. Monang dan Aku masih menghuni rumah Gunawan. Mobil Suzuki Carry nya masih terparkir rapi di garasi, semenjak aku dapat mobil kantor, sesekali dipakai Monang. Tapi aku curiga kok tetap tok cer ya, Monang tak pernah minta uang service. Jangan jangan Gunawan kerja di Service Resmi Suzuki ya. Dia pernah praktek kerja lapangan disana. Akh aku tak mau mencarinya biar ku percaya kan ke Monang. Soal mesin Gunawan memang jago, sehingga tak heran bila mobilnya masih bagus dan tokcer.

Hari itu rupanya kami harus dinas luar ke Bogor. Aku sudah ditunggu, karena datang agak siangan. Kami langsung berangkat, untuk peninjauan dan pemeriksaan masalah keuangan di kantor cabang di Ciawi Bogor. Aku memang tak kuat dengan panas di jalan. Sore itu sesampainya di rumah aku langsung tidur. Aku lupa dengan janji Monang memberikan laporan. Aku terbangun sudah pk 21 an, Monang lagi asyik persiapan ujian, gladi resik presentasi. Aku duduk menunggu di ruang tamu, sambil menonton TV.

Tak lama berselang, dia tahu aku sudah bangun tidur. Dia bilang “Gunawan berterima kasih pada kamu Latifah, walau kelihatannya berat. Dia akan pulang kesini akhir pekan ini” kata Monang. Aku senang Gunawan mau kembali ke kampus demikian juga Monang, mereka akan Sarjana semuanya satu perjuangan.

Monang juga melaporkan bahwa dia sudah menghubungi Pak Petrus, maksudnya Pak Paulus di Karawang, dia berhasil nawar 175 juta kata Monang, namun dia mau memastikan bahwa barangnya tak ada yang di curi.  Aku tahu Monang pasti belum makan, sudah aku pesankan makanan lewat go food, nasi Padang Jl Kramat Raya. Aku hafal kalau dia mau ujian begini pasti nunggu nasi goreng tektek lewat.

Aku ingatkan Monang misinya harus selesai. Dia minta dibantu ongkos jalan ke Karawang, dia mau naik Kereta Api saja besok siang. Aku setuju permintaannya. Aku ingatkan 175 Juta sudah beres semua Nang, berikut surat suratnya ya. “Pasti beres lah itu” jawabnya. Pengantar pesanan makan pun sampai.

Monang segera menyiapkan minum, dia tahu aku suka teh manis. “Minumnya nona, teh manis” kata Monang. “Terimakasih bang” selorohku seperti biasa.  “Kau tahu saja aku belum makan Latifah” goda Monang. “Ya, tahulah kan sudah hampir lima tahun kita berteman” sahutku. Dan kamipun tertawa berderai, sambil membuka nasi Padang yang kupesan. Kami sangat menikmati nasi padang itu, karena ku pesan sesuai kesukaan masing masing.

Cepat sekali waktu berjalan, Monang dan Gunawan sudah lulus ujian skripsi, tinggal wisuda saja. “Akhirnya si Monang calo tiket bola telah jadi Sarjana Hukum” selorohnya. “Gunawan anak juragan beras sudah jadi tukang insinyur” lanjut Monang. Sore sehabis ujian Monang pulang menenteng dua kotak Pizza dan sebotol besar Cola. “Akh kita makan ne, ayo Latifah, Siwi, dan Gunawan” teriaknya masih di gerbang rumah. Pesta kecil itu dimulai dengan memanjatkan doa bersama dipimpin Monang. Gunawan jadi pendiam sekali sekarang, pikirku.

Malam itu aku keluar menikmati kota Jakarta hanya berdua dengan Gunawan. Aku jelaskan misiku untuk menarik aset kebanggaan keluarganya bukan untuk tujuan apa apa. Namun aku bilang aku tetap menepati janjiku, untuk tetap setia. Aset itu kebanggaan keluarga, harus dikembalikan harkat dan martabat serta marwah keluarga kita.  Keinginan papa Gunawan, Guan Gunawan harus diwujudkan yaitu agar Gunawan lulus Insinyur. Gunawan mengucapkan terimakasih kepada Latifah. Dia sangat sopan, padahal Latifah mengharap Gunawan, mbok menciumnya sesekali. Tapi semua menjaga imej, jaim.

Monang dan Gunawan memang rekan setia mereka lulus dalam minggu yang sama. Mereka diselamatkan peraturan akhir, ‘save by the bell’ dalam tinju. Mereka cukup banyak yang punya nasib sama. Walau menyandang lulusan hampir punah (DO) namun mereka bangga sebagai pasukan jaket kuning, menyandang Sarjana yang mereka impikan sejak berangkat dari kampung.

Mereka mengikuti wisuda di Balai Sidang Senayan. Mereka kelihatan sangat bahagia terutama Monang. Saat wisuda rupanya Siwi juga datang, tanpa malu malu dia mendaratkan hadiah cipika cipiki ke Monang. Jelas Monang kaget, dia tak nyangka temannya itu jatuh cinta padanya. Monangpun bersenandung. “Jatuh cinta berjuta rasanya, dipeluk, di cium aduhai rasanya...”. Siwi tetap memeluknya erat, karena itu kesempatan yang langka.

Wisuda dirayakan dengan sangat sederhana okeh mereka berempat, mereka mampir ke Rumah Makan Padang Sederhana di dekat bundaran Slipi. Mereka berempat bersuka cita hari itu. Mereka berfoto bersama Latifah memakai topi toga Gunawan dan Siwi memakai topi Monang mereka berfoto bersama. Tak disangka perkawanan mereka awet dan tetap kompak. Dan yang mereka tak sadar ada benih benih cinta tumbuh dalam persahabatan itu.

Tumben, tidak seperti biasa kali ini Monang yang membayar makan disaat makan bersama itu. “Latifah uangnya nggak laku hari ini” kata Monang. Sebagai juru bicara Monang menyampaikan kepada Gunawan bahwa asset keluarganya berupa penyosohan beras sudah kembali ke tangan Gunawan. Gunawan kaget. Kata Monang: ”Tak perlu kaget Wan, yang penting kau segera pulang hidupkan kembali pabrik itu biar jalan dan keluargamu bisa tegak kembali, ada yang diurus”. Gunawan tak menyangka temannya sangat perhatian pada Gunawan. “Nah itulah pentingnya persahabatan dan keluarga wan” celetuk Latifah. Merekapun meninggalkan rumah makan itu. Gunawan mengambil alih stir mobil Latifah, dan Monang naik Suzuki Carry bersama Siwi. Mereka berpisah setelah sehabis makan, guna merayakan wisuda mereka masing masing.

**#**

Suara deru pabrik penyosohan gabah kembali setiap hari terdengar di kampung Gunawan, yang sudah lama sepi. Penyosohan beras diurus kakak tertua Gunawan sambil mengurus ibundanya, yang sedikit kurang sehat setelah kematian suaminya. Dasar memang passion dan rezeki keluarga itu di beras, tak perlu waktu lama mereka sudah berjaya lagi. Kapasitas produksi stabil, mereka memasok beras ke beberapa pasar induk dengan lancar. Truk pengangkut gabah dan beras hilir mudik seharian, bahkan terkadang sampai malam hari.

Gunawan dan Latifah sesuai janji setia mereka, mereka menikah di kampung halaman Latifah Sumatera Barat di kampungnya yaitu Solok, yang memang sentra beras juga.  Gunawan membangun penyosohan beras dengan kapasitas menengah namun pabrik modern. Mereka sebagai pemasok beras Solok beberapa rumah makan di Padang maupun luar Padang hingga ke Jawa. Gunawan menjadi konsultan di beberapa dealer dan sentra servis mobil merk kenamaan. Sesuai dengan keakhliannya dan pengalamannya selama ini yang langka di Sumatera Barat.

 Sejak Latifah melahirkan putra pertamanya Anindia, dia pindah kerja ke Padang, kebetulan ada pembukaan cabang baru. Sekarang anaknya sudah tiga Anindia, punya dua adik wanita: Berliana, dan Cintyana. Keluarga itu sangat berbahagia. Anindia diminta neneknya di Karawang untuk sekolah disana, keluarga Latifah setuju karena anak lelaki mesti merantau. Kebetulan kakak tertua Gunawan tak ada anak, maka Anindia sudah diasuhnya seperti anak kandungnya sendiri. Gunawan di kampung Latifah aktif di Surau. Dia sudah kaya Datuk asli, dengan Bahasa Minang yang sudah mulai fasih.

Monang tak begitu lama setelah lulus, bekerja di Paris di Kedubes RI, karena dosen Pembimbing Akademis nya di angkat menjadi Duta Besar tak lama setelah mereka wisuda. Sebelum berangkat Monang dan Siwi menikah di Kertapati, Palembang kampung Siwi. Siwi juga diajak serta, kemudian Siwi diangkat menjadi pegawai perpustakaan Kedubes, sehingga mereka berdua hidup bahagia disana. Saat mau berangkat sempat aku godain Monang:”Wah semakin berkembang ne usaha brooker tiket bolanya Monang”. Dia Cuma tertawa dan bilang:”Akh Latifah, kau bisa saja. Kau modali dulu aku lah”. “Bereslah aku bekali kamu uang Franc ya”, kata Latifah. Saat itu belum ada Euro.

Sekarang Monang ditarik ke Kemenlu di Jakarta, Siwi dan dua anaknya. Siwi pindah menjadi dosen di Universitas Sriwijaya, karena saat di Paris dia sempat ambil Doktor di Sorbonne University, tentang literasi. Keluarga kecil mereka pun hidup bahagia. Monang sekali dua minggu pulang ke Palembang. Anak anak Siwi lebih suka bersama kakek neneknya di Pagar Alam, karena bisa main ke kebun keluarga yang sekarang diisi kopi dan coklat. Itu lho di kampungnya Pak Komjen Pol Susno Duaji.

Walau saling berjauhan keluarga Monang dan Gunawan selalu saling berkhabar. Mereka sahabat yang cukup hangat, suka humor dan tetap menjunjung tinggi persahabatan. Mereka sering saling berkunjung di kala liburan sekolah. Bahkan Gunawan membantu Monang menginstall kan pabrik mini pengolahan kopi di kampung mertua nya, yang sampai kini masih berproduksi baik walau sudah lebih dari lima tahun. Pabriknya sem otomatis sejak pengeringan sampai proses menjadi kopi dan pengepakannya.

Tahun ini Keluarga Monang berencana datang ke Solok untuk berlibur, saat  liburan panjang sekolah. Mereka akan bernostalgia berempat. Datang berbagi cerita suka dan duka perjalanan keluarga mereka. Mereka akan membawa kendaraan sendiri, melintasi Kerinci menyeberang Bukit Barisan. Dia akan Mencoba menikmati jembatan baru di kelok sembilan. Monang memang hobby nyopir dan berpetualang.

 

Pakdepudja@Puri_Gading, 11082023.