Jumat, 01 September 2023

Cerpen 4. "Keluat dari Keterasingan (1)

 

Cerpen

“KELUAR DARI KETERASINGAN (1)”

 

Oleh: Pakde Pudja

 

Lestari sudah mulai bertugas menjadi dokter puskesmas, kebetulan ditempatkan di kampung mertuaku. Dia kebanggaan keluarga kami. Dia kebanggaan kakeknya yang mantan kepala desa. Sangat banyak orang yang dibuat bahagia olehnya, karena saudaranya yabg sakit menjadi sehat kembali. Dia dengan bangga di belakang setir Daihatsu Taft warna merah antik aku, warna jas dokternya kontras dengan warna mobil tuanya. Kulihat dia sangat bangga menikmati hari harinya. Dia sudah kembali ke desa.

**#**

Bulan pun bersinar redup malam itu, menambah resah hatiku. Aku merasa bersalah berada di tempat dan waktu yang salah, sehingga aku harus menghabiskan waktuku di balik jeruji besi hampir sepuluh tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang. Aku tak sempat menyaksikan pertumbuhan anakku. Dia kutinggalkan masuk penjara sejak umur 4 tahun.

 

Jadi wajar bila dia tidak cukup mengenal aku. Putri tunggal ku masih menganggap aku orang asing di rumahnya. Aku harus menyesyuaikan diri dengan anakku, aku orang asing di rumahnya.

 

Sepanjang hari sambil menikmati kopi yang sudah lama kehilangan nikmatnya, aku tetap berkutat dengan mobil mobil ‘tua’ yang digemari masyarakat belakangan ini. Keterampilan ku saat STM sekarang SMK Mesin masih ada, bisa di praktekkan sehingga memikat hati Pak Muhidin bengkel mobil tua di kota. Dia seorang pensiunan polisi yang menangkap aku saat dulu. Dia baik, dan memberikan aku motivasi hingga bertahan di dalam penjara. Kalau tidak mungkin aku bunuh diri. Saat asimilasi aku bekerja di bengkelnya. Begitu pula saat aku tak punya bekal untuk pulang aku bekerja di tempatnya dua minggu.

 

Pada saat bekerja di rumah, dikala putriku sekolah aku saling mengenal kembali dengan istriku yang merasa agak asing. Ya seperti saat pdkt dulu dengan istriku. Aku bercerita kisahku  di ‘dalam’ -maksudnya di dalam penjara-, dan dia menceritakan cobaan dan perjalanan keluargaku yang aku tinggal.

 

Aku sekarang tinggal di kampung istriku karena dia anak kedua, tidak kumpul dengan mertuaku namun tetap mereka support. Kakaknya hidup bersama mertuaku. Istriku hidup bertiga, ketiganya wanita. Ibuku, Roswita istriku dan Lestari anakku. Ibuku sudah sangat sepuh hanya tiduran saja sepanjang hari.

 

Siang itu kutatap wajah Roswita, kulihat masih ada guratan derita yang dalam di wajahnya, yangv menggerogoti kecantikannya yang pernah kukagumi. Kubelai rambut yang sudah mulai memutih di tepiannya itu, dia masih sedikit manja. Sifatnya yang kusuka, kadang menjengkelkan aku selama pacaran dulu. Dia nampak mulai berani memelukku lagi.

 

Roswita menemani aku bila dia sudah selesai dengan pekerjaannya, sambil menunggu Lestari pulang sekolah. Dia anak yang cerdas, dia tegas soal pendidikan ke putriku. Sehingga pendidikan putriku berjalan dengan lancar.

 

Ibuku baru mulai mau makan lumayan sejak beliau tahu aku sudah pulang, bahkan bila aku nyuapi Atau cucunya dia mau makan lumayan banyak. Mungkin sudah bosan disuapi Roswota. Pagi itu ibu memanggilku, aku dekati beliau sudah duduk di sofa bambu rumah kami. Air mataku menetes melihat, ibuku sudah mulai berjalan walau hanya beberapa langkah. Ku ajak beliau keluar rumah berjemur di sinar mentari pagi. Beliau senang sekali dan belajar menggerakkan anggota badannya. Keringatnya sudah mulai lancar keluar.

 

Roswita mbawakan ibu secangkir teh hangat manis, dan sepotong kue. Mereka berbincang seperti layaknya ibu dan anaknya. Ibuku selalu membahasakan mantunya dengan anaknya. Aku ikut bangga melihat kedekatan dan obrolan mereka. Sudah mulai tanda tanda kebahagiaan ibu dan istriku di pagi itu. Lestari seperti biasa sekolah berjalan kaki dengan teman temannya motong jalan lewat persawahan sekitar 20 menit dari rumahku ke sekolahnya.

**#**

Pagi sampai siang itu di tengah hujan gerimis mengguyur kampung kami. Aku dan anak anak karang taruna masih memasang (tepatnya) instalasi listrik di rumah mertuaku, sebagai rumah terakhir aku instalasi pagi itu. Kami minta ngajak karang taruna mengerjakan pekerjaan instalasi listrik masuk desa. Uang hasil jasa instalasi rencananya untuk membeli alat musik dan alat olah raga bagi muda mudi di kampung kami.

 

Tinggal dua titik, ada anak memanggil manggil: ”Ayah, ayah.. Ada tamu di rumah”. Seorang pemuda mendekat, Bang itu putrimu memanggil, katanya. Akupun terkaget, putriku sudah memanggilku ayah. Berarti gencatan senjata sudah berakhir. “Tunggu tanggung masih dua titik, tinggal tes jaringan saja” jawabku.  Putriku bergabung dengan neneknya ke dapur. Setelah selesai aku mendekatinya, dan bertanya:”Siapa Les, tamu ayah?”. “Ada orang asing, tak aku kenal. Ayo pulang yah” katanya sambil memegang tanganku, berjalan pulang bersama.

 

Dua tamu ku sudah menunggu, ditemani istriku minum teh hangat siang itu. Mereka kelihatannya orang kota, karena membawa mobil didampingi sopir. Salah satu yang wanita bilang dia anak Pak Surahman, membawa titipan sebuah amplop coklat lumayan tebal titipan ayahnya. Ayahnya meninggalkan pesan sebelum meninggal agar menyampaikan titipan itu ke aku. Aku malas membukanya, bila kuingat Pak Rahman lah yang menyebabkan aku masuk penjara. Dia meminta aku untuk mengambil titipan dari srseorang di sebuah restoran. Saat itulah aku kena OTT, penyerahan uang proyek di kantorku. Aku sangat membenci nya, aku tak mau membukanya. Dia enak saja sebagai dalang malah bebas. Kata istriku menenangkan: “Tak baik mendendam, toh saat ini sudah selesai”.

 

Roswita, mengajak tamunya makan mencicipi masakannya. Kami dan tamu kami makam bersama masakan kampung yang disediakan istriku. Mereka memuji masakannya, enak alami. Hujan sudah reda mereka pamitan pulang, ku antar sampai jalanan.

 

Hatiku sangat bahagia hari itu, Lestari sudah memanggilku ayah. Dia sudah mulai bisa menerima keadaanku. Sore itu kembali aku menservice sebuah mobil Taft Kebo yang lagi ngetrend. Kuminta Roswita membantu menstarter mobilnya, aku cek mesin. Mobil hidup dan suaranya menggelegar. Hati ku cukup senang hari itu sebuah mobil diesel berjalan lagi. Aku coba untuk berkeliling kampung, dan mengitari lapangan bola, sambil melihat rencana muda mudi merapikan lapangan bola.

 

Mobil itu kaya mobil favoritku, Daihatsu Taft Kebo, warna merah marun masih orisinil. Mudah mudah an putriku ada keinginan belajar nyetir, biar kuajari nanti. Aku ingin agar dia ingin b8sa nyioir, minta diajari hingga aku lebih cepat dekat dengannya.

 

Kopi sore dan snack sudah disiapkan Roswita sepulang aku dari lapangan, ibuku ikutan nimbrung minum sore. Hatiku cukup bahagia. Lestari  bergabung kemudian nempel neneknya. Ibuku mengusap usap rambutnya dia manja terhadap neneknya. Aku berkaca kaca menyaksikannya. Lestari usul:”Yah, buka dong amplopnya, siapa tahu itu rezeki kita”. Dengan rasa berat hati, aku suruh Lestari mengambil dan membacanya sendiri. Diapun berlari dan membuka di hadapan kami.

 

Dia membacanya, salah satu isinya adalah permintaan maaf dia yang menyebabkan aku masuk penjara, padahal seharusnya itu tak terjadi bila aku menolaknya. Entah bagaimana kondisi saat itu, kok yang biasa menerima katanya tidak ada di tempat.

 

Kemudian dia mengembalikan rumah peninggalan rumah orang tuaku, yang sudah dibeli rentenir. Almarhum tidak mau bila rumah warisan ku jatuh ke tangan prang lain, makanya ia bebaskan. Anggaplah itu sebagai peringan dosa almarhum, kayanya dalam surat. Dan almarhum menitipkan anak anak beliau untuk ikut diawasi.  Lestari akhirnya mengerti bahwa ayahnya di hukum karena ke tidak tahu annya untuk membantu mengambil titipan.

 

Aku, ibuku dan Roswita kaget mendengar apa yang dibaca Lestari. Melihat sertifikat dan dokumen asli rumah mereka masih utuh atas nama orang tua ku, belum pernah di baluk nama. Roswita mengajak kami untuk menengoknya dulu benar atau tidak, siapa yang menjaga selama ini. Dan aku janji nyari waktu untuk kesana.

 

Begitu asyik menikmati kopi sore, dua mobil tua yang agak batuk batuk dan berdebu diantar sopir ke rumahku. Katanya titipan Pak Muhidin. Kedua sopir itu pun menginap di rumah kami, karena mobil sebelumnya tidak perlu di bawa ke bengkel, untuk aku gunakan saja. Dan yang baru datang besok akan di bawa sopir yang ngantar bila sudah selesai di service.

 

Aku makin bersemangat untuk menyervice mobil yang baru datang, bodi sudah di service kinclong hanya mesinnya menjadi tugasku. Kulihat spare part masih cukup, kucoba dengar gangguan mesin yang ada, akh rata rata dalam kompressi mesin saja perlu di stel, olie disesuaikan. Setengah hari keduanya sudah selesai, kuminta sopir test drive ke lapangan bola. Semua oke. Sehabis makan siang kedua sopir sudah pamitan kembali ke kota.

 

Semua service persenan keuntungan Pak Muhidin. Aku minta dimasukkan saja pada rekening istriku, untuk keperluan sekolah Lestari. Dia bercita cita mau menjadi dokter setelag melihat langsung derita sakit kakek dan neneknya.  

 

Setelah mobil Daihatsu Taft Kebo Merah diberikan kepadaku, aku modif sedikit sedikit menjadi lebih gahar dan keren menurutku. Lestari minta diajari nyopir, ku ajak ke lapangan bola setiap sore, saat istirahat sehabis belajar. Setelah tiga kali ke lapangan dia sudah mampu, menyetir normal, parkir, nanjak maupun di turunan. Dia menjadi lebih dekat denganku. Sore itu dia mau mengajak neneknya keliling desa, aku cuma menemani. Lestari ingin neneknya tahu bahw dia sudah bisa nyetir mobil. Dia tidak mau pamer yang penting bisa nyetir, bila diperlukan emergency dia bisa, misalnya nganter nenek atau keluarga lain ke dokter atau ke rumah sakit. Hari yang lain dia mengajak ibunya untuk ikut duduk di sebelahnya. Aku hanya jadi montir duduk di bangku belakang. Roswita kulihat gemes menahan diri tak mau menunjukkan bahwa dia bisa nyetir. Padahal anaknya lurah, orang yang pertama punya mobil di kampung, dia biasa nyopir. Aku jadi geli, aku sudah bilangin sebelumnya pura pura saja tak bisa nyetir.

 

Untuk ngetes keberanian Lestari ku ajak dia ikutan ke kota menengok rumah kami yang di kembalikan. Kusuruh dia yang nyetir dari rumah, pokoknya sampai mana dia bisa dia yang nyopir. Ternyata mentalnya cukup bagus, dia mampu sampai di tujuan tanpa hambatan yanf berarti. Grogi dikit disalip bus besar ya biasa, dekat truk tronton aku suruh tenang dia bisa.

 

Sebelum ke rumah, ku ajak dia ke bank, melihat rekeningnya yang kubuat khusus untuknya sekolah dari hasil ngebengkel. Aku minta di print kan aktifitas rekeningnya. Diapun menangis memeluk aku. “Yah terima kasih, aku tak menyangka ayah tetap menyiapkan pendidikan aku walau kita tak ngumpul selama ini” bisiknya sambil menangis memeluk aku ayahnya.

 

Bersambung ke part. 2

Senin, 28 Agustus 2023

Cerpen 3. "KAPTEN HESTI"


“Kapten Hesti”

 

Oleh : Pakde Pudja.

 

Aku sudah mulai menyenangi pekerjaanku menjadi pilot. Aku kapten “Margareta Wono Saputro”. Kalau tidak menerbangi hutan belantara dan melintas puncak puncak pegunungan tengah, kerjaku paling rekreasi di Danau Sentani, atau hanya istirahat di mess. Aku menerbangkan pesawat dari maskapai “SMAC”. Aku terbang ke pelosok Papua, mendrop logistik, mengangkut penumpang.  Aku jadi teringat sebuah buku yang kuambil di laci meja papa, di kamar tidurnya. Aku biasa tidur di kamar papa bila pulang ke BSD. Buku itu sebuah buku Agenda multi tahun, aku ambil yang merupakan tahun tahun awal papa kenal mama sampai aku lahir. Aku baca terkadang tersenyum, kadang sedih, kadang tertawa. Papaku sangat rapi catatan hariannya di Agenda. Diantara catatannya aku rangkum seperti berikut.

Aku sering teringat dengan pertemuan ku pertama kalinya. Saat itu aku transit di Ujung Pandang sekarang lebih dikenal Makassar, tepatnya di Bandara Internasional Hasanuddin, kala mendengar lagunya Alfian, Senja di Kaimana di sound sistem bandara.

Senja di Kaimana, kan kuingat selalu senja indah senja di Kaimana.

Seiring surya meredupkan sinar di kau datang ke hati berdebar.

Kau usapkan tangan halus mulus, ke luka yang parah penuh debu.

Senja di Kaimana kan kuingat slalu, dalam sukma sampai akhir masa.

Ya kira kira begitulah liriknya. Hatiku berdebar lagi seperti saat itu, dikala dia duduk di sebelah ku. Bibirnya yang seksi, kulit eksotik perpaduan Manado – Papua, hidung mancung, rambut kribo. Dia kala itu mau berangkat ke Curug Tangerang Banten, akan mengikuti sekolah pilot, di sekolah pilot terbesar di Tanah Air, PLP, sekarang dikenal dengan STPI Curug. Namanya Hesti Ashari.

Kenangan itu sudah lima tahun berlalu, dikala aku juga mau kembali ke kampusku di Salemba Raya. Aku mahasiswa jaket kuning, sekarang kampus utamanya pindah ke Depok Jawa Barat. Ketika itu kuberanikan diriku untuk berkenalan. “Selamat Siang Nona, mau pergi kemanakah, aku Jumhara, boleh kita kenalan” sapaku. Dia menjawab dengan sopan, sesopan pakaiannya, dengan kemeja dan celana jean biru, dimasukkan lagi bajunya. “Aku Hesti, Hesti Ashari. Aku mau ke Curug, ikut sekolah pilot kakak” jawabnya. Dia memperkenalkan ibunya. Sonya Londong. Dia di antar ibunya pergi, sedangkan ayahnya dinas di bandara Kaimana. Jadi sejak pagi dia sudah berangkat dari Kaimana, ke Sorong terus ke Ujungpandang. Rupanya aku satu penerbangan dengannya dengan pesawat Garuda ke Jakarta.

Dia anak Papua blasteran , hebat, dia berhasil masuk sekolah pilot yang terkenal ketat persaingannya. Kami boarding dan terus berpisah di Bandara Sukarno Hatta. Hari sudah mulai sore. Mereka di jemput teman ayahnya, dan aku terus ke kosan ku di Salemba Tengah. Aku naik bus Damri ke Rawamangun dari bandara.

Hari cepat berlalu, akupun lulus dan bekerja di sebuah dealer mobil terluas pangsa pasarnya di Indonesia. Aku sering bepergian urusan bisnis ke banyak kota di Indonesia, yang mungkin sudah hampir seluruh provinsi ada sub dealer perusahaan kami.

Dalam perjalanan Bisnisku ke kota Medan aku dengar lagu yang distel sopir di taxinya. Lagunya Oh Hesti.

 “Oh Hesti, mengapa wajahmu mirip dia, dia yang meninggalkan daku, pergi entah kemana” ..... Dst

Lagu ini mengingatkan aku kepada seorang gadis yang sudah lama aku kenal diperjalanan dia Hesti Ashari. Kenapa aku teringat dia ya. Badan semampainya, mata dan gigi yang sangat putih, berkumis tipis. Aku tak bia melupakannya. Sehingga saat tidurpun aku teringat pada nya. Sehingga terbayang bayang terus, bayangannya selalu menggoda benakku. Aku coba fokus kerja, tapi namanya hati, perasaan tak bisa diajak damai. Walau banyak gadis medan, kenapa hati ku tertambat padanya.

Sejak itu aku sering memperhatikan pada setiap penerbangan, nama pilot nya. Siapa tahu ada, Hesti tambatan hatiku. Oh Hesti... Mengapa hati aku sering kacau. Nyaris beberapa bulan belakangan wajahnya sering datang pergi di pelupuk mataku.

Aku duduk di Lounge Garuda Bandara Ngurah Rai sore itu, aku sibuk dengan gadgetku melihat lihat WA, email ataupun medsos lainnya. Serombongan crew duduk di meja sebelahku. Dari obrolannya mereka crew yang habis berdinas dan mau kembali ke Jakarta. Sepintas kuperhatikan seorang pilot wanita. Dia kah Hesti, aku kucek kucek mataku. Ternyata benar dia Hesti. Aku dekati dan mohon ikutan bergabung, dengan ramah mereka mempersilahkan aku ikutan. Lalu aku salaman dengan Capten Hesti, “Selamat Sore Nona, apa ingat saya kah?” tanyaku dengan logat Papua. Hesti kelihatan sedikit kikuk sambil mengingat, “Iya, iya sekitar 6 tahun lebih kita bertemu kakak, kakak Jumhara kan, di Bandara Internasional Hasanudin kah?” jawabnya. “Iya kala itu nona hendak berangkat ke Curug, kita satu pesawat” lanjut ku.

Banyak aku ngobrol karena kebetulan pesawat kami cansel satu jam, karena hujan lebat di Bandara Ngurah Rai. Aku memujinya: “Dengan kostum pilot ini, nona tambah cantik hei”. “Akh kakak bisa saja. Kalau cantik tentu aku tidak jomblo kakak” jawabnya. Obrolan kami nyambung, terlebih krew yang lain yang umumnya pramugari pada pindah ke meja lain. Mungkin sudah etika mereka begitu.

Dia tinggal di Perumahan Alam Sutera, hanya dengan mamanya, karena papanya meninggal saat dia baru lulus pendidikan di Curug. Beliau di makamkan di Pemakaman Umum Tangerang. Kamipun saling tukaran  kartu nama. Aku janji akan main ke rumahnya, bila dia tidak terbang. “Akh kenapa tunggu hari kakak, minggu ini aku ada kosong, silahkan datang” katanya. “Wah boleh juga, coba kakak lihat skedul dulu siapa tahu kakak ada dinas luar. Nanti kakak hubungi” kataku.  Panggilan boarding untuk pesawat ku, aku pamitan ke mereka, dan berjanji akan menghubunginya.

Sejak itu kami sering ketemu. Keluarga Hesti sangat rajin ibadah, menjadikan aku malu. Aku diajak mereka ibadah bersama, demi Hesti aku jadi sering dan semangat beribadah bersama di kala hari minggu. Kami sering nonton bersama bila ada film baru, tak jauh dari rumahnya. Paling jauh sampai AEON BSD. Ibunya sangat modern, tidak pernah mau tahu urusan puterinya bila bersamaku. Namun didikan pilot memang sangat disiplin.  Hesti menjadi ada di habitat yang modern tapi disiplin.

Seiring berjalannya waktu cinta kami tumbuh dengan subur. Bahkan aku pernah dikeroyok teman teman pilot yang juga naksir sama Hesti. Namun dengan tegas Hesti bilang dia boleh berteman dengan siapa saja, tapi pacar cuma satu, ya Jumhara. Siapa mau menggoda dia bilang siap akan aku ladeni. Bila perlu dia hadapi sendiri, katanya. Hesti memang seorang karateka sejak SD nya di Kaimana.

Sang pilot yang ‘bar’ nya lebih banyak dari Hesti akhirnya minta maaf dan mundur teratur. Banyak hambatan hubunganku dengan Hesti justru dari pihak keluargaku. Lama kelamaan luluh juga hati mereka dengan pendekatan ku, maupun pendekatan Hesti. Hesti memang sangat supel bergaul, walau dia tegas sebagai pilot. Dia sangat hormat ke keluargaku, terutama ayah ibuku.

Pernikahan kami dilakukan di Gereja dengan acara yang sangat khidmat. Seluruh keluarga besar ku datang, demikian juga dengan keluarga Hesti. Adik lelaki Hesti, Petrus Ashari rupanya meneruskan karier bapaknya. Dia bekerja di Bandara Utarom Kaimana, setelah mengikuti Pendidikan Teknik Radio di Balai Diklat Penerbangan Jayapura selama dua tahun. Dia tidak mau meninggalkan Kaimana, dia kasihan dengan rumah peninggalan orang tuanya tak ada yang ngurus. Itu yang mengikat kami, untuk secara berkala pulang ke Kaimana, sambil menikmati kota Senja yang semakin Asri saja.

Anak kami cuma dua, Lukas dan Margareta. Dia tumbuh sehat dengan semakin bhineka tunggal ika di darahnya, Papua, Manado dan Jawa. Margareta ingin seperti ibunya kalau besar nanti mau sekolah pilot, sedangkan Lukas mau meneruskan bisnis keluarga. Sehingga dia akan belajar Ekonomi di Jakarta, yang sangat banyak pilihan. Ayah dan ibunya mendukung semua kemauannya.

**#**

Waktu sangat cepat berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Margareta baru saja lulus sekolah pilot di New Zealand, dia mendapat beasiswa dari dana Otsus Pemda Papua. Kelulusannya di New Zealand, mama dan Oma  datang tapi kakakku Lukas tidak bisa meninggalkan tugasnya.  Sesampainya di Tanah air aku -Margareta-langsung ziarah ke makan opaku di Pemakaman Umum Tangerang, seminggu kemudian aku mau nyekar ke makam papa di Magelang.

Papaku sudah meninggal ikut dalam kecelakaan, di Teluk Kaimana. Kala itu almarhum ada bisnis dari kantornya di kota Sorong, dan Adik mama menikah di Kaimana. Ayahku dari Sorong naik pesawat ke Kaimana menghadiri pernikahan Om ku. Ayah ikut dalam kecelakaan pesawat Merpati di Perairan Kaimana, ini tahun ke tujuh kecelakaan itu. Di nisan pusaranya tegas tertulis, Jumhara Wono Saputro SE Ak. Nama itu kupakai di belakang namaku: Margareta Wono Saputro, dan kakakku Lukas Wono Saputro.

Aku sempat merenung dalam, di rumah kakekku di lintas Magelang Semarang, daerah Secang. Dari sana terlihat hamparan kebun teh, di kejauhan candi Borobudur menjulang dengan megahnya, dan beberapa puncak gunung, dengan indah nya. Aku ditemani dua janda cantik saat ziarah makam papa. Mereka itu oma dan mamaku. Mamaku sudah memutuskan tidak akan menikah lagi, dan sudah  kembali menjadi pilot lagi, Kapten Hesti. Aku sering ledek mamaku, kapten yang tak pernah naik pangkat. Demikian juga aku... Ha ha ha haiii.

Abangku Lukas meneruskan usaha yang telah dirintis ayah menjelang pensiunnya di perusahaan otomotif terbesar. Beliau telah diberikan sebuah sub keagenan di kota Solo dan Sorong. Itu perusahaan keluarga kami. Sekarang abangku yang mengurusnya, sampai sampai dia lupa menikah. Mungkin saking ayik dan repot dalam kerjanya.

Hatiku cukup gelisah saat harus berpisah dengan mama dan omaku. Aku akan berkarier di sebuah maskapai penerbangan “SMAC” yang operasionalnya membelah pedalaman Papua. Kulakukan sebagai tanda terima kasih ku ke Tanah Papua dan Pemda Papua yang menyekolahkan aku. Aku  mendrop logistik ke pedalaman Papua. Aku bisa berbakti di tanah kelahiran opa dan mamaku. Aku bisa sesekali mampir ke kotaku leluhurku kota Senja, Kaimana. Juga bisa sesekali ke rumah keluarga Oma di Minahasa sana.

Aku sangat bangga duduk di kockpit menyaksikan keindahan bumi cendrawasih, sorga kecil yang jatuh  ke bumi. Hampir semua kota di Papua sudah kudarati, dari kota Provinsi sampai ke distrik, atau kecamatan. Dari jenis landasan beraspal, landasan berbatu, landasan tanah hingga landasan rumput, sudah kudarati.

Setelah empat tahun menjadi pilot lagi, sehabis berhenti kerja ketika mendampingi papa, mama memutuskan untuk pulang kampung. Dia mau tinggal di kampung ayah, sehingga dekat dengan makam ayah kami. Mama membuka sebuah cafe dengan menu masakan Manado, Papua dan Jawa, serta beraneka minuman dan jus. Diberi nama “Cafe Senja di Kaimana”.

Cafe mama cukup ramai sebagai tempat istirahat kendaraan yang melintas Yogyakarta – Semarang lewat Magelang. Mama ditemani oma, dan beberapa sepupuku dari ayah. Cafe nya cukup ramai. Tempat itu tempat pertistirahatan aku kalau lagi cuti terbang, kalau bukan di BSD.

Seperti pagi itu aku menikmati udara sejuk Secang, kabut turun menambah sejuk pagi itu. Aku ingin rembugan dengan mamaku, karena dalam liburan ku kali ini pacarku akan datang untuk langsung bilang niatnya akan melamarku ke mama. Oma sudah aku boyong ke Secang dari Tangerang. Calonku seorang pilot juga berkebangsaan Canada, yang menjadi pilot di maskapai Susi Air. Kami sama sama terbang di Papua. Semoga mamaku berkenan semua rencanaku berjalan lancar. Abangku mudah mudahan tak keberatan aku dahului dia. Dia sudah janji pulang kali ini.

 

Catatan: cerita ini fiktif belaka, hasil lamunan penulis. Nama perusahaan mohon maaf di pakai di tulisan ini. Tks (penulis)

Pakdepudja@Puri_Gading, 25/07/2023.

 

Sabtu, 26 Agustus 2023

Cerpen 2. PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN"

 

Cerpen

 

“PERSAHABATAN EMPAT SEKAWAN”

 

Oleh: Pakde Pudja.


 

Awan tipis menghiasi langit membuat keindahan siang itu di sebuah perkampungan di Solok lebih terik. Anak anak Monang dan anak anak Gunawan masih main layang layang. Setelah seharian sebelumnya mereka ke Danau Singkarak berekreasi sambil mencari ikan biliah. Monang geleng  geleng kepala melihat dua anak lelakinya berlari menarik benang layang layang bersama dua anak gadis Gunawan. Monang ingat dengan kampungnya di Siantar sana. Dia ingat dulu juga seperti anaknya.

Rambut mereka satu dua sudah putih, Gunawan selalu berpeci menambah religius dia yang memang alim. Monang dan keluarganya disambut hangat keluarga Latifah, yang sudah kenal mereka sejak masih di Jl Sentiong. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri saja.

Latifah dan Gunawan saat ini hanya menjadi konsultan. Latifah sesekali masih ke kantor memeriksa pembukuan keuangan bila ada masalah saja, namun Gunawan rutin berkeliling ke beberapa pabrik dan service center di Padang selalu memastikan mesin berjalan baik.  Mereka lebih banyak di Solok mengawasi dua putri mereka. Sedangkan Monang masih punya karier yang bagus di Biro Hukum Kemenlu, dan Siwi, menjadi dosen di Fakultas Sastera Universitas Sriwijaya. Dia lebih banyak membimbing mahasiswa nya. Sehingga dia bisa bolak balik Kertapati – Pagar Alam, sambil mengawasi pabrik kopinya yang memasok kopi luwak ke beberapa cafe di Palembang dan Jakarta.

Kedua keluarga itu terlihat masih sangat solid saling membantu baik ide maupun permodalan sehingga mereka bisa maju bersama. Mereka rasakan masalah sulit saat kuliah. Rumah numpang di rumah Gunawan, listrik dan air dibayar patungan. Saat perekonomian Gunawan anjlok Latifah sudah mulai kerja sehingga dia lebih banyak membantu. Siwi yang paling lancar dananya karena orang tuanya petani kopi yang lumayan berhasil kala itu. Monang membiayai diri sendiri sambil ‘nyalo’ kerennya brooker tiket bioskop dan tiket bola buat tambahan. Itupun sering di bantu Siwi. Itu kisah saat mereka kuliah.

Saat itu mereka sedang menikmati kopi sore dengan pisang goreng di beranda Rumah Gadang keluarga Latifah, sebuah taxi masuk halaman rumahnya. Anindia turun dari taxi, langsung salaman dengan bundanya, ayah dan ke dua tamunya. Dia mengabarkan bahwa dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Wah jadi penerus kita dong kata Monang sambil memeluk erat Anindia. Sore itupun menjadi lebih ramai, nenek kakek Anindia ikutan nimbrung karena senang mendengar berita itu. Monang pun bercerita tentang persahabatan mereka sejak pertama kali mengikuti Ospek di Universitas Indonesia, hingga saat ini.

**#**

Aku Latifah, baru saja bubaran rapat konsolidasi keuangan perusahaan di Kantorku di kawasan industri Cikarang. Hari masih tanggung, belum begitu sore. Aku teringat dengan Gunawan temanku yang banyak membantu aku yang rumahnya masih kutempatu. Sudah dua tahun hampir aku tak bertemu dengannya karena kesibukanku menyusun skripsi dan meniti awal karierku sebagai seorang akuntan di perusahaan multinasional. Karierku lumayan melesat, tetapi aku tetap Latifah, yang rapuh karena memikirkan Gunawan, orang yang telah mensupport aku selama kuliah, bahkan dia sebagai sponsor aku lebih dari tiga tahun. Kami bertiga tinggal di rumahnya di Gang Sentiong, cukup dekat dengan kampusku di Jl Salemba 4. Kami bertiga, aku Latifah, Monang dan Siwi, serta sang empunya rumah Gunawan. Perekonomian keluargaku kurang baik saat itu, ayah pegawai negeri sering sakit sakitan dan ibu ku hanya guru SD di kampung, jelas hidup pas pasan ketambahan ada dua adikku juga butuh biaya.

Aku lupa lupa ingat dengan kampungnya tapi aku ingat tak jauh dari stasiun Kereta Api. Rumahnya tak jauh dari penyosohan gabah atau pemggilingan padi “Makmur Sejahtera” (MS).  Aku berhenti di pinggir jalan yang masuk kampung itu. Dengan pakaian kerjaku banyak yang menyangka aku dari sebuah perusahaan pengembang perumahan. Mereka pada menawarkan tanah untuk dibebaskan. Aku bertanya ke salah satunya, dumana lokasi Pabrik Penggilingan padi MS. Mereka malah menawarkan pabrik tersebut, karena sang empunya tak berpengalaman mengoperasikannya, sehingga saat ini terlantar tidak beroperasi. Mereka ku ajak naik ke mobilku menemui pemiliknya. Pak Paulus namanya, dia mengatakan tidak biasa mengoperasikan nya hingga merugi. Dia tak sengaja membeli nya, membelinya karena sebagai jaminan utang. Padahal hanya 200 juta saat itu. Aku sempat menanyakan bahwa itu pabrik dan tanah masih atas nama pemilik lama Guan Gunawan. “Dari pada merugi kenapa tidak dijual saja” kataku kepada Pak Paulus.

Diapun keceplosan dia akan jual segera kurang kurang dikit juga dilepasnya. Pak Paulus banyak bercerita bangkrut nya pemilik lama yang merupakan saingan bisnisnya di kampung itu. Dia iri dengan luasnya pergaulan Pak Guan sampai kalangan pemerintah, bahkan ikut rapat bila terjadi krisis atau gejolak pasar beras.

Aku minta nomor hp yang bisa ku hubungi kalau ada pembeli. Aku berjanji segera mengontaknya. Bila kuingat cerita Wawan, Gunawan, pabrik itu kebanggaan keluarganya.  Keluarganya saat itu pernah menjadi saudagar beras nasional, yang ikut Menstabilkan stok nasional sejak zaman orba.

Sampai di rumah ku lihat Monang lagi bersenandung, aku tebak pasti hatinya lagi senang. “Ada apa Nang tumben kau bernyanyi lagi” tanyaku. Dia dapat kabar bahwa dirinya termasuk Gunawan mendapat surat untuk segera maju ujian, revisi skripsi tinggal revisi sedikit, draft skripsi Gunawan belum bisa kuambil, karena belum menyelesaikan administrasi yang tertinggal, kata Monang. Aku minta diantar ke kampus besok pagi. Aku mau beresin administrasi kuliahnya Gunawan. Karena dia kuliahku lancar, dan bisa segera lulus. Aku lulus dalam 3 tahun setengah. Mereka masuk semester sepuluh. Monang dan Gunawan yang tertinggal. Siwi semester lalu sudah di wisuda dari Fakultas Sastra. Gunawan di Teknik Mesin, sedang Monang di Fakultas Hukum. Kami berempat sangat solid, tapi banyak kendala kuliah kami. Maklum orang kampung kalah modal hanya menang semangat.

Setelah menyelesaikan administrasi Gunawan, draft skripsi nya pun sudah kuambil. Monang mengajakku mampir di kantin Fakultas. Kami bernostalgia makan nasi uduk dan kopi susu di kantin sambil aku susun rencana bersama Monang. Bagaimana merayu Gunawan untuk segera ujian, dia pasti siap. Dia Mahasiswa yang cerdas. Harusnya dia bareng aku di wisuda, namun masalah keluarga yang membuatnya melupakan kuliahnya yang sudah jalan skripsi, tinggal finishing. Monang setuju termasuk akan kuutus ke Karawang nego penggilingan padi MS. Dia kalau masalah bisnis lancar asal ada ‘epeng’ katanya. Aku kasih ancer ancer harga 175 Juta, terserah dia bila bisa kurang itu keuntungan dia. “Akh itu masalah kecil, mudah kubereskan” kata Monang.

Monang tetap merahasiakan lokasi kerja Gunawan ke Latifah. Dia akan datangi siang itu setelah ke pengetikan revisi skripsinya dulu di Jl Pramuka. Dia bilang padaku nanti malam aku akan dikabari di rumah. Aku pamitan untuk ke kantor.  Kami berempat kaya saudara saling bantu. Kebetulan aku lulus duluan, Siwi baru semester lalu, kayanya masih betah di kampung nya di Pagar Alam atau Kertapati. Monang dan Aku masih menghuni rumah Gunawan. Mobil Suzuki Carry nya masih terparkir rapi di garasi, semenjak aku dapat mobil kantor, sesekali dipakai Monang. Tapi aku curiga kok tetap tok cer ya, Monang tak pernah minta uang service. Jangan jangan Gunawan kerja di Service Resmi Suzuki ya. Dia pernah praktek kerja lapangan disana. Akh aku tak mau mencarinya biar ku percaya kan ke Monang. Soal mesin Gunawan memang jago, sehingga tak heran bila mobilnya masih bagus dan tokcer.

Hari itu rupanya kami harus dinas luar ke Bogor. Aku sudah ditunggu, karena datang agak siangan. Kami langsung berangkat, untuk peninjauan dan pemeriksaan masalah keuangan di kantor cabang di Ciawi Bogor. Aku memang tak kuat dengan panas di jalan. Sore itu sesampainya di rumah aku langsung tidur. Aku lupa dengan janji Monang memberikan laporan. Aku terbangun sudah pk 21 an, Monang lagi asyik persiapan ujian, gladi resik presentasi. Aku duduk menunggu di ruang tamu, sambil menonton TV.

Tak lama berselang, dia tahu aku sudah bangun tidur. Dia bilang “Gunawan berterima kasih pada kamu Latifah, walau kelihatannya berat. Dia akan pulang kesini akhir pekan ini” kata Monang. Aku senang Gunawan mau kembali ke kampus demikian juga Monang, mereka akan Sarjana semuanya satu perjuangan.

Monang juga melaporkan bahwa dia sudah menghubungi Pak Petrus, maksudnya Pak Paulus di Karawang, dia berhasil nawar 175 juta kata Monang, namun dia mau memastikan bahwa barangnya tak ada yang di curi.  Aku tahu Monang pasti belum makan, sudah aku pesankan makanan lewat go food, nasi Padang Jl Kramat Raya. Aku hafal kalau dia mau ujian begini pasti nunggu nasi goreng tektek lewat.

Aku ingatkan Monang misinya harus selesai. Dia minta dibantu ongkos jalan ke Karawang, dia mau naik Kereta Api saja besok siang. Aku setuju permintaannya. Aku ingatkan 175 Juta sudah beres semua Nang, berikut surat suratnya ya. “Pasti beres lah itu” jawabnya. Pengantar pesanan makan pun sampai.

Monang segera menyiapkan minum, dia tahu aku suka teh manis. “Minumnya nona, teh manis” kata Monang. “Terimakasih bang” selorohku seperti biasa.  “Kau tahu saja aku belum makan Latifah” goda Monang. “Ya, tahulah kan sudah hampir lima tahun kita berteman” sahutku. Dan kamipun tertawa berderai, sambil membuka nasi Padang yang kupesan. Kami sangat menikmati nasi padang itu, karena ku pesan sesuai kesukaan masing masing.

Cepat sekali waktu berjalan, Monang dan Gunawan sudah lulus ujian skripsi, tinggal wisuda saja. “Akhirnya si Monang calo tiket bola telah jadi Sarjana Hukum” selorohnya. “Gunawan anak juragan beras sudah jadi tukang insinyur” lanjut Monang. Sore sehabis ujian Monang pulang menenteng dua kotak Pizza dan sebotol besar Cola. “Akh kita makan ne, ayo Latifah, Siwi, dan Gunawan” teriaknya masih di gerbang rumah. Pesta kecil itu dimulai dengan memanjatkan doa bersama dipimpin Monang. Gunawan jadi pendiam sekali sekarang, pikirku.

Malam itu aku keluar menikmati kota Jakarta hanya berdua dengan Gunawan. Aku jelaskan misiku untuk menarik aset kebanggaan keluarganya bukan untuk tujuan apa apa. Namun aku bilang aku tetap menepati janjiku, untuk tetap setia. Aset itu kebanggaan keluarga, harus dikembalikan harkat dan martabat serta marwah keluarga kita.  Keinginan papa Gunawan, Guan Gunawan harus diwujudkan yaitu agar Gunawan lulus Insinyur. Gunawan mengucapkan terimakasih kepada Latifah. Dia sangat sopan, padahal Latifah mengharap Gunawan, mbok menciumnya sesekali. Tapi semua menjaga imej, jaim.

Monang dan Gunawan memang rekan setia mereka lulus dalam minggu yang sama. Mereka diselamatkan peraturan akhir, ‘save by the bell’ dalam tinju. Mereka cukup banyak yang punya nasib sama. Walau menyandang lulusan hampir punah (DO) namun mereka bangga sebagai pasukan jaket kuning, menyandang Sarjana yang mereka impikan sejak berangkat dari kampung.

Mereka mengikuti wisuda di Balai Sidang Senayan. Mereka kelihatan sangat bahagia terutama Monang. Saat wisuda rupanya Siwi juga datang, tanpa malu malu dia mendaratkan hadiah cipika cipiki ke Monang. Jelas Monang kaget, dia tak nyangka temannya itu jatuh cinta padanya. Monangpun bersenandung. “Jatuh cinta berjuta rasanya, dipeluk, di cium aduhai rasanya...”. Siwi tetap memeluknya erat, karena itu kesempatan yang langka.

Wisuda dirayakan dengan sangat sederhana okeh mereka berempat, mereka mampir ke Rumah Makan Padang Sederhana di dekat bundaran Slipi. Mereka berempat bersuka cita hari itu. Mereka berfoto bersama Latifah memakai topi toga Gunawan dan Siwi memakai topi Monang mereka berfoto bersama. Tak disangka perkawanan mereka awet dan tetap kompak. Dan yang mereka tak sadar ada benih benih cinta tumbuh dalam persahabatan itu.

Tumben, tidak seperti biasa kali ini Monang yang membayar makan disaat makan bersama itu. “Latifah uangnya nggak laku hari ini” kata Monang. Sebagai juru bicara Monang menyampaikan kepada Gunawan bahwa asset keluarganya berupa penyosohan beras sudah kembali ke tangan Gunawan. Gunawan kaget. Kata Monang: ”Tak perlu kaget Wan, yang penting kau segera pulang hidupkan kembali pabrik itu biar jalan dan keluargamu bisa tegak kembali, ada yang diurus”. Gunawan tak menyangka temannya sangat perhatian pada Gunawan. “Nah itulah pentingnya persahabatan dan keluarga wan” celetuk Latifah. Merekapun meninggalkan rumah makan itu. Gunawan mengambil alih stir mobil Latifah, dan Monang naik Suzuki Carry bersama Siwi. Mereka berpisah setelah sehabis makan, guna merayakan wisuda mereka masing masing.

**#**

Suara deru pabrik penyosohan gabah kembali setiap hari terdengar di kampung Gunawan, yang sudah lama sepi. Penyosohan beras diurus kakak tertua Gunawan sambil mengurus ibundanya, yang sedikit kurang sehat setelah kematian suaminya. Dasar memang passion dan rezeki keluarga itu di beras, tak perlu waktu lama mereka sudah berjaya lagi. Kapasitas produksi stabil, mereka memasok beras ke beberapa pasar induk dengan lancar. Truk pengangkut gabah dan beras hilir mudik seharian, bahkan terkadang sampai malam hari.

Gunawan dan Latifah sesuai janji setia mereka, mereka menikah di kampung halaman Latifah Sumatera Barat di kampungnya yaitu Solok, yang memang sentra beras juga.  Gunawan membangun penyosohan beras dengan kapasitas menengah namun pabrik modern. Mereka sebagai pemasok beras Solok beberapa rumah makan di Padang maupun luar Padang hingga ke Jawa. Gunawan menjadi konsultan di beberapa dealer dan sentra servis mobil merk kenamaan. Sesuai dengan keakhliannya dan pengalamannya selama ini yang langka di Sumatera Barat.

 Sejak Latifah melahirkan putra pertamanya Anindia, dia pindah kerja ke Padang, kebetulan ada pembukaan cabang baru. Sekarang anaknya sudah tiga Anindia, punya dua adik wanita: Berliana, dan Cintyana. Keluarga itu sangat berbahagia. Anindia diminta neneknya di Karawang untuk sekolah disana, keluarga Latifah setuju karena anak lelaki mesti merantau. Kebetulan kakak tertua Gunawan tak ada anak, maka Anindia sudah diasuhnya seperti anak kandungnya sendiri. Gunawan di kampung Latifah aktif di Surau. Dia sudah kaya Datuk asli, dengan Bahasa Minang yang sudah mulai fasih.

Monang tak begitu lama setelah lulus, bekerja di Paris di Kedubes RI, karena dosen Pembimbing Akademis nya di angkat menjadi Duta Besar tak lama setelah mereka wisuda. Sebelum berangkat Monang dan Siwi menikah di Kertapati, Palembang kampung Siwi. Siwi juga diajak serta, kemudian Siwi diangkat menjadi pegawai perpustakaan Kedubes, sehingga mereka berdua hidup bahagia disana. Saat mau berangkat sempat aku godain Monang:”Wah semakin berkembang ne usaha brooker tiket bolanya Monang”. Dia Cuma tertawa dan bilang:”Akh Latifah, kau bisa saja. Kau modali dulu aku lah”. “Bereslah aku bekali kamu uang Franc ya”, kata Latifah. Saat itu belum ada Euro.

Sekarang Monang ditarik ke Kemenlu di Jakarta, Siwi dan dua anaknya. Siwi pindah menjadi dosen di Universitas Sriwijaya, karena saat di Paris dia sempat ambil Doktor di Sorbonne University, tentang literasi. Keluarga kecil mereka pun hidup bahagia. Monang sekali dua minggu pulang ke Palembang. Anak anak Siwi lebih suka bersama kakek neneknya di Pagar Alam, karena bisa main ke kebun keluarga yang sekarang diisi kopi dan coklat. Itu lho di kampungnya Pak Komjen Pol Susno Duaji.

Walau saling berjauhan keluarga Monang dan Gunawan selalu saling berkhabar. Mereka sahabat yang cukup hangat, suka humor dan tetap menjunjung tinggi persahabatan. Mereka sering saling berkunjung di kala liburan sekolah. Bahkan Gunawan membantu Monang menginstall kan pabrik mini pengolahan kopi di kampung mertua nya, yang sampai kini masih berproduksi baik walau sudah lebih dari lima tahun. Pabriknya sem otomatis sejak pengeringan sampai proses menjadi kopi dan pengepakannya.

Tahun ini Keluarga Monang berencana datang ke Solok untuk berlibur, saat  liburan panjang sekolah. Mereka akan bernostalgia berempat. Datang berbagi cerita suka dan duka perjalanan keluarga mereka. Mereka akan membawa kendaraan sendiri, melintasi Kerinci menyeberang Bukit Barisan. Dia akan Mencoba menikmati jembatan baru di kelok sembilan. Monang memang hobby nyopir dan berpetualang.

 

Pakdepudja@Puri_Gading, 11082023.

Selasa, 22 Mei 2018

Nostalgia Dinas di Daerah


PERBINCANGAN RINGAN DENGAN STAF BARU

Pagi itu saat aku masih dinas di daerah, sekitar pk 10 00 WIT aku menerima seorang staf baru yang dikirim dari kantor pusat ditempatkan di salah satu kantor pengamatan gempabumi yang masih sekota. Seperti biasa basa-basi dia melaporkan kedatangannya dengan membawa surat tugas penempatan, dengan surat keputusan Calon Pegawai Negerinya.
Aku masih ingat betul dia kupersilahkan duduk di kursi depan kursi kerjaku, sehingga aku bisa santai tak perlu beranjak dari pekerjaan yang sengaja ku kensel karena kedatangannya. Pegwai ini masih muda maklum baru tamatan Diploma 1, Di tengah pembincangan kami tiba-tiba dia menanyakan sebuah Lembaga Kemasyarakatan, kepadaku.
Apa bapak tahu, Organaisai Kemasyarakatan ANU Pak, ku jawab : Tahu kayaknya lokasinya di sekitar Terminal Taksi, sepanjang jalan kalau kita ke arah kota dari kantor ini. Dia sebut kalau di rekomendasi teman di Jakarta, saya harus menemui seseorang di daerah Kelapa Dua, katanya. Oh iya Bapak ingat itu, kalau tidak salah tidak jauh dari tikungan jalan dari terminal taxi – baca angkot-.
Lho Bapak tahu ya Pak dengan Organisasi itu. Ku jawab iya tahu sekedar tahu alamanya disana. Perasaan Bapak ada Papan petunjuknya di pinggi jalan. Mgomomg-ngomong apa bapat setuju saya ikut organisasi itu, kujawab Bapak tidak tahu organisasi itu, sehingga Bapak tidak bisa berkomentar apa apa dik, kataku,
Terus bagaimana pendapat Bapak tentang saya ikut organisasi itu. Aku hanya jawab, sesuatu yang kalian sudah yakini laksanakan dengan baik, tapi kalau belum yakin benar cari tahu pada orang yang mengerti organisasi itu, minimal pada orang-orang yang faham dengan organisasi kemasyarakatan, kataku.
Akupun geleng-geleng, dengan pertanyaannya, setelah itu dia pamitan  untuk kembali ke tempat kerjanya.
Berselang beberapa hari setelah dia melaporkan diri. Dia lapor lagi kepadaku, bahwa dia tidak senang dengan ibu-ibu di komplek, karena cuciannya diangkatin ibu-ibu saat hujan tiba, di jemuran. Namanya juga di kompleks jadi ramai, disatu pihak ibu-ibu kasihan dengan pegawai baru cuciannya kehujanan sehingga di bantu diangkatin, dilain pihak si empunya tidak senang bila barang-barangnya di pegang oleh ibu-ibu.
Sebagai orang yang di tuakan aku nasehati kepada ibu-ibu dan ke pegawaiku ini. Disini semua niatnya baik, hanya kurang komunikasi saja. Lain kali kalau kamu pindah tempat tinggal apalagi di komplek, tolong tetangga dibilangi bila hujan tiba dan ada jemuran cucian, bilangin tak usah diangkatin, sehingga ibu ibu yang biasanya dirumah saat jam kantor tidak melakukannnya. Demikian juga ibu-ibu kalau ada orang baru jangan asal ngangkatin jemurannya, walau tujuannya baik agar tidak basah lagi.
Ku minta salaman, sebagai penutup perdamaian. Heee ternyata pegawaiku tak mau salaman dengan ibu-ibu. Akh ternyata memang dunia macam macam isinya yang belum kita fahami semuanya. Semoga saja pegawaiku yang masih berdinas di daerah sampai saat ini bisa tetap rukun dna damai dalam bertetangga.
Pondok Betung, Bulan Puasa 2018,

Sabtu, 12 Mei 2018

Perbincangan Kala Pertemuan

Pengantar:

Berikut ini akan secara berseri saya akan posting beberapa hasil perbincangan ku dengan orang orang yang tak sengaja bertemu di perjalanan, di perjalanan dines baik di pesawat, di hotel, maupun di tempat kerja sampai di tempat seminar. Karena keinginanku untuk menulis kembali muncul. Untuk memulainya akan saya posting perbincangan dengan Rita di sebuah hotel di Mataram Lombok.



PERTEMUAN DENGAN RITA 


Beberapa kenangan dari percakapan keremu teman sekampung, teman sekota maupun dengan seorang staf baru. Perbincangannya ringan bahkan menggelitik hati karena logika terkadang sangat mudah dipermainkan, dan dalam percakapan ini kami berusaha menghindari hal-hal yang berat.
Pertama : PERTEMUAN DENGAN RITA
Pada saat aku masih kebingunang di loby sebuah hotel, untuk mencari Koran pagi untuk menemani menunggu teman untuk menuju Restoran untuk sarapam. Seorang gadis tak sengaja aku bertabrakan dengan soorang gadis. Dia gadis desa teman anak0anakku. Dengan sedikit kaget dia menyapaku:
Selamat Pagi Om. Selamat Pagi jawabku. Dia menjulurkan tangannya untuk salaman.. Saya Rita Om. Oh temannya Panji ya. Iya om. Om ada disini kebetulan ada seminar sosialisasi kebencanaan gempabumi, di Mataram ini. Yah om nginap di hotel ini. Kau bekerja disini, oh tidak om. Tiba-tiba seorang Bule datang, dia pamitan dan menggamit tangan Bule itu. Sorry ya  om, nanti siang atau sore aku akan nemuin om untuk ngobrol.
Hebat anak itu, Cuma sekolahan di kampong sampai SMA, eh tapi kudengar di kota dia sekolah dan sudah lulus sarjana. Kata Panji sih dia sudah hebat jadi agen perjalanan gitu. Ah peduli amat, aku berranglat le Restoran dan Sarapan. Kulihat dia asyik dengan tamunya sekan tidak mengenalku. Mungkin itu kali budaya bule.
---+++----
Sekitar pk 17 sore, bel pintu berbunya, akh menganggu saja keasyikan ku menyaksikan berita daerah Entebe di TV local. Dengan malas-malasan aku membuka pintu. Dan ternyata Rita sudah berdiri di muka pintu, di temani teman Bule nya John Dereck katanya. Teman bulenyapun pamitan untuk ada sedikit urusan kekota degan bisnisnya, tinggal aku dengan Rita berdua. Kamipun ngobrol di kamar dengannya, tentu dengan kamar terbuka.
Dia bercerita dengan sangat jujurnya kepadaku, karena aku sudah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri, dia teman anakku Panji yang sedang ngambil spesialis di Jogya. Berulang kali dia minta maaf kepadaku karena telah memutuskan cintanya dengan anakku Panji. Karena dia meras tak panyas katanya. Kenapa begitu, begini cerita dia:
Aku sebenarnya sangat cinta kepada Panji om, tetapi aku terjerumus terbawa pekerjaanku. Dan sudah berapa banyak Bule yang sudah dia temeni sebagai ‘guide’ nya. Dia lakukan itu sebagai rasa balas dendam dia terhadap Bule, yang penting dia dapat duit.
Mulanya ingin menjadi guide yang baik namun kebutuhan hidup di kots apa lagi di Jakarta – ternyata di Mataram, dia menemani tamunya- sangat banyak, dia terlilit Kartu kridit, terlilit Utang Bank untuk cicilan mobil, dan cicilan Bank untuk membantu orang tuanya karena ejatinya penghasilannya sebagai pegawai tidak cukup untuk mengcover semua itu.
Dia kemudian menjadi guide plus, menemani tamunya sampai di tempat tidur. Karena itu semua itu akan tercover oleh biaya holiday atau bisnisnya si Bule.  Paling paling nambah biaya makan saja, apalagi kalau makan buffet tak seberapa, terlebih nilai dollar yang meroket. Akh berdua dengan sendiri tak ada artinya.
Awalnya aku menikmatinya, yang kukira sebagai penghargaan terhadap wanita, karena tamuku sangat memanjakan dan memberiakn aku fasilitas yang wah, setelah berjalannya waktu sejatinya dia bisa jauh lebih ngirit dengan cara ini dapat pelayanan paripurna. Tidak perlu cari teman kencan, tak perlu nyewakan kamar lagi, pergi dalam satu kendaraan bersama, guide tidak bayar terkadang. Wah aku bodoh om. Tidak bidih kataku, itu pilihan, setiap pilihan ada risikonya/
Nah disinilah Om, karena kita wanita yang mengedepankan rasa daripada rasio tertipu katanya. Lho kok bisa Rita kataku hampir tidak terdengar karena aku yak nyangka orang yang kukenal demikian pekerjaannya. Dia kelihatan memberikan kita fasilitas mewah, padahal itu kita Cuma nebeng fasilitas dia yang di cover perusahan, dia seakan mendapat discount. Pay one get two free katanya hahahaha. Maksudnya apa Rita? Tanyaku.
Dia tamu ku kan hanya menbayar aku dengan fasilitas yang dia dapat dari company nya. Dia tidak banyak ngeluari uang, Dan itu sudah menjadi modus setiap dia akan holiday. Daia akan selalu menggunakan medsos maupun aplikasi dating mendapatkan mangsanya hehehe partnernya, kemudian datang holiday, atau bisnis dengan fasilitas plus plus guide, dengan tanpa banyak membebani biaya lagi. Hotel, makan, transport dan guide bisa bisa dia mendapatan nya dengan sangat murah kalau dihitung. Kita bodoh sebenarnya om, kita di permainkan perasaan/ Karena sudah terlanjur tuntutan kridit, biaya hidup, makan dan keiningnan hura-hura ini berlanjut.
Sambil terisak Rita terus bercerita. Dia sempat terhenti setelah room boy mengantarkan Snack dan minum untuk kami berdua. Kami menikmati sepiring kecil lepek pudding dan kopi susu espresso, nikamat sekali. Memang Rita kamu tahu selera bapak kataku ke dia.
Setelah pergi dengan segala fasilitas dan servis yang tel;ah Rita berikan dia kembali ke company atau negaranya, dan si Bule ini akan menceritakan atau mempromosikan aku lagi ketemannya, sehingga aku berlanjut menjadi guide ini. Itulah Om kerjaku….. mohon om jangan ceritakan kepada Panji pekerjaanku.
Sebaiknya kalau ada waktu kau ceritakan saja langsung ke Panji, yang perlu tahu sebanarnya kan Panji, sehingga dia membatalkan ngambil spesialis di Jakarta, dan memutuskan ambil di Jogyakarta saja. Agar dia faham ceritanya kenapa kau menmutuskan cintamu kepadanya. Kau harus benrani dengan jujur mengatakannya walau itu berat. Ternyata anak manis yang kukenal sangat religius di kampong, p[ekerjaannya sangat jauh dari budata kampungku.
Dia bilang dia bukan guide tetapi dia sebenarnya teman bule tour dan segalanya, dengan bayaran yang terkadang terselubung, hanya komisi dari hotel, makan enak dan tour gratis, pergi ke diskotik. Tapi akumiris juga mendengarkan saat dia bilang dia takut dengan karma, dia takut akan terkena sakit………
Aku cuma pesan sama dia rasa takutmu sebenarnya bagus, itu merupakan awal dari tobatmu. Terus laksanakan kelanjutan tobat itu. Fia hanya geleng geleng karena dia bilang dia sudah terlanjur ada bookingan kerjaan sampai tahun depan. Di luar hotel aku lihat sudah mulai gelap, kolam renang sudah banyak yang berenang. Akupun mengikuti Rita ke kolam renang, duduk melanjutkan minum sambil menikmati tamu berenang. Lumayang sebagai nostalgia berenang teringat masa kecilku berenang di tibu di sungai dekat kampungku.
Itulah percakapan singkatku dengan Rita, sebagai hikmah dari pekerjaanku yang menuntutku untuk sering berseminar kesana kemari, mensosialisasikan bahaya bencana gempabumu, maupun pemanasan global dan perubahan iklim. Yah lumayan tahulah hampir seluruh kota besar di Indonesia. Semoga ada hikmah dan manfaat yang kita petik dari perbincangan dengan Rita.

Puri Gading, 2009
Baru di posting, yang kelihatannya masi

Senin, 25 Juli 2016

Runyamnya Masalah Asmara Guru-Murid



“GURUKU MEMPERMAIKAN NILAI KARENA MASALAH ASMARA”

Dia anak manja, salah saru primadona di Kelasnya wajahnya mirip dengan bintang iklan sebuah deodorant yang sangat terkenal saat itu. Namanya singkat saja Dewi Shinta. Memang mirip nama dewi dalam seri pewayangan Ramayana. Orangnya sangat ramah, manis dan suka menyapaku dengan manja. Maklum aku ngajar mereka saat masih umur 23 an tahun.
Aku masih ingat betul, baru saja sehabis liburan semesteran, aku giliran ngajar di kelasnya. Biasa jadwalku Jumat, jam pertama yaitu pk 1400, karena kami hanya bisa ngajar sore Jumat dan Sabtu sore saja mengingat kami harus tetap menjalankan ikatan dinasku, yang sekolah dibiayai pemerintah. Oleh dosenku sering disebut dengan mahasiswa plat merah, atau mahasiswa ‘abidin’ atas biaya dinas.
Seperti biasa, setelah basa basi mengucapkan salam, menanyakan kesan liburan muridku aku mulai mengajar, kuingat topikmua masih masalah gelombang, aku mengajar tetap santai dengan gayaku yang sedikit menggebu gebu, maklum guru muda hahahaha. Tak terasa sudah hampir dua jam kami di kelas, setelah menjawab semua pertanyaan dari siswa yang masih kurang faham, aku pamit meninggalkan kelas dengan memberikan salam selamat sore.
Anak-anak sudah mulai keluar istirahat, aku mengisi agenda kelas, menuliskan berita acara pengajaran sore itu, Dewi Shinta menghampiriku, dengan berkata, Pak Guru curang. Kudengar sepintas dia membisikannya kepadaku. Aku cuek saja meneruskan menuliskan berita acara, dan iapun berlalu dan berdiri di pintu Kelas. AKu tahu dia akan bicara lagi pada saat aku keluar kelas.
Dengan sambil mengelap tangan yang belepotan kapur tulis, aku meninggalkan kelas melewatinya. Ku bilang ‘wik’ ayo ikut Pak Guru ke ruang guru, kita bicara disana kataku. Dan iapun mengikuti aku ke ruang guru. Ku pinjam ruangan di ruang TU untuk bicara dengannya. Akupun menanyakan, ada apa Wik, kok kamu cemberut bapak perhatikan selama pelajaran tadi, coba ceritakan biar Pak Guru tahu.
Dia menceritakan bahwa nilainya kok kecil di rapor untuk pelajaran yang aku pegang. “Masak aku dapat Cuma 6 (enam) pak, apa tidak curang itu”. Ku jelaskan bahwa, seingat aku nilainya tidak sedemikian kecilnya, masalk anak IPA nilai fisikanya cuman enam, selorohku. Bapak tak percaya coba raportmu dibawa besok, dan Pak Guru akan membawa arsip nilai yang dikirimkan ke wali kelas, janjiku. “Oke pak, besok Dewi bawa” katanya, Oke besok kita keremuan. Karena Sabtu besoknya kami masih ketemu karena dalam seminggu dua kali pertemuan Jumat dan Sabtu saja.
Sabtu siang, seperti biasa seperti ‘Oemar Bakri’ sekitar pk 1330 aku sudah sampai di sekolah. Dan aku langsung mengajar seperti biasa, sampai waktu istirahat pertama, aku duduk di ruang TU, dan Dewi bersama seorang temannya menghampiriku dengan membawa buku rapornya, dengan ‘gagah’ nya Dewi menunjukkan kepadaku nilainya, ini pak katanya. Aku pun tak mau melihat buku raportnya, karena aku tahu nilai yang telah kusetor nilainya delapan, dua point diatas yang tertulis. Kutanyakan siapa wali kelasmu, dia Jawab Pak Ismu. Ohh kataku, nilai kamu ini salah, ne lihat arsip bapak kamu dapat nilai berapa kataku. Nanti bapak selesaikan dengan wali kelasmu, mudah-mudahan beliau ada kataku. Aku pinjam buku rapotnya, dan mereka berdua berlalu kembali bergabung kepada teman-temannya, seakan tidak terjadi apa-apa,
Aku dekati wali kelasnya pak Ismu, yang sedang berbincang di ruang guru. Aku ceritakan masalahnya dan beliau kaget, Kutunjukkan arsip nilaiku, dan beliaupun ke mejanya membuka arsip kelas, dan melihatnya. Terus minta maaf, setelah menggati angka di raportnya Dewi, serta memarapnya, Ku bawa rapotnya dan kusimpan di mejaku.
Aku melanjutkan mengajar di kelasnya Dewi, seperti biasa seakan tak terjadi apa-apa, demikian juga Dewi tidak menunjukkan ketemannya ada permasalahan denganku. Dia anak yang sangat cerdas dan pinter menyembunyikan sesuatu. Tak terasa sudah dua jam aku mengajar, dan bel istirahat kedua sudah berbunyi. Anak-anakpun kembali istirahat setelah aku pamit, ku bilang kemereka Dewi kamu ikut bapak ke ruang guru, baru teman-temanya pada kaget.
Di ruang TU yang tidak begitu rame, kuserahkan buku rapotnya dan aku jelaskan bahwa itu hanya kesalahan lihat Pak Wali Kelas, dengan nilai yang di bawahnya, sehingga masuk ke namanya kataku menutupi kesalahan kolega. Tapi ‘wik’ kutanyakan kepadanya, Apa kamu punya masalah dengan pak Ismu, tanyaku, karena aku tahu Pak Ismu masih bujangan sepertiku, walau umur kami munkin beda lebih dari lima belasan tahun.
Dewi Shinta melengos menjawabnya. Bapak pura-pura tak tahu saja, anak sekelas juga tahu pak. Beliau menaksir aku katanya. Woww naksir kami hahahaha, mau saja kataku bercanda. Bapak bisa saja jawabnya, beliau seumuran mamaku pak, empat puluhan katanya. Rupanya ada affair antara Dewi muridku dengan guru wali nya.
Menurut Dewi, dia tak mau meladeni keinginan gurunya, kalau cuman membalas dengan senyuman sih biasa pak, namanua juga murid dengan gurunya. Hehehehe akhirnya aku tahu, karena seperti dugaanku semula. Kalau tiada mengada, tak akan tempoa bersarang rendah. Kalau tidak ada apa-apanya tidak mungkin nilai salah memasukkannya. Aku salami Dewi, aku minta maaf karena telah membuat dia berburuk sangka padaku, dan sudah mau berterus terang masalahnya, sehingga cepat terselesaikan. Dia kembali kekelas membawa buku raportnya, dan akupun bergabung dengan guru-guru lainnya di ruang guru seakan tidak terjadi apa-apa.
Rupanya dalam hal ini masalah asmara antara guru dan murid, dapat menjadi runyam, dan celakanya merugikan sang murid. Demikian polosnya Dewi muridku dia menolak tapi tetap biasa dengan guru yang menaksirnya. Kalau dia mau berpura-pura mau, mungkin saja bisa terjadi sebaliknya, nilai dia akan menjadi fantastic semuanya. Karena dalam kasus ini Wali Kelas tidak menunjukkan kesalahannya, dia enak saja dengan mudahnya merubah nilai murid dan memarafnbya. Kasihan sebuah dokumen sebagai laporan kemajuan siswa, ada coretannya. Seharusnya beliau malu dengan perbuatannya.
Ketika sesi terakhir berlangsung setelah jam istirahat kedua, Pak Ismu menahanku untuk bertahan dulu di ruang dosen, dan pak Ismu memanggil Parman untuk memanggilkan Dewi. Kami akhirnya duduk bertiga di ruang guru, Aku, Dewi dan Pak Ismu. Pak Ismu menjelaskan ke Dewi bahwa kesalahan penulisan nilai sebagai suatu kesalahan dirinya, bukan kesalahan aku, dan beliau minta maaf ke Dewi dan Aku. Kami berangkulan sesame guru, dan Dewi pun bersalaman dengan Pak Ismu dan meminta maaf kepadaku serta menyalami aku.
Aku berseloroh, akh masalah asmara memang rumit, itu soal rasa, tidak memandang umur, dia dapat tumbuh pada mahluk berlawanan jenis, sering membuat mabok yang mengalaminya, seperti Pak Ismu ini. Beliau pun tertawa… Hahahaha benar kamu pak, masalah asmara memang runyam, sekali lagi kami rangkulan, beliau berbisik tolong jangan ada yang tahu selain kita bertiga, saya malu pak,. Katanya.
Nah akupun dapat bernafas lega, karena tidak ada muridku yang berprasangka macam-macam padaku, masalah nilanya Dewi Shinta selesai. Selamat Sore kataku di kelas terakhir sore itu, selamat bermalam minggu sampai ketemu minggu depan. Selamat Sore, dan terima kasih Pak Guru, jawab mereka.
===
Puri Gading, akhir Juli 2016